Showing posts with label Riwayat. Show all posts
Showing posts with label Riwayat. Show all posts

Monday, July 30, 2018

ASAL - USUL & RIWAYAT GENG MOTOR



Bertubuh besar, bertato, dibalut seragam jaket kulit tanpa lengan, kacamata hitam, kalau tak plontos pasti gondrong. Bukan anak muda, tapi orangtua bangkotan berwajah sangar. Tunggangannya kuda besi Harley Davidson yang knalpotnya memekakkan telinga. Itulah gerombolan geng motor Hells Angels yang paling berkuasa di dunia.

Cam Stokes, penulis The Devils Are Here, novel tentang gang motor di New Zealand, menyebut asal-usul geng motor dimulai pada akhir Perang Dunia II ketika beberapa mantan tentara Amerika Serikat merasa bosan. Sejumlah kecil dari mereka membentuk geng motor dan menuju ke jalan raya dengan menunggangi sepeda motor bertenaga tinggi untuk mencari kegembiraan dan petualangan.

“Di dunia, ada tiga geng motor paling utama: Hells Angels, Bandidos, dan Outlaws,” tulis Cam Stokes dalam situsnya gangscene.co.nz.

Dalam situswebnya, anggota Hells Angels Motorcycle Club (HAMC) Charleston, AS, bernama Stew menulis bahwa keterkaitan HAMC dengan Grup Hell’s Angels Bomber B-17, yang terlibat dalam Perang Dunia II, hanyalah mitos. Dan mitos itu disebarluaskan oleh para penulis. “Mereka menyelaraskan HAMC dengan mantan tentara yang kembali dari perang di mana kegembiraan dan petualangan menjadi gaya hidup mereka,” tulis Stew, “Lineage Clarification,” dalam hells-angels.com. Para pendiri HAMC hanya menjadikannya sebagai inspirasi bagi pemberian nama HAMC, pilihan warna (merah dan putih), dan lencana.

Tapi kelompok itu memang terbentuk pasca-Perang Dunia II. Saat itu, tulis Hunter S. Thomson dalam “The Motorcycle Gangs,” yang dimuat The Nation, 2 Maret 2005, California menjadi tempat yang aneh. Orang-orang liar, yang mengendarai sepeda motor, bikin onar dan bising di jalanan. Ketika berhenti di satu tempat, mereka mabuk-mabukan dan membuat suasananya seperti neraka.

Puncak dari kegarangan mereka, tulis Cam Stokes, terjadi selama akhir pekan pada 4 Juli 1947. Asosiasi Motor America (AMA) menggelar balapan motor di Hollister, California. Para pengendara motor dari beberapa geng motor yang hadir malah balapan di jalan utama serta menimbulkan kekerasan dan gangguan. Polisi setempat kalah jumlah dan terjadilah kerusuhan. Terjadilah insiden yang kemudian dikenal dengan Riot Hollistar (Kerusuhan Hollister). Pada 1953, Marlon Brando dan Lee Marvin membintangi film The One Wild yang didasarkan pada peristiwa itu.

“Film ini memiliki efek besar pada ribuan anak muda penggemar sepeda motor di California,” tulis Thomson.

Tapi peristiwa itu justru menyatukan mereka. HAMC dibentuk pada 17 Maret 1948 di San Bernardino, California. Dengan cepat, sejumlah cabang berdiri di sejumlah wilayah dan negara. Saat ini, Hells Angels memiliki 3.000-3.500 anggota yang tersebar di 260 bagian di seluruh dunia. Mereka memiliki cabang di 33 negara.

Paling Ditakuti

Bandidos dibentuk di Houston, Texas, pada 4 Maret 1966 oleh Don Chambers. Geng ini memiliki cabang di sejumlah negara. Sementara Outlaws dibentuk pada 1959, namun mereka menelusuri asal-muasalnya sampai tahun 1935. Outlaws MC kadang-kadang dikenal sebagai AOA (American Association Outlaws). Anggotanya biasa memakai lencana AOA di bagian depan rompi mereka. Outlaws juga memiliki cabang di sejumlah negara.

Bandidos dan Outlaws umumnya bisa baikan satu sama lain. Keduanya rival bebuyutan Hells Angels.

Dari ketiganya, Hells Angels paling ditakuti. Mereka tak segan melakukan tindakan kriminal. Mick Jagger, misalnya, pernah jadi sasaran pembunuhan mereka. Ihwalnya, Jagger emoh memakai jasa pengamanan Hells Angels dalam konser Rolling Stones. Hells Angels marah atas penolakan itu. Mereka lantas berupaya membunuh Jagger di tempat peristirahatannya di Long Island, New York. Menggunakan perahu, mereka beramai-ramai menuju ke sana. Beruntung, badai datang dan membalikkan perahu yang mereka tumpangi.

Ini satu dari sekian banyak catatan kriminal Hells Angels.

“Hells Angels adalah geng motor terlarang di Amerika Serikat. Kebanyakan anggota geng adalah para kriminal yang biasanya menjadi pedagang narkotik, pelaku pemerasan, serta pelaku kriminal lainnya,” tulis Tempo, 16 September 2008.

Kriminalitas bukan milik Hell Angels semata. Bandidos, ketika hendak membuka cabang di Indonesia, pernah mendapat tentangan dari dua klub motor gede: Chopper Baztard dan Harley Davidson Club Indonesia. Mereka menganggap kehadiran Bandidos akan membahayakan negara. Soalnya, Bandidos memiliki catatan kriminal seperti kejahatan di jalanan, penyelundupan senjata api dan minuman keras, hingga perdagangan narkoba. Tapi Bandidos tetap saja berdiri di Bali dan Bandung.

Bandidos satu-satu geng motor impor yang punya cabang di Indonesia. Kiprahnya memang nyaris tak terdengar. Kegarangannya justru kalah pamor dari geng-geng motor lokal, yang kerap kali bertindak anarkis. Tentu saja dengan skala lebih kecil, sekadar ugal-ugalan di jalan dan berantem –ibaratnya, penjahat kelas teri.

Geng Motor di Indonesia

Sejak akhir 1980-an, geng motor bermunculan di kota-kota besar di Indonesia, bahkan kemudian merambah hingga pelosok kampung. Maklum, motor bukan lagi barang mewah. Dengan mudah, karena uang muka dan cicilan murah, kita bisa memilikinya. Para pemiliknya lalu membentuk klub motor; biasanya berdasarkan kesamaan merek, tak lagi berdasarkan pabrikannya. Mereka membangun solidaritas melalui touring atau kegiatan lainnya.

Sialnya, beberapa dari mereka kemudian jadi geng motor yang suka bikin onar. Geng motor yang eksis, dan tak jarang anarkis, umumnya berada di Jawa Barat. Empat terbesar adalah M2R atau Moonraker, Grab on Road (GBR), Brigade Seven (Brigez), dan Xlat To Coitus (XTC).

Moonraker merupakan geng motor paling lawas, didirikan 27 Oktober 1978. Pemilik salam wanieun(berani) memiliki anggota hingga ribuan orang, yang tersebar di Jawa Barat. Mayoritas anggotanya anak kolong (anak tentara). Awalnya klub ini terbentuk sebagai ajang silaturahmi para biker di Kota Bandung. Tapi sejak 1980-an, kelompok ini mulai disegani karena suka ngetrek di jalanan dan terlibat tawuran. Beberapa anggota geng bahkan membawa beceng (senjata api). Insiden kekerasan pun kerapkali terjadi.

Pemerintah daerah dan aparat keamanan setempat dibuat pening oleh ulah mereka. Perang pun dilancarkan. Dari menyeret mereka dengan hukuman pidana hingga fatwa Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bandung yang menyatakan haram masuk geng motor. Bagaimanapun, aktivitas mereka bukan lagi sekadar kenakalan remaja.


historia.id

Tuesday, July 24, 2018

ASAL - USUL ORANG PERTAMA YG MENUTUP KA'BAH DENGAN KISWAH



Kiswah merupakan sebutan kain penutup berwarna hitam yang tergantung dari atap hingga kaki Ka'bah. Awal mulanya, Ka'bah yang dibangun Nabi Ibrahim AS memang tidak memiliki penutup. Mimpi pria asal Yaman ribuan tahun lalu menjadikan Ka'bah seperti yang terlihat hingga saat ini.

Siapa pria itu? Ia adalah orag Tubba bernama Abu Karb As'ad, Raja Dinasti Himyariah, dari Yaman. Dalam riwayat Al-Umari yang dikutip dari buku Sejarah Ka'bah tulisan Prof Dr Ali Husni al-Kharbuthli, ketika itu Abu Karb bermimpi ia menutup Ka'bah dengan kain.

Maka, saat ia melintas di depan K'bah sekembalinya ia dari peperangan di Yatsrib pada tahun 220 sebelum Hijriah, ia merealisasikan mimpinya. Ia memasang kain penutup Ka'bah dan membuat kunc untuk pintunya.

Saat itu yang dipakai untuk menutup Baitullah berupa kulit dan kain kasar. Namun ia sempat khawatir kulit dan kain itu akan membebani Ka'bah. Ia pun menggantinya dengan almala wa al-washa'il, sejenis kain yang dijahit di Yaman.

Para penerusnya lalu mengikuti dan melakukan hal serupa, mereka menutup Ka'bah dengan kulit da qathabi, sejenis kain dari Mesir, yang kuat dan tahan lama. Setelahnya orang-orang mulai memberi hadiah ke Ka'bah berupa berbagai jenis kain. Sebagian kain-kain itu dipakai untuk menutup Ka'bah. Jika kain lama usang, maka yang baru akan diletakkan di atasnya.

Namun di masa Qushay bin Kilab, ia memungut dari setiap suku sejumlah uang untuk membeli kiswah. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh anak-anaknya.

Al-Umari meriwayatkan Khalid bin Ja'far bin Kilab sebagai orang pertama yang menyelimuti Ka'bah dengan kain berbahan sutra. Ada pula Natilah binti Janab, ibunda Abbas bin Abdul Muthalib. Saat itu Abbas tersesat dan ibunya bernazar jika ia menemukan anaknya ia akan menyelimuti Ka'bah dengan sutra.


Sumber : Viva Media Baru

Thursday, July 5, 2018

RIWAYAT & ASAL - USUL DEADPOOL


Super Hero bercostum merah ketat Telah kembali Setelah sukses dengan film perdana Deadpool (2016) yang masih dalam lebensraum-nya semesta Marvel, Ryan Reynolds kembali memerankan pahlawan konyol tapi mematikan dalam Deadpool 2.

Sekuel kali ini digarap sutradara David Leitch (Deadpool 2016 disutradari Tim Miller), menampilkan petualangan lanjutan mutan kocak yang punya kelebihan bisa menyembuhkan diri dari berbagai luka. Di film yang rilis perdana 10 Mei 2018 ini, nyaris 119 menit durasinya berisi beragam adegan kocak yang akan membawa penonton terpingkal-pingkal  sekaligus terpukau dengan akhir cerita nan mind-blowing yang mungkin melebihi Avengers: Infinity War.

Jalannya cerita terbilang sederhana, namun tak mudah ditebak. Fokusnya ada pada sang Deadpool yang –ber-alter ego Wade Wilson– ngototmenyelamatkan seorang bocah mutan lain, Firefist/Russell Collins (Julian Dennison), jadi target pembunuhan mutan lain yang datang dari masa depan, Cable (Josh Brolin). Firefist ternyata memporak-porandakan dunia sebagai penebusan dendam gara-gara di masa kecil acap disiksa di rumah rehabilitasi mutan yatim piatu.

