Showing posts with label Saint. Show all posts
Showing posts with label Saint. Show all posts

Sunday, October 29, 2017

ASAL USUL & RIWAYAT PEMBALUT



Pada umumnya wanita sudah mengenal pembalut modern ketika sekolah menengah pertama. Tapi meski haid datang, wanita pada awalnya lebih memilih pembalut bikinan sendiri dari bahan kain karena orangtua mengajarkannya seperti itu.

Meski tak ada kriteria khusus, biasanya kain yang dipakai adalah handuk atau kain bekas yang berdaya serap tinggi. Tinggal melipat-lipat lalu menaruhnya pada celana dalam. Layaknya pembalut zaman sekarang aja. Cuma kalo sekarang kan pake perekat, kalo dulu pake peniti.

Haid merupakan rutinitas biologis tiap perempuan. Datangnya tiap bulan. Merepotkan? Jelas. Aktivitas jadi terganggu. Belum lagi rasa sakit atau malu yang timbul. “Isolasi perempuan menstruasi, yang dianggap sebagai ‘najis’, dipraktikkan di banyak budaya baik di masa lalu maupun sekarang,”dalam Encyclopedia of Modern Everyday Inventions.

Awalnya perempuan belum menggunakan alat bantu apapun ketika haid. Perempuan di masa-masa awal Masehi menghabiskan waktu dengan duduk di sebuah tempat dengan alas yang mampu menyerap darah menstruasinya. Kitab Kejadian 31:35 mengisahkan Rachel berkata pada ayahnya bahwa dia tak bisa berdiri karena waktunya datang bulan.

Kemudian, perempuan mulai menggunakan bahan penyerap. Ada yang menggunakan papirus (perempuan Mesir kuno), daun pakis (Hawaii), lumut rumput, atau tanaman lain (Afrika), tampon kertas (Jepang), potongan pakaian atau lap (China), wol (Roma), kapas dan spons (Eropa), atau serat sayuran (Indonesia).

Bagaimana perempuan di masa lalu menggunakan pambalut terekam dalam sejumlah kisah. Di India, dalam mitos dewa Indra, dikisahkan bagaimana Indra mendapatkan vagina yang sedang haid, berbau tak sedap, dan dibalut dengan kain.

Dalam beberapa tulisannya, Hippokrates, fisikawan sekaligus ahli medis Yunani kuno, menceritakan tentang perempuan-perempuan yang membuat tampon sendiri. Mereka membungkus potongan-potongan kain tiras lalu diletakkan pada bantalan dari kayu. Cendikiawati Yunani Hypatia juga menggunakan kain ketika sedang menstruasi. 

Dalam perkembangannya, pembalut mulai diperdagangkan. Berdasarkan sebuah dokumen kuno di kota kecil di Tunisia, ditulis di atas kertas kulit, sebagaimana ditulis S.D. Goitein dalam A Mediterranean Society, pada dekade kedua abad ke-11 pembalut menjadi komoditas perdagangan di Laut Tengah. Hal itu diketahui dari tagihan pengiriman/pemesanan barang.

Pembalut perempuan terus berevolusi. Sempat muncul model pembalut yang penggunaannya dimasukkan ke dalam kantong dan diselipkan di antara kedua kaki. Ada pula era menstrualcup (1867), di mana mangkuk penyerap cairan dimasukkan ke dalam kain yang dikaitkan pada ikat pinggang –waktu itu perempuan belum menggunakan celana dalam. Sembilan tahun kemudian menstrual cup yang lebih baik ditemukan, dengan bahan terbuat dari karet. Selain dapat menampung darah haid, model baru itu juga dilengkapi selang untuk mengalirkan darah ke penampungan yang dikenakan di luar, biasanya diikatkan di pinggang.

Pada abad ke-19, perawat-perawat di rumahsakit Eropa menemukan ide untuk membuat pembalut sekali pakai. Mereka membuatnya dengan bahan yang tersedia di rumahsakit: perban dari pulp kayu, yang biasa digunakan untuk merawat luka tentara, dengan bantalan penyerap terbuat dari buntalan kain.

Ide mereka lalu diadopsi sejumlah perusahaan. Berbentuk persegi empat dengan bahan kebanyakan katun, penggunaan bantalan kain itu diikatkan ke ikat pinggang atau korset si pemakai. Pembalut sekali pakai diproduksi massal pada 1900-an. Namun harganya mahal. Cuma perempuan kaya yang mampu membelinya. Ia menjadi bagian gaya hidup ekslusif perempuan kelas atas.

Sebenarnya, pada 1896, Johnson & Johnson sudah memproduksi pembalut sekali pakai dengan harga terjangkau melalui Lister’s Towels. Sayangnya, Lister’s Towel tak sukses di pasaran karena minim promosi. Kala itu mengiklankan produk yang terkait dalaman perempuan masih tabu. Kebanyakan perempuan bahkan tak tahu kalau produk itu telah tersedia, Hingga beberapa dekade ke depan, tabu itu masih bertahan.

Ketika Perang Dunia I pecah, perban kapas untuk pembalut sulit diperoleh. Orang lalu menggantikannya dengan kapas selulosa. Perusahaan Kimberly-Clark memanfaatkan peluang ini. Pada 1920, produk Kotex-nya dipasarkan. Modelnya masih menggunakan sabuk elastis. Namun, Kotex baru diterima pasar pada 1926, ketika Montgomery Ward, perusahaan mail-order, mengiklankan dalam katalognya. Setelah itu, “penjualan Kotex meningkat lebih dari 8 persen tiap tahun pada awal 1930-an, menciptakan satu pasar yang sepertinya menjadi bukti.

Pembalut berbantalan eksternal tebal masih kurang nyaman. Melihat ketidaknyamanan istri dan pasien-pasien perempuannya, Dr Earle Haas lalu berusaha menciptakan sebuah tampon yang dapat dipakai untuk semua perempuan pada 1929. Tampon modern pertama dengan aplikator akhirnya dia ciptakan dan dipatenkan dengan merek Tampax, dengan nama perusahaan yang sama –meski kemudian gonta-ganti pemilik. Tampax harus berjuang lama untuk bisa diterima pasar. Orang takut dampaknya: terhalangnya aliran darah yang keluar, kehilangan keperawanan, atau merangsang hasrat seksual. Baru pada 1945, ketika American Medical Association menyetujuinya, Tampax bisa leluasa menembus pasar.

Sampai 1970, ketika Stayfree dan New Freedom dipasarkan, semua pembalut menggunakan sabuk untuk pengikat.

Stayfree dan New Freedom adalah merek pembalut masing-masing produk Personal Products Company dan Kimberly-Clark. Di Indonesia, masa kolonial, ditunjukkan oleh iklan “Dames Gordel (Band dateng kotor)”, yang terbuat dari kain karet dengan tatakan (dinamakan “Kussen”) dari bahan kapas untuk menyerap darah haid.

Pembalut dengan perekat mulai mengambil-alih. Bahan pembuat pembalut pun berubah setelah ditemukannya serat sintetis. Bahan, bentuk, dan fungsi pembalut juga lebih baik. Katun, rayon, atau campuran keduanya merupakan bahan yang umum digunakan sekarang. Penggunaan jeli untuk meningkatkan kemampuan penyerapan cairan atau sayap yang ditambahkan untuk memperluas bidang penampungan merupakan bagian dari evolusi pembalut.

Di Indonesia, Softex menjadi pioner pemakaian pembalut sekali pakai, sehingga orang kerap menyebut pembalut dengan namanya. Softex meluncur ke pasaran pada 1974, ketika pembalut umumnya produk luar dan