Cable kembali ke masa lalu demi melenyapkan Firefist dengan harapan anak-istrinya bisa hidup kembali jika mencegah Firefist tumbuh dewasa dan jadi bencana di masa depan, di mana salah satu korbannya adalah keluarga Cable. Sementara, Deadpool membentuk tim X-Force yang berisi sejumlah mutan lain seperti Domino (Zazie Beetz), Shatterstar (Lewis Tan), Zeitgeist (Bill Skarsgard), Vanisher (Brad Pitt), Yukio (Shioli Kutsuna), Negasonic Teenage Warhead (Brianna Hildebrand), dan Colossus (Stefan Kapicic). Nama kedua terakhir ‘cabutan’ dari X-Men.

Selain sekuel kali ini lebih kocak, nyeleneh dan konyol, Rhett Reese, Paul Wernick, dan Ryan Reynolds yang juga tergabung di tim penulis skenario, tak segan-segan menyelipkan beberapa scene hingga dialog yang nyerempet film-film lain macam X-Men, karakter Wolverine (Hugh Jackman), hingga menyindir karakter Green Lanter dari DC Comics yang notabene pernah pula diperankan Reynolds pada 2011.

Soal efek CGI (Computer-Generated Imagery), Deadpool 2 cukup halus dan keren. Terlebih saat menampilkan tokoh Colossus yang sepenuhnya tubuhnya chrome. Maka, khusus adegan-adegan yang menampilkan Colossus, diambil beberapa kali lebih banyak untuk menghadirkan efek pantulan cahaya mengingat chrome selalu memantulkan cahaya.

Efek suara juga sangat digdaya, bisa membawa suasana tegang saat Deadpool terlibat pertarungan. Sebagaimana film Deadpool pertama, sekuel ini juga banyak diramaikan sisipan lagu-lagu lawas macam All Out of Love (Air Supply), Papa Can You Hear Me? (Barbra Streisand), If I Could Turn Back Time (Cher) dan lagu-lagu genre dubstep.

“Setelah ini Anda pasti akan mencari tentang Dubstep di Google,” canda Deadpool di suatu adegan, seolah berinteraksi dengan penontonnya. Satu hal yang perlu diperhatikan, film ini meski menampilkan pahlawan super, bukan berarti bisa dinikmati semua kalangan, terutama anak-anak, mengingat banyaknya adegan kekerasan nan berdarah-darah.

Lahirnya Deadpool Berkalang Kontroversi

Deadpool 2 merupakan seri ke-11 dari “franchise” X-Men keluaran Marvel Entertainment. Karakter Deadpool sebelumnya muncul sebagai karakter ekstra di X-Men Origins: Wolverine (2009) dan X-Men: Days of Future Past (2014). Deadpool juga muncul di beragam komik. Eksistensi Deadpool pertama kali muncul di komik Marvel, The New Mutants Nomor 98 pada 10 Februari 1991.


Karakter Deadpool lahir dari karya ilustrator komik Rob Liefeld dan penulis komik Fabian Nicieza. Awalnya, Deadpool diciptakan sebagai super-villainalias penjahat super. Dia seorang pembunuh bayaran dengan beragam skill bertarung dengan senjata tajam maupun senjata api.

Kostumnya dibuat berwarna merah darah berkonsep tactical untuk menunjang sang karakter menyimpan sejumlah senjatanya. “Kenapa merah? Agar musuh-musuh tak bisa melihat saya berdarah,” tutur Wade Wilson dalam sebuah dialog di Deadpool 2016. Namun dari penciptaan itu, banyak kontroversi muncul lantaran karakternya dianggap menjiplak dua karakter lain: Spider-Man (Marvel) dan Deathstroke (DC Comics).


Liefeld akhirnya memang mengakui bahwa Deadpool terinspirasi dari karakter-karakter yang lebih dulu muncul itu. Saat Liefeld sedang melanjutkan seri komik The New Mutants, dia terinspirasi menciptakan satu karakter tambahan kala sahabatnya, Todd McFarlane, juga sedang menyelesaikan salah satu seri komik Spider-Man.

“Faktanya, Spider-Man tak hanya jadi pengaruh dan inspirasi sebagai pahlawan berkostum ketat dan bertopeng. Liefeld berniat membuat Deadpool sebagai versi jahatnya Spider-Man,” ungkap Brian Cronin dalam 100 Things X-Men Fans Should Know & Do Before They Die.

Tentu saja Liefeld dan Nicieza tak membuat Deadpool punya kemampuan serupa Spider-Man atau mungkin karakter Wolverine untuk dimasukkan ke seri komik The New Mutants. “Wolverine dan Spider-Man adalah dua karakter yang jadi saingan saya setiap saat. Saya harus membuat Spider-Man dan Wolverine (versi) saya sendiri,” kenang Liefeld kepada Forbes, 12 Februari 2016.

Mereka memilih kemampuan yang “dicontek” dari Deathstroke, salah satu karakter DC Comics – saingan Marvel, yang diidolakan Liefeld. Ini lantas jadi kontroversi kedua yang mengiringi kelahiran Deadpool. Kemahiran Deadpool menggunakan senjata tajam dan pistol, hingga beberapa detail kostumnya, terinspirasi Deathstroke yang kemampuan andalannya jauh berbeda dari Spider-Man dan Wolverine.

“Deadpool jelas-jelas menyontek karakter penjahat DC bernama Deathstroke. Tak hanya figurnya yang mirip, nama (alter ego) mereka pun nyaris serupa – nama asli Deathstroke adalah Slade Wilson dan nama asli Deadpool adalah Wade Wilson,” tulis James Egan dalam 1000 Facts about Superheroes Volume 2.


Soal ini, Liefeld tak terima tudingan bahwa dia menyontek DC. Menurutnya, Deadpool hanya terinspirasi DC, bukan menjiplak. “Saya suka Deathstroke. Saya pun mengoleksi banyak seri komiknya. Memang perbedaan keduanya tak terlihat begitu jelas. Tapi seingat saya, (kostum) Deathstroke berwarna biru dan oranye, sementara Deadpool merah dan hitam. Lagipula Deathstroke aslinya orang tua, sementara Deadpool masih muda,” tandas Liefeld kepada Youtuber Nerdy Pop, dikutip screenrant.com pada 2 September 2016.

historia.id

Sunday, March 4, 2018

Sejarah/Riwayat Singkat Piala Oscar Di Academy Award



Piala Oscar adalah piala yang diberikan pada ajang Academy Awards, sebuah acara pemberian penghargaan film paling prestisius serta paling populer di dunia. Piala Academy Award dinamai Oscar ketika seorang pustakawan Academy Margaret Herrick melihatnya di sebuah meja dan mengatakan, "kelihatan persis seperti pamanku Oscar!". Nama tersebut tetap melekat dan kini digunakan seumum nama Academy Award sendiri, bahkan oleh pihak Academy sendiri. Bahkan situs web Academy menggunakan nama oscars.org dan situs web Penghargaan Academy Award adalah www.oscars.com


Academy Award bermula di Hollywood sekitar tahun 1927 dan merupakan suatu acara pemberian penghargaan atas kerja keras anggota Academy Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS), yaitu asosiasi professional pekerja film di Amerika. Kelompok ini memerlukan semacam piala untuk acara pemberian hadiah saat makan malam. Diceritakan, pada saat itulah istilah Oscar muncul. Seorang pembuat patung dari Los Angeles melihat sebuah patung ksatria yang berdiri di atas gulungan film dengan pedang di tangannya. Patung ksatria pertama kali dibuat menggunakan perunggu. Dan sekarang Oscar terbuat dari logam campuran, britanium, dan dilapisi emas dengan tinggi 34,3 cm dan beratnya 3,8 kg.

Alasan mengapa Oscar yang dipakai sebagai nama dari piala penghargaan tersebut masih belum jelas. Salah satu cerita menyebutkan bahwa patung ksatria terlihat mirip dengan seorang pustakawan yang biasa mereka panggil Paman Oscar. Berdasarkan kemiripan itu, para anggota Academy mulai menyebut Oscar kecil sebagai nama patung ksatria itu. Pada tahun keenam presentasi, kolumnis merujuk pada apa yang para staf sebut sebagai Academy Award of Meritas menjadi Oscar. Staf Academy lalu memakai nama kecil ini pada tahun 1939.

Semua yang dimulai pada saat makan malam yang dihadiri 270 anggota tersebut berubah menjadi suatu tradisi yang mendunia yang tak kurang dari 6000 anggota academy menghadirinya.

sumber:http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2010/03/piala-oscar-dan-sejarahnya.html

Monday, February 5, 2018

Sejarah Keberadaan Bendungan Katulampa



Bendungan Katulampa terletak di Kelurahan Katulampa, Kota Bogor. Bendungan ini akan menjadi pusat perhatian masyarakat Jakarta terutama saat musim hujan tiba. Berikut adalah Sejarah Bendungan Katulampa. 

Dalam sejarahnya, bendungan Katulampa mulai beroperasi sejak 1911, namun perencanaan pembangunannya sudah dimulai sejak 1889 setelah banjir besar melanda sebagian wilayah Jakarta di tahun 1872. Bahkan konon banjir tersebut juga melanda kawasan elit Harmoni.

“Het was hoogst noodig dat deze permanente dam tot stand kwam, nu kan Weltevreden geregeld spuiwater krijgen en de kans op groote overstroomingen te Batavia is vrijwel uitgesloten. Adalah sangat perlu bendungan permanen ini direalisasikan, kini Weltevreden (Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup,” (Bataviaasch Nieuwsblad, 12 Oktober 1912).

Bendungan Katulampa dirancang oleh Ir. Hendrik van Breen, seorang arsitek yang juga pejabat Ingenieur der Gouvernements Waterleidingen (semacam PDAM di Batavia). Bendungan ini memiliki panjang total 74 m, dengan 5 inlaatsluis (pintu untuk mengalirkan arus ke kawasan di bawah), 3 spuisluis (pintu untuk menahan air, jika volume air berlebihan dan mengancam kawasan bawah), dengan lebar masing-masing pintu 4 m. Pembangunannya sendiri dikabarkan telah menelan biaya 80.000 Gulden yang dimulai 16 April 1911 dan diresmikan pada 11 Oktober oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu, Alexander Willem Frederick Idenburg. 

Saking pentingnya bendungan ini, peresmiannya pun dihadiri oleh seluruh pejabat di pemerintahan Hindia-Belanda termasuk Gubernur Jenderal AWF Idenburg, Kepala Insinyur Negara Roos, Ir Van Dissel, Ir Hendrik van Breen, pengawas Leuwiliang dan Bogor, anggota dewan Ebbink, admnistrator D.Veenstra (Ciloear), Mulder (Kedoeng Halang), Valete (Pondok Gedeh), Sol (Ciomas), Residen Batavia, Asisten Residen (setingkat wedana) Bogor, serta para patih dari Bogor, Batavia, dan Meester Cornelis (Jatinegara). Peresmian itu bahkan dimeriahkan dengan gamelan dan tari-tarian serta upacara selamatan dengan mengubur kepala kerbau. 

Selain untuk memantau debit air Ciliwung, bendungan ini juga difungsikan sebagai sarana irigrasi yang mengairi lahan persawahan seluas 5.000 hektar yang dahulu banyak terdapat di sisi kiri dan kanan bendungan. Memasuki musim penghujan, bendungan ini bisa menampung air hingga debit 630 ribu liter air per detiknya, dan pernah mencapai ketinggian hingga 250 cm atau 2,5 meter pada tahun 1996,  2002, 2007, dan 2010. 

Dari Katulampa, air dari Sungai Ciliwung akan dialirkan melalui pintu air ke Kali Baru Timur (Oosterslokkan), yaitu saluran irigasi yang dibangun pada abad ke-18 atas prakarsa Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Saluran air ini melintasi Weltevreden (Menteng). Pembuatan kanal ini sebelumnya ditujukan untuk lalu lintas pelayaran ke daerah pedalaman ( ke arah Bogor).  Ide tentang lalu lintas sungai ini tidak hanya diprakarsai oleh Gubernur Jenderal van Imhoff saja, tapi juga Gubernur Jenderal Daendels telah memiliki rencana untuk menggali kanal untuk pelayaran ke dalam. 

Dari timur Bogor, sungai buatan ini mengalir sampai ke Jakarta melalui sisi Jalan Raya Bogor yang berlanjut sampai Cimanggis, Depok, Cilangkap, sebelum akhirnya bermuara di daerah Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Aliran kanal ini di masa lalu pernah digunakan untuk mengairi lahan persawahan yang dahulu terbentang antara Bogor - Jakarta.

Sampai dengan awal tahun 1990, lahan persawahan yang terkena aliran irigasi ini di Bogor dan Jakarta masih cukup luas, yaitu sekitar 2.411 hektar. Namun untuk saat ini, lahan persawahan tersebut seolah tidak bersisa, sebagian berubah menjadi kawasan pemukiman. Kalau pun ada, lahannya hanya sekitar 72 hektar dan itu pun tersebar di sebagian wilayah Bogor dan Cibinong. Sejak itu, fungsi irigasi dari Bendungan Katulampa tersebut menjadi tidak maksimal lantaran banyak persawaha yang sudah menghilang di Bogor dan Jakarta. 

Bendungan Katulampa hanya berfungsi untuk memantau ketinggian air saja dan tidak bisa digunakan untuk mencegah atau mengurangi banjir yang biasa datang di musim penghujan. Bendungan ini memang tidak memiliki kemampuan ntuk menahan maupun membuka-tutup pintu air. 

Ketinggian air yang melewati bendungan Katulampa akan dicatat dan dikirim ke bendungan lain yang ada di kawasan Depok dan Pintu Air Manggarai. Dari catatan yang dikirimkan itu, petugas bisa memperkirakan waktu kedatangan banjir kiriman itu ke Jakarta sehingga masyarakat yang terdampak bisa melakukan antisipasi sedini mungkin. 


Aries Munandi

Sunday, January 28, 2018

Riwayat Istilah Oplet



Penikmat TV swasta dekade 1990an sering melihat oplet yang disupiri Mandra di sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan. Padahal di dekade 1990an saja kendaraan itu sudah uzur umurnya. 

Dalam media populer, oplet tak hanya muncul dalam sinetron besutan anak-anak Sukarno M. Noor itu saja. Iwan Fals sudah menggambarkannya di pertengahan dekade 1980an dalam sebuah lagu. “Berjalan tersendat/ di antara sedan-sedan licin mengkilat/ Dengan warna pucat/ dan badan penuh cacat sedikit berkarat,” tulis Iwan (baca: Cerita tentang Aktor Serba Bisa Sukarno M. Noor).  

Dalam lagu yang muncul dalam album Barang Antik (1984) itu, Iwan Fals menggambarkan oplet butut sedang mencoba bertahan dari gerusan zaman di sekitar ibukota Jakarta. "Sainganmu mikrolet, bajaj dan bis kota/ Kini kau tersingkirkan oleh mereka," ujar Iwan Fals. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ia diartikan sebagai “mobil sedan yang susunan tempat duduknya diubah dan disesuaikan sebagai kendaraan umum yang ditambangkan”. KBBI menuliskan "opelet" sebagai bentuk baku, bukan "oplet" (baca juga: Ejaan Resmi Bukanlah Batas Suci). 

Ada yang menjadikan oplet sebagai sebutan kendaraan angkutan umum ukuran kecil, macam mikrolet. Namun, ada pula yang menjadikan oplet sebutan hanya untuk kendaraan lawas seperti yang tampil dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan saja. 

Hal ini senada dengan uraian John U. Wolf, dalam Formal Indonesian (1980). Ia mencatat: “Umumnya oplet terdiri dari mobil-mobil tua yang umurnya dari sudut teknologi telah uzur, bahkan menurut hukum perusahaan seharusnya telah puluhan tahun masuk kubur.” 

Seperti potongan lagu Iwan Fals tadi, oplet makin jadi barang antik yang bisa jadi mahal harganya di kalangan pecinta barang antik. Jenama (merek) oplet di masa lalu antara lain Austin, Morris juga Opel kecil. Apa pun jenamanya, semuanya disebut oplet. 

Seperti di beberapa daerah orang menganggap sepeda motor Yamaha, Suzuki atau lainnya sebagai honda — padahal Honda hanyalah salah satu jenama saja. Ini juga berlaku untuk Odol dan Sanyo, sebuah jenama yang lantas menjadi generik.

Ketika baru keluar dari pabrik, sebelum dijadikan angkutan umum, oplet sebenarnya diperuntukkan bagi 4-5 penumpang saja. Berkat karoseri alakadarnya — dengan seng dan kayu — maka 10 orang pun bisa dimuat. 

Tak hanya merek Austin, Morris atau Opel saja yang dijadikan oplet. Setelah Perang Dunia II, bahkan mobil Jeep sisa perang pun dimodifikasi dan kemudian dikenal dengan sebutan oplet juga. 

Di kota Padang, menurut Mardanus Safwan dalam Sejarah Kota Padang (1987), kendaran itu disebut sebagai oplet yang mematikan angkutan umum macam bis ukuran sedang. Di kota Balikpapan, kata orang-orang tua, Jeep yang dimodifikasi dengan seng dan papan itu disebut: taksi jamban (baca: Walikota Padang Gugur di Medan Juang). 

Ada beberapa pendapat soal asal kata "oplet". Menurut Rizal Khadafi dalam Jakarta Transportation Guide (2009), oplet berasal dari kata "autolet". Namun, menurut Transport and Communications Bulletin for Asia and the Pacific 53 (1979), istilah "oplet" berasal dari Opel yang sangat populer di Indonesia sebelum Perang Dunia II. 

Menurut Soe Potter, dalam An Indonesian Alphabet(2009), Opel cukup populer lalu jadi muasal kata oplet. Namun, pada dekade 1930an, sudah ada nama produk Opel bernama Opelette. "Lette" sendiri bisa diartikan "kecil". Jadi "Opelette" bisa diartikan "Opel kecil". 

Hal itu sesuai dengan data pembanding lainnya. Misalnya, buku General Motors in the 20th Century(2000) menyebut di tahun 1932 General Motor Java memproduksi mobil Opel bermesin 2.0 liter yang mampu memuat 7 penumpang dengan nama Opelette. 

Nama Opelette sendiri, menurut Nieuwshier van Dondergad (12/11/1953), adalah nama yang diberikan oleh Mr. J. Th. GC van Buuren, Sales Manager General Motors sejak 1928. “Kini kata oplet adalah nama yang umum digunakan untuk bus kecil,” tulis koran Belanda di tahun 1953 itu.

Penyalur Opelette adalah Lindeteves Stokvis. Mobil ini, dalam iklannya, diklaim buatan General Motor Amerika. Iklan mengklaim mobil tersebut dirakit di General Motor Tanjung Priok. Dalam iklan berbahasa Jawa, mobil ini disebut: "mesinnya 4 silinder, sasisnya kuat, bensinnya irit." 

Mobil ini bisa dibeli di Lindeteves yang punya bagian mobil di Batavia, Semarang, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, Palembang juga Padang. Memasuki zaman kemerdekaan, Mobil-mobil ini banyak yang jadi mobil angkutan umum berpenumpang, baik dalam kota maupun pinggiran. 

Setelah oplet-oplet makin tersisih, Opel sendiri masih berproduksi. Beberapa produknya masih bisa ditemui di jalan-jalan di Indonesia.

Opel merupakan produk Jerman. Adam Opel (1837-1895) mendirikannya pada 21 Januari 1862 di Rüsselsheim, Jerman. Menurut situs resmi Opel, Opel awalnya memproduksi mesin jahit. Sempat juga membuat sepeda, belakangan lalu memproduksi mobil. 

Pada 1928, General Motors membeli 80 persen saham Opel. Kala Opelette dirilis, Opel ternyata sudah menjadi bagian General Motors. 

Mobil Opelette, yang dilafalkan jadi "oplet" oleh orang Indonesia belakangan, tentu masuk dalam berita juga iklan surat kabar. Salah satunya berita kecelakaan di De Indische Courant (18/06/1938). 

Surat kabar itu melaporkan sebuah oplet yang berjalah dari arah Mentikan, Mojokerto, ditabrak truk militer di Lapangan Darmo. Kecelakaan ini terjadi akibat, menurut koran itu, “kesalahannya si Tionghoa pengemudi opelet, yang tidak mau mengalah dengan kendaraan lain. Akibatnya enam penghuni opelet tersebut cedera. Seorang penumpang bahkan mengalami luka yang membuatnya dibawa ke rumah sakit.” 

Berita lain soal oplet datang juga dari kantor berita nasional, Antara (17/08/1961). Mereka memberitakan kenakalan sopir-sopir angkot. 

“Pada saat-saat kita memperingati dwi-windu (16 tahun) kemerdekaan (Indonesia), disinyalir ada supir-supir oplet yang nakal, tidak mau memuat penumpang secara biasa, tetapi hanya mau menarik setjara borongan,” tulis Antara di paragraf pembukanya. Itu semua dilakukan karena tarif borongan bisa jauh lebih tinggi dari tarif normal. 


Sumber : tirto.id

Saturday, December 16, 2017

Sejarah Organisasi Perjuangan Hamas & Faktanya



Hamas adalah organisasi radikal Muslim Palestina yang memiliki cabang politik dan militan. Dalam komunitas internasional, Hamas dikenal untuk kegiatan militan yang meliputi aksi terorisme seperti bom bunuh diri.

Akan tetapi, peran Hamas di Otoritas Palestina dan Wilayah Pendudukan sebenarnya jauh lebih kompleks.

Tujuan yang dinyatakan oleh Hamas adalah penghapusan Negara Israel, membuat banyak orang dan organisasi internasional mengklasifikasikan organisasi ini sebagai kelompok anti-Semit.

Kata “hamas” berarti “semangat” dalam bahasa Arab, dan juga merupakan singkatan dari Harakat al-Muqawama al-Islamiyyah atau “Gerakan Perlawanan Islam.”

Organisasi ini didirikan pada tahun 1987 sebagai cabang dari Ikhwanul Muslimin, sebuah organisasi Muslim Sunni yang berbasis di Mesir.

Pada tahun 2008, Hamas memiliki setidaknya 1.000 anggota aktif bersama dengan sejumlah besar pendukungnya, termasuk ekspatriat Palestina di seluruh dunia.

Dalam Wilayah Pendudukan, Hamas menjalankan sejumlah program sosial yang dirancang untuk mengambil hati penduduk Palestina seperti pendirian rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah.

Pendanaan untuk operasi Hamas terutama berasal dari ekspatriat Palestina di negara-negara kaya minyak Timur Tengah seperti Arab Saudi.

Klasifikasi Hamas sebagai organisasi teroris oleh Amerika Serikat, Jepang, Israel, Kanada dan Uni Eropa berarti bahwa Hamas tidak dapat mengakses beberapa dana bantuan internasional yang dirancang untuk membantu rakyat Palestina.

Hamas juga terlibat di bidang politik. Pada tahun 2006, Hamas berhasil mengalahkan partai Fatah dalam pemilu, sehingga mengambil alih pemerintahan di jalur Gaza.

Saat program sosial Hamas diterima baik oleh banyak kalangan, tindakan sayap militan banyak mengundang kecaman.

Dalam 15 tahun terakhir atau antara tahun 1993 dan 2008, Hamas bertanggung jawab atas kematian lebih dari 500 orang, banyak dari mereka adalah warga sipil tak berdosa yang tewas dalam bom bunuh diri dan serangan teroris lainnya.

Kelompok ini banyak disalahkan karena memperlambat proses perdamaian di Timur Tengah, yang memicu ketidakbersediaan Israel untuk bernegosiasi dengan organisasi teroris yang memiliki tujuan menghilangkan negara Israel.

Dukungan untuk Hamas di kalangan rakyat Palestina umumnya terbagi. Sebagian warga mendukung metode Hamas, percaya bahwa Hamas terlibat dalam jihad atau perang suci.

Di sisi lain, warga lainnya tidak setuju dengan taktik Hamas dan lebih memilih mencapai tujuan Negara Palestina dengan cara damai tanpa pertumpahan darah.

Thursday, December 7, 2017

Riwayat Singkat Penghargaan Ballon d'Or



Penghargaan Ballon d’Or adalah sebuah penghargaan sepak bola diberikan setiap tahun kepada pemain yang dianggap telah melakukan yang terbaik di musim sebelumnya. Penghargaan ini diberikan berdasarkan suara oleh pelatih dan kapten tim internasional, serta wartawan dari seluruh dunia.

Penghargaan ini dimulai pada tahun 2010 setelah penghargaan Ballon d’Or dan Pemain Terbaik Dunia FIFA pria digabungkan. Pemenang dari FIFA Ballon d’Or 2010 atau penganugerahan yang perdana adalah Lionel Messi yang kemudian berhasil untuk merebut kembali gelar dua tahun berikutnya. Setelah merger, penghargaan Pemain Terbaik Dunia FIFA menjadi penghargaan khusus wanita.

Seperti sudah disebutkan, penghargaan ini sebelumnya hanya bernama Ballon d’Or saja. Penghargaan ini digagas oleh penulis majalah France Football, Gabriel Hanot, yang meminta rekan-rekannya untuk memilih pemain terbaik di Eropa pada tahun 1956. Pemenang perdananya adalah Stanley Matthews dari Blackpool.

Awalnya, wartawan hanya bisa memilih pemain asal Eropa di klub-klub Eropa, yang berarti bahwa pemain seperti Diego Maradona (yang bermain di klub sepak bola Eropa, tetapi bukan berasal dari Eropa) dan Pelé (yang tidak bermain untuk klub Eropa juga tidak dari Eropa) tidak memenuhi syarat untuk diberi penghargaan.

Perubahan aturan pada tahun 1995 memungkinkan pemain non-Eropa memenuhi persyaratan untuk mendapatkan penghargaan jika mereka bermain untuk klub Eropa. Pemain non-Eropa pertama yang memenangkan penghargaan ini setelah perubahan peraturan adalah pemain A.C. Milan, George Weah pada tahun yang sama.

Pada tahun 2007, setiap pemain di dunia menjadi layak untuk dipilih dan terpilih, dan wartawan yang diizinkan untuk memilih juga meningkat; 96 wartawan dari seluruh dunia memilih lima pemain mereka, yang bertentangan dengan 52 jurnalis yang berbasis di Eropa pada tahun 2006.

Tiga pemain telah memenangkan penghargaan ini tiga kali: Johan Cruyff, Michel Platini, dan Marco van Basten. Platini adalah satu-satunya pemain yang memenangkan penghargaan tiga kali berturut-turut, ketika ia memenangkan penghargaan dari tahun 1983 hingga 1985. 

Ronaldo menjadi pemain Brasil pertama yang memenangkan penghargaan pada tahun 1997, setelah pemain non-Eropa memenuhi syarat. Dengan masing-masing tujuh penghargaan, pemain asal Belanda dan Jerman memenangkan Ballon d’Or yang paling banyak.

Klub Italia Juventus dan Milan memiliki pemain yang paling banyak menang; enam pemain telah memenangkan delapan penghargaan saat bermain untuk masing-masing tim. Penerima terakhir dari Ballon d’Or adalah Lionel Messi, pemain asal Argentina ketiga yang memenangkan penghargaan, tapi yang pertama sebagai warga negara Argentina.

Ballon d’Or dan penghargaan Pemain Terbaik Dunia FIFA untuk pemain pria digabungkan pada tahun 2010 dan pemain pria terbaik di dunia sejak saat itu telah dianugerahi FIFA Ballon d’Or setiap tahunnya. UEFA menciptakan Penghargaan Pemain Terbaik UEFA di Eropa pada tahun 2011, sehingga bisa menjaga prestise lama Ballon d’Or setelah bergabung untuk menciptakan FIFA Ballon d’Or.


Gilabola.com

Thursday, November 30, 2017

MENILIK RIWAYAT "LEGENDA KORUPSI" INDONESIA



Sosok Eddy Tansil adalah legenda sejarah korupsi Indonesia. Ia kabur dari penjara, ada yang mengatakan ia dihabisi untuk menutup jejak.

Seorang Tan Tjoe Hong alias Tan Tju Fuan alias Eddy Tansil bukan pejabat negara. Orang yang namanya kerap diplesetkan sebagai singkatan dari "ejakulasi dini tanpa hasil" ini adalah legenda pengusaha jahat. Di zaman Orde Baru, dia kaya dan berbahaya. 

Eddy Tansil sudah terbukti merugikan negara sebesar 1,3 triliun rupiah, tetapi ia berhasil kabur dari penjara di LP Cipinang. Dia kabur bukan ketika hendak diperiksa atau diadili, melainkan setelah berada di dalam tahanan. 

Tidak banyak catatan soal masa-lalu Eddy Tansil. Menurut Sam Setya Utama dalam Tokoh-tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia , Eddy Tansil lahir pada 1948 di Makassar. 

“Pada paspornya tertulis nama Tan Eddy Tansil alias Tan Tju Fuan, kelahiran Ujungpandang, 2 Februari 1934. Tapi semua koran mengutip: Eddy Tansil, terlahir Tan Tjoe Hong, 2 Februari 1953,” tulis Tempo(04/08/2003). 

Tahun 1970 ia mempunyai perusahaan becak, lalu sesudah becak dilarang, ia menjadi agen motor Kawasaki namun tidak bisa bersaing dengan Yamaha dan Honda.

Pada 1980an, Eddy terlibat usaha perakitan sepeda motor di Tambun, Bekasi. Nama usahanya adalah Tunas Bekasi Motor Company (TBMC). Perusahaan itu bergerak di bidang perakitan sepeda motor Binter dan Bajaj. Belakangan pabrik yang di Tambun, menurut Soebronto Laras dalam buku Soebronto Laras, Meretas Dunia Automotif Indonesia(2005:152), dimiliki Salim Group yang saat itu memiliki BCA. Binter sendiri adalah singkatan dari Bintang Terang. 

Selain bisnis motor, Eddy Tansil juga bisnis bir,Tahun 1983, dia mendirikan PT Rimba Subur Sejahtera yang memproduksi Becks Beer yang disebut Bir Kunci di Indonesia. Rekanannya adalah pensiunan jenderal bernama Koesno Achzan Jein. Bir itu tidak dijual di Indonesia dan dikirimkan bir produksinya ke Fujian, Tiongkok.

Bisnis bir itu berhasil menambah pundi-pundi uang Edy Tansil. Saking kuatnya pengaruh bir miliknya itu, ia bahkan sampai disebut Bapak Bir Fujian. 

Eddy Tansil kemudian membangun PT Golden Key Group (GKG), perusahaan yang bergerak di bidang petrokimia. Perusahaan itu pun mengajukan kredit ke Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo). Kredit itu disetujui. 

Kredit yang mulai diberikan pada 1991 dengan cara ilegal itu pada 1994 telah membengkak sampai Rp 1,3 triliun. Dalam memperoleh kredit ini, Eddy Tansil sempat memanfaatkan katebeletje atau surat sakti yang ditulis Sudomo.

Sudomo yang merupakan Laksamana Angkatan Laut waktu itu menjabat Menteri Koordinator Politik Keamanan (Menkopolkam). Bisa dibilang, Sudomo adalah orang kuat di masa Orde Baru. Namanya moncer sejak didapuk sebagai Pangkopkamtib oleh Soeharto pada 1978.

Kasus Eddy Tansil mulai bergulir sejak awal Februari 1994. Ahmad Arnold Baramuli, anggota Komisi VII DPR-RI, mempertanyakan soal pinjaman Eddy Tansil di bank pemerintah yang macet. Baramuli menyatakan ada yang salah dalam prosedur penyaluran kredit itu. 

Atas rekomendasi Laksamana Sudomo dan pengaruh Tommy Soeharto yang menjadi mitranya, Eddy Tansil berhasil memperoleh kredit ratusan juta dolar Amerika dari Bapindo.

Rupanya terjadi mark up dari proyek-proyek yang sebagian fiktif. Tommy Soeharto setelah menarik bagiannya lalu meninggalkan perusahaan tersebut, sehingga Eddy Tansil terpaksa harus bertanggungjawab sendirian.” 

Kongsi antara Eddy Tansil dengan Tommy juga tampak dalam kepemilikan saham keduanya di PT Hamparan Rejeki, salah satu anak perusahaan Golden Key Group. Di perusahaan itu, menurut Wall Street Journal, putra Soeharto itu memiliki 14 persen saham. 

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pun akhirnya menjatuhkan vonis bersalah dan menghukum kepada Eddy Tansil dengan hukuman 20 tahun penjara, denda Rp 30 juta serta membayar uang pengganti Rp 500 miliar. Ia juga dihukum membayar kerugian negara sebesar 1,3 triliun rupiah.

Eddy Tansil ditahan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang. Selama satu setengah tahun berada dalam kurungan, Eddy Tansil beberapa kali keluar dari LP Cipinang. Setelah empat kali keluar penjara, dalam izin keluar yang kelima, pada Sabtu petang 4 Mei 1996, Eddy Tansil kabur dan tak pernah terlihat lagi. 

Setelah beberapa waktu lamanya mendekam di LP Cipinang, dengan bantuan para pejabat yang berhasil disuapnya, ia bersama keluarganya berhasil melarikan diri.

Alasan resmi Eddy Tansil untuk meninggalkan LP adalah guna berobat ke Rumah Sakit Jantung Harapan Kita. Tentu saja itu alasan yang dibikin-bikin, semata dalih untuk kabur.

Pelarian Eddy baru diketahui Komandan Jaga LP dua hari setelah pelarian. Eddy kabur Sabtu petang, Komandan Jaga baru tahu pada Senin malam 6 Mei 1996. Sementara Menteri Kehakiman Oetojo Oesman mengaku baru mengetahui pelarian Eddy pada Selasa pagi.

Sejak itu Eddy Tansil tak diketahui lagi keberadaannya. Ada dugaan Eddy sengaja diberi kesempatan untuk kabur hanya untuk dihabisi. Tujuannya: menghapus jejak skandal kredit macet itu. 

Namanya akan selalu diingat sebagai bukti betapa sulitnya mengendalikan koruptor, persisnya perkongsian para koruptor. Juga menjadi monumen ihwal ringkihnya sistem hukum di Indonesia yang dengan mudah dijebol oleh koruptor kelas kakap. 


tirto.id

Sunday, November 26, 2017

RENTETAN KISAH AWAL LETUSAN GUNUNG AGUNG 1963



Gunung Merapi yang meletus pada 2010 lalu, peristiwa ini menyisakan kisah pilu karena Sang Juru kunci. Sebagian orang mungkin tak menyangka jika sesungguhnya sejarah letusan Gunung Agung 1963 lebih pilu dari itu. Bukan hanya juru kuncinya, namun seluruh penduduk di kaki gunung suci umat Hindu Bali tersebut menerima tumpahan lahar panas yang melaluinya.

Letusan Gunung Agung 1963 terjadi setelah gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu tertidur panjang 120 tahun lamanya. Kini, 54 tahun kemudian, gunung yang berjuluk Tahta Para Dewa itu kembali menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan. Hingga Ahad, 24 September 2017, status gunung berapi ini sudah ditetapkan di level tertinggi, awas.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut Gunung Agung adalah gunung berapi paling eksplosif di Indonesia, mengalahkan Gunung Merapi di Yogyakarta dan Gunung Sinabung di Sumatra Utara. Catatan sejarah tentang letusan Gunung Agung yang diketahui sebanyak empat kali, salah satu informasinya dari Kama Kusumadinata (1979) dalam bukunya yang berjudul 'Data Dasar Gunung Api Indonesia'.

Berikut penelusuran dari berbagai sumber tentang informasi tersebut:

1. Letusan 1808
Gunung Agung meletus disertai uap dan abu vulkanik. Gunung ini melontarkan abu dan batu apung dalam jumlah luar biasa. Jejak sejarahnya adalah bukit-bukit batu yang mendominasi topografi Kabupaten Karangasem saat ini.

2. Letusan 1821
Ini merupakan kelanjutan aktivitas Gunung Agung sejak 1808. Sayangnya sejarah letusan 1821 tidak terdokumentasikan dengan baik. Letusan yang berlangsung saat ini adalah letusan normal.

3. Letusan 1843
Letusan 1843 didahului serangkaian aktivitas kegempaan. Gunung Agung kembali memuntahkan material abu, pasir, dan batu apung. Pada 1908, 1915, dan 1917, di berbagai tempat di dasar kawah dan pematang Gunung Agung tampak tembusan fumarola.

4. Letusan 1963
Letusan dimulai 18 Februari 1963 dan baru berakhir 27 Januari 1964. Letusan dahsyat ini mencatat korban 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang luka. Mayoritas korban berjatuhan karena awan panas letusan yang melanda tanah lebih dari 70 kilometer per segi.

Letusan 1963 diawali gempa bumi ringan yang dirasakan penghuni Kampung Yeh Kori. Sehari kemudian terasa kembali gempa bumi di Kampung Kubu, di pantai timur laut kaki Gunung Agung, sekitar 11 kilometer dari lubang kepundannya.

18 Februari 1963, sekitar pukul 23.00 WITA di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam tanah. 19 Februari 1963, pukul 01.00 WITA terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang, disusul awan mengembus dari kepundan pukul 03.00 WITA. Dua jam kemudian terdengar dentuman perdana, disusulsemburan batu-batu kecil hingga besar dan diakhiri semburan asap kelabu hingga kehitaman.

20 Februari 1963, letusan Gunung Agung kembalbergemuruh dengan lemparan bola api lebih besar. Penduduk Desa Kubu mulai panik dan mengungsi. 21 Februari 1963, asap tebal terus mengepul dari kawah. Letusan api dan suara gemuruh terus terdengar hingga 22 Februari 1963.

Wilayah Pura Besakih, Rendang, dan Selat dihujani batu-batu kecil dan tajam, pasir, dan hujan abu pada 23 Februari 1963. Hujan lumpur lebat turun di Besakih sehari kemudian, mengakibatkan bangunan-bangunan di sana roboh. Awan panas muncul.

25 Februari 1963, awan panas terus turun. Hujan lahar di Tukad Daya memutuskan akses wilayah Kubu dan Tianyar. 16 Februari 1963, lava dan hujan lahar mengalir hingga Desa Sogra, Sangkan Kuasa, Badegdukuh, dan Badegtengah. Seluruh penduduknya mengungsi ke selatan.

17 Maret 1963 merupakan puncak dari kegentingan tersebut. Suara letusan berkurang dan hilang. Sisanya adalah aliran lahar ke wilayah-wilayah di bawahnya. Aktivitas Gunung Agung benar-benar berhenti 27 Januari 1964.

Kusumadinata yang merupakan ahli vulkanologi di Direktorat Geologi Bandung menemukan sebagian masyarakat Bali percaya bahwa penyebab letusan Gunung Agung 1963 bersifat spritual. Ini yang membuat arahan dari pihak yang berkompeten terkait gunung ini diabaikan. Masyarakat padahal sudah diingatkan akan zona bahaya radius lima kilometer dari puncak.

Laporannya yang berjudul 'Kegiatan Gunung Agung' pada 1963 menyebutkan anggapan masyarakat Bali bahwa 'Bathara Gunung Agung marah dan mengancam akan meletus jika dalam jangka waktu satu pekan tidak dilaksanakan sesajen dan permintaan lain yang dikemukakan orang-orang yang kerasukan roh suci.'

Masyarakat Bali bahkan menyiapkan perayaan Eka Dasa Rudra pada 8 Maret 1963 di Pura Besakih, sekitar 6,5 km dari puncak Gunung Agung atau menjelang titik kritis letusan. David J Stuart Fox dalam bukunya 'Pura Besakih: Pura, Agama, dan Masyarakat Bali' (2010) menuliskan lebih kurang 10 ribu orang menghadiri upacara tersebut, termasuk gubernur, kepala pemerintahan daerah, dan tokoh-tokoh terkemuka Bali.

Eka Rudra merupakan upacara agama terbesar umat Hindu Bal yang diselenggarakan di pura terbesar, Pura Besakih. Sejumlah alasan yang disampaikan para ahli gunung berapi belum mampu meyakinkan masyarakat untuk mengosongkan Besakih.

Setelah Eka Rudra dilaksanakan, beberapa hari setelahnya masih berdatangan lima ribu orang ke Pura Besakih di tengah hujan debu dan kerikil. Ritual di Besakih terus digelar hingga 15 Maret 1963, dua hari hari sebelum letusan besar pertama terjadi.

Pura Besakih sepanjang masa letusan hanya mengalami kerusakan kecil. Pura ini rusak parah justru karena gempa tektonik berkekuatan enam skala richter yang mengguncang Bali pada 18 Mei 1963.

Kini, setelah tertidur 54 tahun kemudian, Gunung Agung kembali menunjukkan peningkatan aktivitas. Gunung ini sudah berstatus awas atau level empat. Masyarakat di kaki Gunung Agung memiliki kesadaran tinggi untuk mengevakuasi diri dan keluarganya secara mandiri.

Jumlah pengungsi Gunung Agung menurut data terakhir yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencapai 15.142 jiwa. Mereka tersebar di 125 titik di tujuh kabupaten, meliputi Kabupaten Badung (lima titik), Bangli (17 titik), Buleleng (10 titik), Denpasar (enam titik), Gianyar (sembilan titik), karangasem (54 titik), Klungkung (21 titik), dan Tabanan (tiga titik).

Pemerintah daerah jauh lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Gubernur Bali, Made Mangku Pastika menyatakan pemerintah provinsi, daerah, dan lintas sektoral berkomitmen menekan dampak negatif dari peristiwa ini seminimal mungkin.



sumber : republika

Wednesday, November 15, 2017

AGAMA BAHA'I & RIWAYAT KEDATANGANNYA DI INDONESIA


Simbol Baha'i

Baha'i adalah suatu agama, bukan aliran dari suatu agama, Baha’i adalah termasuk agama yang dilindungi konstitusi sesuai Pasal 28E dan Pasal 29 UUD 1945.

Berdasarkan UU 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan atau Penodaan Agama, agama Baha’i merupakan agama di luar Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu, yang mendapat jaminan dari negara dan dibiarkan adanya sepanjang tidak melanggar ketentuan peraturan perundang-undangan.

Umat Baha'i sebagai warganegara Indonesia berhak mendapat pelayanan kependudukan, hukum, dll dari pemerintah, itu kesepakatan luhur pendiri bangsa yang berkomitmen bahwa (nilai-nilai) agama harus jadi jiwa yang mengisi kehidupan kebangsaan dan kenegaraan kita.

Dalam Gerakan Ahmadiyah di Indonesia, agama Baha'i dipelopori oleh Mirza Husein Ali, seorang ulama dari Persia yang mengaku dirinya sebagai Baha’ullah (kemuliaan Allah).

Baha'ullah

Baha’ullah, menurut Situs Resmi Agama Baha’i di Indonesia (bahaiindonesia.org), adalah pembawa wahyu agama Baha’i. Pada 1863, dia mengumumkan misinya untuk menciptakan kesatuan umat manusia serta mewujudkan keselarasan di antara agama-agama. Dalam perjalanannya di sebagian besar kerajaan Turki, dia banyak menulis wahyu yang diterimanya dan menjelaskan secara luas tentang keesaan Tuhan, kesatuan agama serta kesatuan umat manusia. Dia mengajarkan bahwa semua agama berasal dari Tuhan dan mereka saling mengisi serta melengkapi. Semua utusan Tuhan mengajarkan keesaan Tuhan dan mewujudkan cinta Tuhan dalam kalbu-kalbu para hamba-Nya.

Dalam A Concise Encyclopedia of the Baha'i Faith, Peter Smith, salah satu sarjana terkemuka dalam kajian Baha’i, menyatakan bahwa Baha’i adalah ajaran baru yang diyakini sebagai agama independen dan bisa diterima kehadirannya termasuk di Amerika Serikat, Eropa, Asia, Afrika, dan Australia.

Berdasarkan Situs Resmi Agama Baha'i di Indonesia, secara geografis, agama Baha'i adalah agama kedua yang paling tersebar di dunia – berada di lebih dari 120.000 tempat di seluruh dunia– dan telah resmi diakui sebagai agama yang berdiri sendiri di lebih dari 237 negara dan wilayah teritorial.

Organisasi PBB secara resmi mengakui bahwa ajaran Baha'i telah menjadi bagian gerakan agama dan sosial yang mempunyai peran penting dalam membangun perdamaian antarumat beragama serta upaya kesejahteraan ekonomi dan pendidikan bagi masyarakat di seluruh dunia yang ditulis Amanah Nurish dalam “Belenggu Diskriminasi pada Kelompok Minoritas Baha’i di Indonesia dalam Perspektif HAM, dimuat jurnal Ma’arif Institute.

Kedatangan Baha'i di Indonesia

Penyebaran agama Baha'i di Indonesia dilakukan oleh pedagang dari Persia dan Turki bernama Jamal Effendy dan Mustafa Rumi di Sulawesi sekitar tahun 1878. Dari Sulawesi, ajaran ini menyebar ke tempat lain.

Namun, menurut Amanah Nurish, ajaran Baha'i di Indonesia dibawa oleh seorang dokter dari Iran yang datang ke Mentawai, Sumatera, untuk menjadi relawan membantu orang miskin, pada 1920. Dari waktu ke waktu, dia berhasil menyampaikan iman Baha'i sebagai gerakan keagamaan baru di Indonesia, sehingga menyebar ke pulau-pulau lain seperti Kalimantan, Jawa, Bali, dll.

Mentri agama Lukman menyajikan data pemeluk agama Baha'i di Indonesia, yang tersebar di Banyuwangi (220 orang), Jakarta (100 orang), Medan (100 orang), Surabaya (98 orang), Palopo (80 orang), Bandung (50 orang), Malang (30 orang), dll.

Pada 15 Agustus 1962, Presiden Sukarno mengeluarkan Keppres No. 264/1962 yang melarang organisasi Baha'i bersama organisasi-organisasi lainnya: Liga Demokrasi, Rotary Club, Divine Life Society, Vrijmet, Selaren-Loge (Loge Agung Indonesia), Moral Rearmament Movement, Ancient Mystical, dan Organization Of Rucen Cruisers (AMORC).

Keputusan itu dikeluarkan karena Sukarno menilai paham Baha'i tidak sesuai dengan kepribadian Indonesia, menghambat revolusi, dan bertentangan dengan cita-cita sosialisme Indonesia. Akan tetapi, setelah era reformasi, paham Baha’i dapat bernapas lagi.

Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut Keppres No. 264/1962 dengan Keppres No. 69/2000. Dengan demikian, Gus Dur mengakui secara konstitusional keberadaan ajaran Baha’i dan memperbolehkan menjalankan aktivitas keagamaannya.

Pembelaan Gus Dur dalam memperjuangkan kelompok minoritas dan hak-hak umat Baha’i di Indonesia di dalam menjalankan aktivitas keagamaannya menunjukkan keberanian yang cukup serius terhadap warisan politik peninggalan rezim Sukarno dan Suharto.

Gus Dur menaruh simpati terhadap ajaran Baha'i. Hal itu terbukti dengan kesediaan Gus Dur untuk hadir di tengah penganut Baha'i di Jalan Menteng, Jakarta Pusat pada 21 Maret 2000.



historia

Sunday, November 12, 2017

RIWAYAT DI SYARIAHKANNYA KIBLAT SHOLAT


                   

Ka’bah yang berada di dalam Masjidil Haram Makkah merupakan bangunan ibadah tertua di muka bumi ini. Bangunan yang berbentuk kubus ini diriwayatkan dibangun pertama kali oleh Nabi Adam AS. Karena kekunoannya, bangunan ini disebut juga sebagai bayt al-Athiq sebagaimana tertera dalam Surat Al-Hajj ayat 29:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ


“Dan thawaf (berkeliling) lah kalian di rumah yang kuno.”


Al-Qur’an menyebutkan bahwa Ka’bah telah ada pada saat Nabi Ibrahim menempatkan Siti Hajar dan Nabi Ismail ketika masih bayi di lokasi tersebut, sebagaimana tercermin dalam Surat Ibrahim ayat 37:


رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ


"Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Setelah meninggalkan istrinya, Siti Hajar, dan putranya, Nabi Ismail, Nabi Ibrahim kemudian datang lagi ke tempat tersebut karena mendapatkan wahyu untuk mendirikan bangunan Ka’bah. Bersama Nabi Ismail beliau kemudian mendirikan Ka’bah, sebagaimana diceritakan dalam Surat al-Baqarah ayat 127:


وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Ketika perintah untuk shalat diberikan kepada Nabi Muhammad pasca peristiwa Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad yang saat itu berada di Makkah tentu saja menghadap Ka’bah saat melaksanakan shalat. Hingga kemudian Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, maka turunlah perintah Allah agar menghadap ke Baitul Maqdis (Masjidil Aqsa, Palestina) ketika shalat. Kejadian ini tergambar dalam karya Imam Abu al-Fida Ismail Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 1419H), juz I, hal. 272:


كَانَ أَوَّلُ مَا نُسِخَ مِنَ الْقُرْآنِ الْقِبْلَةُ، وَذَلِكَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا هَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَكَانَ أَهْلُهَا الْيَهُودَ، أَمَرَهُ اللَّهُ أَنْ يَسْتَقْبِلَ بَيْتَ الْمَقْدِسِ، فَفَرِحَتِ الْيَهُودُ، فَاسْتَقْبَلَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِضْعَةَ عَشَرَ شَهْرًا، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يحب قبلة إبراهيم، وكان يَدْعُو وَيَنْظُرُ إِلَى السَّمَاءِ


“Yang pertama kali di-naskh dalam Al-Qur’an ialah kiblat, bahwasanya Rasulullah SAW ketika hijrah ke Madinah, sementara penduduk madinah mayoritas adalah Yahudi, Allah memerintahkan untuk menghadap Baitul Maqdis (ketika shalat), maka berbahagialah orang Yahudi. Rasulullah menghadap Baitul Maqdis (ketika shalat) selama lebih dari 10 bulan, padahal beliau lebih senang pada kiblatnya Nabi Ibrahim (Ka’bah), maka beliau seringkali berdoa dan menghadap ke langit”


Maka turunlah perintah yang ditunggu-tunggu oleh Rasulullah. Kejadian ini terjadi Pada bulan Rajab tahun kedua hijrah. Hal ini tercermin dalam Surat al-Baqarah ayat 144:


قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ


“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, Maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, Palingkanlah mukamu ke arahnya.”


Peristiwa berpalingnya arah kiblat ini terjadi saat beliau sedang melaksanakan shalat berjamaah di sebuah masjid di pinggiran kota Madinah. Untuk mempertahankan bukti sejarah, hingga kini, masjid tersebut masih mempertahankan 2 mimbar, satu menghadap ke Ka’bah dan satu lagi menghadap ke Baitul Maqdis, dan disebut dengan Masjid Qiblatain (dua kiblat).


Perubahan kiblat ini memberikan suasana gembira di hati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena Allah Azza wa Jalla telah mengabulkan harapan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebaliknya, bagi kaum Yahudi, perubahan ini merupakan pukulan telak. Karena dugaan mereka selama ini, ternyata salah total dan terbantahkan. Oleh karena itu, mereka sangat geram dan melontarkan desas-desus yang tidak sedap dengan menyebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah orang yang plin-plan, seketika shalat menghadap kesini dan kesana.


Allah SWT lalu menurunkan ayat guna menghancurkan desas desus tersebut. Ketika kaum Yahudi menebarkan isu bahwa kebaikan hanya bisa diraih dengan cara shalat menghadap Baitul Maqdis, turunlah ayat 177 dalam Surat al-Baqarah:


لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا ۖ وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ ۗ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا ۖ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ


“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi, memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan), dan orang-orang yang meminta-minta, (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila dia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya), dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.”


Rupanya, perubahan arah kiblat ini, selain sebagai jawaban atas doa Nabi Muhammad, juga merupakan sebentuk ujian yang Allah berikan untuk membedakan mana yang imannya asli atau palsu. Ini tergambar dalam Surat al-Baqarah ayat 143:


وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ


“Dan Kami tidak menjadikan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi beberapa orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” Wallahu a’lam bi shawab.



nu online

Saturday, November 11, 2017

RIWAYAT TAUCO CIANJUR



Dirintis sejak 1880, Cap Meong menjadi pelopor usaha produk tauco di Cianjur, Jawa Barat. Kelezatan dan rasa khas tauconya menjadi rahasia umum bagi masyarakat Cianjur. Tak ayal, jika Anda bertanya di mana bisa beli tauco yang enak kepada penduduk setempat, sebagian besar bakal menyebut nama Meong.

Asal-usul “Meong”

Berdiri di Jalan HOS Cokroaminoto No 160, Cianjur, Jawa Barat, sebuah papan nama cukup besar bertuliskan “Tauco No. 1 buatan Nyonya Tasma, Cap Meong” nangkring di bagian atas bangunan. Bentuk bangunannya sederhana, khas rumah toko (ruko) milik orang Tionghoa tempo dulu.

Di dalam, tiga buah meja, dua lemari kayu besar berisi botol-botol kosong, serta sebuah alat presstutup botol mengisi ruangan. “Kalau di sini, di Cokroaminoto, hanya untuk memasak adonan tauco yang telah selesai proses fermentasi lalu menjualnya. Kalau produksi dari awalnya di pabrik, letaknya di Gang Pelita”, kata Ekawati, pegawai toko tauco Cap Meong yang masih berhubungan darah dengan pemilik toko.

Meski bangunan ruko itu cukup luas, ruangan yang digunakan untuk berdagang tidaklah terlalu lebar, hanya sekira 4x5 meter. Memasuki ruangan, aroma tauco segera menyergap indera penciuman. Aroma khas yang sudah melekat puluhan tahun.

Dari awal berdiri ya tempat jualannya di situ, di HOS Cokroaminoto 160,” kata Harun Tasma, 74 tahun, pimpinan di Cap Meong.

Di Cianjur, usaha tauco dipelopori Tan Kei Hian, atau biasa dipanggil Babah Tasma. Panggilan tersebut muncul karena ia orang pertama yang memakai kacamata di daerah tempat tinggalnya. “Kacamata kan bahasa Sundanya, tasma. Karena dia yang pertamakali pakai, dan selalu dipakai sehari-harinya, makanya dipanggil Babah Tasma.

Seperti kisah kebanyakan perintis usaha kecil tradisional, Babah Tasma memulai usaha tauconya dari industri rumahan. Saat tauco buatannya mulai digemari, pada 1880-an barulah dia serius menekuni usaha tauco.

Di awal usaha, selain Babah Tasma, usaha tauco juga digeluti sang istri, Ny Tasma. Uniknya, suami-istri ini membuat tauco dengan rasa berbeda. Kalau Babah Tasma rasa tauconya cenderung manis, Ny Tasma lebih menyerap selera lokal, menyuguhkan rasa asin, Saat mereka bercerai, Babah Tasma kemudian mendirikan tauco Cap Gedong, sedang Nyonya Tasma melanjutkan usaha dengan merek Cap Meong.

Dalam perkembangannya ternyata masyarakat lebih menggemari tauco buatan Ny Tasma. Karena kurang laku, Cap Gedong akhirnya gulung tikar. Yang bertahan hingga saat ini ya Cap Meong. Merek Meong sudah digunakan sekira1889-an.

Cerita yang berkembang seputar penggunaan nama “Meong” ini cukup menarik. Konon ditemukannya tapak kaki meong (Macan) di dapur, yang diyakini sebagai peliharaan Eyang Suryakencana, leluhur di Cianjur, menjadi sumber inspirasi.

Dari Ny Tasma, usaha tauco Cap Meong kemudian menurun kepada anak perempuannya, Tan Bei Nio atau Betsi Tasma. Dia mulai memegang kendali usaha sejak 1935. “Betsi Tasma menikah dua kali, dari suami pertama punya anak seorang perempuan, namanya Wiri Jati Tasma.

Pada 1985, karena Betsi Tasma sakit-sakitan, kepemimpinan di Meong pun lengser kepada anak perempuan tertuanya Wiri Jati Tasma. “Wiri Jati sebenarnya seorang guru baptis di Jakarta. Pada 1985 dia akan memasuki masa pensiun. Tapi karena ibunya sakit-sakitan, sebelum masuk pensiun dia lebih dulu keluar untuk mengurus usaha tauco.

Meski berlatar belakang guru, Wiri Jati lumayan sukses mengibarkan bendera usaha Cap Meong. Setidaknya untuk sekadar terus bertahan, walau saat itu kondisinya sudah tidak terlalu menguntungkan. Munculnya merek-merek baru membuat persaingan semakin ketat. Harga bahan baku pun relatif tidak stabil. Apalagi seiring beroperasinya jalan tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang), diresmikan April 2005, bisnis tauco di Cianjur mulai meredup. “Sekarang yang tersisa paling Biruang, Badak, Harimau, dan Meong.

Menurut Harun Tasma, pada 1930-1960 potensi jual produk tauco Cap Meong masih cukup bagus. Apalagi saat itu belum banyak pesaing. “Wah, kalau lagi bulan puasa itu dulu sampai ngantri. Maklum, tauco kan bisa jadi lauk enak yang harganya murah.

Menjaga Mutu

Areal pabrik di Gang Pelita itu cukup luas. Di dalamnya berdiri sebuah bangunan tua berbentuk huruf “L”. Di sisi kanan bangunan, potongan-potongan kayu menumpuk. Sebuah kuali besar bersandar di atas tungku kayu. Di bagian tengah, botol-botol tauco kosong yang telah dicuci dan berbagai peralatan kerja memadati bangunan.

Di halaman pabrik terdapat hamparan kedelai yang sedang dijemur serta deretan guci berisi kedelai yang bagian atasnya ditutup seng. Di dalam guci itu, kedelai sedang dalam proses fermentasi.

“Proses awal, kedelai dijemur selama 3-4 hari, digiling kasar lalu dicuci, habis itu dimasak selama enam jam. Selesai masak dijemur sampai ¾ kering, diperam selama tiga hari samapai keluar jamur. Proses selanjutnya direndam di air garam sampai kering, sekira 10 hari. Setelah kering ditaruh di bak-bak khusus selama dua bulan, menunggu sampai ‘madu’-nya keluar. Lama proses  itu, berdasarkan perhitungan bila cuaca normal, kalau hujan, proses pengerjaan tambah larut.

Tauco made in Cianjur cukup dikenal di mana-mana. Bahkan selain dikenal sebagai kota penghasil beras, Cianjur juga lekat dikenal dengan daerah pembuat tauco. Sebagai bumbu masak yang terbuat dari kedelai yang difermentasi, tauco memang bisa memperlezat aneka masakan.

Di Nusantara, referensi pertama mengenai tauco, seperti ditulis William Shurtleff and Akiko Aoyagi dalam History of Miso and Soybean Chiang, dapat dirunut dari tulisan seorang ilmuwan Belanda, Prinsen Geerligs, pada 1895-1896. Geerligs menyebutnya tao tsioedalam artikel Belanda pada 1895 dan tao tjiungdalam artikel Jermannya pada 1896.

Dalam tulisannya, William Shurtleff and Akiko Aoyagi juga mengatakan kalau tauco masih berhubungan dengan jiang, bumbu masak asal Tiongkok. Diperkirakan berasal sebelum Dinasti Chou (722-481 SM), jiang diklaim sebagai bumbu tertua yang diketahui manusia. Awalnya dikembangkan sebagai cara melestarikan makanan kaya protein hewani untuk digunakan sebagai bumbu. Dari situ, bangsa-bangsa Asia Timur juga menemukan bahwa ketika seafoodsdan daging ( kemudian kedelai) yang asin atau direndam dalam campuran garam dan anggur beras (atau air,) protein mereka dipecah oleh enzim menjadi asam amino, yang pada gilirannya dapat merangsang selera makan manusia, serta dapat digunakan sebagai penambah rasa makanan lain.

Jika di Indonesia jiang berkembang menjadi tauco, di Jepang varian jiang berkembang menjadi miso. Miso adalah bahan makanan asal Jepang yang dibuat dari fermentasi rebusan kedelai, beras, atau campuran keduanya dengan garam. Miso digunakan sebagai bumbu masak untuk berbagai jenis makanan Jepang.

Di Nusantara, tauco diperkenalkan oleh para pendatang asal Tiongkok. Salah satunya Tan Ken Yan, yang mempeloporinya di daerah Cianjur. Tauco Cap Meong, demi menjaga mutu, sampai saat ini tetap mempertahankan proses pembuatan tauco dari leluhurnya. Bahkan, peralatan yang dipakai pun tak ada yang diganti. Misalnya, guci atau gentong. Banyak guci dan gentong yang usianya lebih tua daripada usia pegawainya

Demikian pula dengan proses memasak, dari dulu hingga sekarang masih mengunakan kayu bakar. Sebelumnya, sempat dicoba menggunakan kompor semawar, tetapi hasilnya tidak bagus.”Pernah coba pakai kompor, tapi aroma khasnya tidak keluar. Lagi pula kalau adonan kena minyak tanah sedikit saja, rusak semua .



historia

Thursday, November 9, 2017

RIWAYAT BERDIRINYA MONAS



Monas dibangun atas perintah Sukarno yang mendambakan simbol perjuangan rakyat Indonesia. Namun, Monas justru diresmikan oleh Soeharto yang sebelumnya meruntuhkan rezim Orde Lama.

Dari Yogyakarta, ibukota republik kembali ke Jakarta pada 1950 itu. Sukarno selaku presiden pun langsung berhasrat membangun suatu simbol untuk mempresentasikan karakter bangsa, layaknya Menara Eiffel di Paris sebagai lambang Revolusi Perancis. Gagasan pembangunan Monumen Nasional (Monas) pun menjadi salah satu agenda utama di dalam benak Bung Karno.

Tanggal 17 Agustus 1954, dibentuklah suatu komite nasional untuk mewujudkan hasrat sang presiden. Sukarno menghendaki Monas dibangun di Lapangan Merdeka yang berada tepat di depan Istana Merdeka sehingga ketika ada tamu negara yang datang, simbol kemegahan bangsa Indonesia itu langsung terlihat.

Sayembara Merancang Monas

Tepat setahun setelah komite nasional pembangunan Monas dibentuk, diadakanlah sayembara untuk rancangan monumen tersebut. Sayembara yang dimulai pada 17 Agustus 1955 itu berhasil mengumpulkan sebanyak 51 karya. Namun, hanya satu desain saja memenuhi kriteria, yakni karya Frederich Silaban (Eka Saputra, Indonesia Poenja Tjerita, 2016).

Komite nasional yang dipimpin Sarwoko Martokusumo itu menilai, rancangan Silaban setidaknya memenuhi kriteria, yakni menggambarkan karakter bangsa Indonesia. Maka, diajukanlah desain itu kepada Bung Karno. Sang presiden ternyata hanya sedikit tertarik, tapi masih kurang puas.

Sukarno menghendaki monumen nasional berbentuk tugu yang tinggi menjulang menantang langit dengan gagahnya. Tak main-main, tugu itu nantinya akan dibuat dari beton dan besi pilihan, serta batu pualam yang tahan gempa dan tidak lekang digerus zaman setidaknya hingga 1000 tahun ke depan. Selain itu, monumen nasional harus bisa memantik semangat nasionalisme dan patriotisme.

"(Bangunan) yang mencerminkan hal yang bergerak, yang dinamis dalam satu bentuk daripada materi yang mati,” tegas Presiden Sukarno waktu itu (Yuke Ardhiati, Bung Karno Sang Arsitek, 2005).

Sayembara pun digelar lagi untuk memenuhi hasrat sang presiden, dari tanggal 10 hingga 15 Mei 1960. Kali ini, yang mengirimkan karya jauh lebih banyak, yakni 222 orang dengan 136 desain rancangan bangun. 

Dari sekian banyak opsi itu, rupanya tidak ada satu pun yang sesuai harapan. Bung Karno memang terlalu perfeksionis jika berurusan dengan karya seni, ia adalah seorang arsitek, insinyur lulusan Technische Hogeschool, cikal-bakal Institut Teknologi Bandung (ITB).

Panitia yang nyaris putus asa kemudian membujuk Silaban untuk merevisi desain rancangannya sesuai dengan keinginan Presiden Sukarno. Selain itu, rancangan awal yang diajukan Silaban dinilai terlalu megah sehingga akan membutuhkan biaya yang amat besar untuk mewujudkannya. Sedangkan negara saat itu sedang dalam situasi perekonomian yang buruk.

Silaban menolak mengubah rancangannya itu. Ia justru menyarankan agar pembangunan monumen nasional ditunda saja hingga kondisi keuangan negara membaik. Namun, hasrat Sukarno sudah tak bisa dibendung lagi dan harus diwujudkan dalam tempo yang secepat-cepatnya.

Sukarno menerima rancangan awal Silaban. Kemudian, ditunjuklah seorang arsitek bernama R.M. Soedarsono untuk mengejawantahkan desain tersebut dan diselaraskan seperti keinginan sang presiden. Soedarsono yang paham betul bahwa Sukarno sangat menyukai filosofi kemudian menyertakan angka 17-8-45 dalam rancangan baru itu.

Angka 17-8-45 merujuk pada moment kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945. Dalam konteks rancangan monumen itu, susunan angka-angka tersebut diwujudkan dalam rencana pembangunannya: tinggi cawan dari halaman 17 meter, lebar dasar monumen 8 meter, dan lebar halaman cawan 45 meter (Adolf Heuken, Medan Merdeka Jantung Ibukota RI, 2008).

Antara Sakral atau Vulgar

Pembangunan monumen nasional akhirnya dimulai pada 17 Agustus 1961 di atas lahan seluas 80 hektare di seberang Istana Negara, Jakarta Pusat. Selain Soedarsono, Silaban selaku perancang awal desainnya pun turut dilibatkan dalam pelaksanaan proyek mercusuar ini. 

Sesuai keinginan Bung Karno, monumen nasional nantinya berupa tugu yang tegak berdiri dengan cawan sebagai wadah di bagian bawahnya. Bentuk seperti ini sebenarnya sudah cukup lama dikenal di Indonesia. Inilah Lingga-Yoni, simbol hubungan sakral antara laki-laki dan perempuan, yang menjadi salah satu unsur khas di banyak candi peninggalan leluhur Nusantara.

Dalam buku Candi Indonesia: Seri Jawa, Indonesian-English terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2013) yang dihimpun Edi Sedyawati dan kawan-kawan, disebutkan bahwa Lingga adalah simbol Syiwa (salah satu dewa tertinggi dalam ajaran Hindu) dengan bentuk alat kelamin laki-laki. Sementara Yoni merupakan perlambang kesuburan yang menjadi simbol alat reproduksi perempuan.

Lingga-Yoni memang sering ditemukan pada candi-candi yang ada di Indonesia. Sukarno sendiri mengakui bahwa ia terinspirasi dengan Lingga-Yoni yang terdapat di Candi Sukuh, Karanganyar, Jawa Tengah. “Monumen-monumen itu pencerminan dari jiwa besar Indonesia,” sebut Bung Karno.

Namun, tentu saja Lingga-Yoni yang mewujud pada bentuk monumen nasional tidak melulu dimaknai dengan konotasi yang boleh jadi dianggap vulgar. Buku resmi tentang Monas berjudul Tugu Nasional: Laporan Pembangunan terbitan tahun 1978 menjelaskan lebih rinci mengenai pemaknaan Lingga-Yoni itu.

Disebutkan, selain sebagai lambang kesuburan pria dan wanita, bentuk Monas yang berupa Lingga-Yoni juga melambangkan alu dan cawan, alat tradisional yang sangat umum bagi rakyat Indonesia, terlebih di pedesaan. Lingga-Yoni bisa pula dimaknai sebagai lambang dua sisi yang selalu ada di dunia ini, misalnya siang-malam, kanan-kiri, dan seterusnya.

Pembangunan Monas sempat tersendat karena terjadinya peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang kelak menjadi pemicu runtuhnya Orde Lama. Namun, Bung Karno tidak sempat melihat proyek monumen nasional yang lama didambakannya itu rampung. Presiden pertama RI ini wafat pada 21 Juni 1970 ketika Soeharto sedang memantapkan posisinya sebagai penguasa baru.

Lima tahun berselang, proyek pembangunan monumen nasional akhirnya rampung juga. Monas yang menjadi impian Sukarno justru diresmikan oleh penerus yang sekaligus kerap diindikasikan sebagai penggulingnya, Soeharto, tanggal 12 Juli 1975.



tirto.id

Saturday, November 4, 2017

RIWAYAT TROFI PIALA DUNIA



Trofi piala dunia(kiri)reflika trofi jules rimet(kanan)

Tropi Piala Dunia akan kembali diperebutkan oleh timnas dari 32 negara pada 2018 di Rusia. Trofi itu karya Silvio Gazzaniga pada 1971. FIFA memilih desain trofi karya seniman Italia itu setelah mengalahkan 53 rancangan di fase seleksi. Desainnya berupa dua manusia memikul bola dunia di pundaknya.

Garis-garisnya menanjak naik dari dasar (trofi) menyerupai bentuk spiral, membentang untuk menahan dunia. Dari bentuk yang dinamis itu, muncul dua figur atlet yang sedang menghayati momen kemenangan, sebagaimana dikutip Donn Risolo dalam Soccer Stories: Anecdotes, Oddities, Lore and Amazing Feats.

Trofi Piala Dunia memiliki tinggi 36,5 cm, bobot 6 kg, dilapisi emas 18 karat, ditopang dua lapis perunggu dengan tulisan: FIFA World Cup. Trofi itu dibuat dan dirampungkan Stabilimento Artistico Bertoni, perusahaan medali dan trofi asal Kota Milan, Italia, sebelum Piala Dunia 1974. Trofi ini untuk pertama kali direbut oleh tuan rumah Jerman Barat.

Sebelumnya, sejak Piala Dunia pertama pada 1930 di Uruguay, yang diperebutkan adalah Trofi Jules Rimet. Posturnya lebih kecil hanya setinggi 35 cm dan berbobot 3,8 kg. Desainnya dibuat Abel Lafleur, pematung Prancis, dua tahun menjelang Piala Dunia 1930. Lafleur mendesain trofi berbentuk decagonal dengan pahatan seorang dewi bersayap di kedua sisi yang ditopang batu pualam.

Trofi dengan pelat emas berlapis perak itu terinspirasi oleh patung Nike, Dewi Kemenangan Yunani Kuno yang terpajang di Museum Louvre. Awalnya, trofi ini dinamai Victory, namun publik lebih mengenalnya sebagai Coupe du Monde. Trofi ini pertama kali dimenangkan Uruguay sebagai tuan rumah Piala Dunia 1930.

Sebelum pecah Perang Dunia II, trofi ini dimiliki Italia sebagai pemenang Piala Dunia 1938. Jika tak disembunyikan, ada kekhawatiran trofi ini akan diambil Nazi-Jerman sebagai sekutu Italia. Di sisi lain, ada dua versi kisah penyelamatan trofi ini.

Sebuah mitos berseliweran bahwa Ottorino Barassi, pemimpin olahraga Italia, menyimpannya di kotak sepatu dan disembunyikan di bawah tempat tidur. Rumor lainnya mengatakan, Jules Rimet, Presiden FIFA yang menyembunyikan trofi itu di kolong kasurnya. Sebenarnya trofi itu disimpan di brankas sebuah bank di Roma, dalam Soccer’s Most Wanted.

Pasca Perang Dunia, pada 1946 trofi itu diubah namanya menjadi Jules Rimet Trophy. Trofi ini baru kembali diperebutkan pada Piala Dunia 1950 di Brasil. Perang memang sudah usai, namun Trofi Jules Rimet tetap terancam. Empat bulan sebelum Piala Dunia 1966 di Inggris, trofi ini dicuri ketika dipajang pada Pameran Stampex di Westminster Central Hall, 20 Maret 1966. Publik sepakbola dunia geger.

Wakil Ketua Dewan Asosiasi Sepabola Inggris (FA) Jack Steward rela menjadi pihak yang disalahkan. Sehari setelah kejadian, orang tak dikenal menelepon Ketua FA Joe Mears, meminta tebusan 15 ribu poundsterling. Polisi berhasil menciduk pencuri bernama Edward Betchley itu. Sayangnya, polisi tak menemukan trofinya.

Akhirnya, Trofi Jules Rimet ditemukan tanpa sengaja. Pada 27 Maret 1966, ketika jalan-jalan di Beulah Hill, sebuah distrik di tenggara Kota London, David Corbett dan anjingnya, Pickles, menemukan trofi itu terbungkus koran lalu membawanya ke Kantor Polisi Gypsy Hill. Anjing dan tuannya diberi penghargaan, sementara trofinya diserahkan kepada FA sebelum pembukaan Piala Dunia 1966.

FIFA memberikan hak kepemilikan permanen Trofi Jules Rimet kepada Brasil setelah memenangi Piala Dunia untuk ketiga kalinya pada 1970. Federasi Sepakbola Brasil (CBF) memajang trofi itu dalam lemari kaca di markasnya di Rio de Janeiro. Sialnya, pada 19 Desember 1983, markas CBF dibobol maling.

Dalam Futebol: The Brazilian Way of Life, Alex Bellos menguraikan empat perampok membobol sisi belakang lemari kaca tempat Trofi Jules Rimet dengan linggis. Tak hanya itu, setelah mengelabui para penjaga, mereka juga menggondol Trofi Equaitativa dan Jurrito.

Polisi berhasil mengidentifikasi dan menangkap para pencuri yaitu Sergio Pereira “Peralta” Ayres, seorang bankir dan agen pemain Francisco Rivera, dan mantan opsir polisi Jose Luiz Vieira, seorang dekorator, serta Antonio Setta.

Peralta mengakui trofi itu sudah dilelehkan untuk dijadikan emas batangan oleh Juan Carlos Hernandez, pedagang emas asal Argentina. CBF meminta Eastman Kodak untuk membuat replika trofi itu. Presiden Brasil Joao Figueiredo menerima trofi replika itu pada 1984.


 
historia

Monday, October 30, 2017

RIWAYAT MUSIK DANGDUT



Sejarah dangdut turut mewarnai perjalanan panjang belantika musik Indonesia. Dari era Melayu yang mendayu-dayu, dijadikan media dakwah, hingga wabah dangdut disko dan dangdut koplo.

Pada era 1960-an, tersebutlah biduan bernama Rofiqoh. Ia lebih dikenal sebagai Rofiqoh Dharto Wahab dengan menyertakan nama suaminya. Rofiqoh bolehlah disebut sebagai pelopor musik dangdut religi di Indonesia. Ia adalah penyanyi qasidah dan gambus yang juga seorang qoriah berbakat.

Bahkan, seperti disebut oleh Jajat Burhanuddin (2002) dalam buku Ulama Perempuan Indonesia,Rofiqoh sah-sah saja dikategorikan sebagai mubalig jika mengikuti alur gradasi definisi tentang pengertian ulama yang kini semakin luas dan cenderung bisa disematkan kepada orang-orang yang menyiarkan ajaran agama, dalam konteks apapun.

Di periode selanjutnya, muncullah nama Rhoma Irama dengan Soneta Grupnya, grup dangdut yang dibentuk pada 13 Oktober 1973. Meskipun juga sering menciptakan lagu-lagu bertema asmara, tapi pria bernama lahir Raden Irama alias Oma ini dikenal pula sebagai musisi dangdut sekaligus seorang pendakwah.

Sejak debutnya pada awal dekade 1970-an itu, Rhoma sudah menggaungkan jargon “Voice of Moslem”. Berdakwah lewat dangdut ternyata sangat digemari. Buktiqnya, pada 1984, penggemar Rhoma dan Soneta tidak kurang dari 15 juta orang atau 10 persen dari jumlah penduduk Indonesia saat itu (Tempo, 30 Juni 1984). Dari situ pula ia memperoleh julukan Raja Dangdut.


Di kurun yang sama dengan masa kemunculan Rhoma Irama, lahir pula Nasida Ria, dibentuk pada 1975 di Semarang. Grup yang beranggotakan 9 muslimah ini mengusung musik qasidah dengan gaya Timur Tengah dan memakai alat-alat musik modern (Ziauddin Sardar & Robin Yassin Kassab, Muslim Archipelago, 2013).

Rhoma Irama dan Soneta maupun Nasida Ria melahirkan lagu-lagu Islami yang masih terjaga kesakralannya hingga kini. Mereka pun masih eksis dengan menerapkan regenerasi kendati sulit untuk mencapai ketenaran seperti dulu.

Keabadian Musik Picisan

Akar lahirnya dangdut di Indonesia disebut-sebut mulai muncul pada dekade 1940-an, bermula dari musik Melayu yang cukup populer di Indonesia bagian barat. Kala itu, belum lahir istilah dangdut, orang-orang menyebutnya dengan nama musik Melayu-Deli (Balai Bahasa Yogyakarta, Dari Tradisi ke Modernisasi, 2009).

Musik Melayu-Deli itu sebetulnya mirip dengan keroncong. William H. Frederick (1982) dalam Rhoma Irama and the Dangdut Style: Aspects of Contemporary Indonesian Popular Culture, bahkan menyebut musik keroncong di era itu dikatakan sebagai orkes melayu. 

Orkes melayu atau yang biasa disingkat O.M. inilah yang nantinya menjadi istilah untuk menamakan grup atau kelompok musik ber-genre dangdut, bahkan sampai saat ini. Para penggemar dangdut tentunya akrab dengan grup-grup macam O.M. Monata, O.M. Sera, O.M. Sagita, O.M. Palapa, O.M. Latansa, dan sejenisnya.

Stigma kacangan musik dangdut ada benarnya juga, seperti yang pernah disandang keroncong. Di era kolonial, keroncong –yang notabene pendahulu dangdut– dipandang oleh masyarakat kelas atas, yakni bangsa Eropa/Belanda, secara hina sebagai produk kehidupan kelas kampung (Pesan-pesan Budaya Lagu-lagu Pop Dangdut dan Pengaruhnya,1995). Kendati begitu, dangdut tak pernah mati. Bahkan sejak dalam wujud embrio, dangdut secara elastis mampu beradaptasi dengan perkembangan musik global dan akhirnya terlahir sebagai jenis musik sendiri.

Di masa awalnya, dangdut yang berangkat dari musik Melayu dan keroncong berbaur pula dengan jenis musik lainnya, semisal musik dari India, Timur-Tengah, bahkan Latin (Max Richter, Musical Worlds in Yogyakarta, 2012). Dari rezim ke rezim, dangdut berkembang mengiringi zaman. Saat industri musik Indonesia dijejali lagu-lagu pop cengeng ala Rinto Harahap pada dasawarsa 1980-an, dangdut juga ikut menceburkan diri kendati dengan format yang berbeda.

Begitu pula di era-era berikutnya di mana dangdut masih terus disuka walaupun hadir dengan wujud yang tidak selalu sama, termasuk dengan kemunculan Inul Daratista sejak milenum baru abad ke-21. Inul memang membikin heboh sekaligus menuai kecam dengan goyang ngebor-nya di awal era 2000-an itu yang lantas disusul dengan membanjirnya ragam jenis goyangan lainnya oleh para biduan wanita baru. 

Meskipun dicerca, bahkan sempat dicekal oleh sang raja dangdut Rhoma Irama, Inul tetap bertahan. Biduan asal Pasuruan, Jawa Timur ini bersikukuh ingin mengembalikan dangdut kepada akarnya, yakni sebagai musik rakyat.

Masyarakat Indonesia tidak sedikit yang menyukai dangdut gaya baru yang ditawarkan Inul. Dangdut terus melaju dan menggulung jenis musik apapun yang menghadangnya. Maka tidak heran jika kini dikenal banyak varian dangdut, sebutlah dangdut Jawa (campursari), dangdut house, dangdut disko, dangdut koplo, dangdut metal, rock dangdut, dan seterusnya, hingga yang terbaru.

Dangdut memang tetap saja dianggap musik picisan. Namun, keandalannya sudah terbukti dan sekali lagi, ia tak pernah mati melintasi berbagai zaman.



tirto.id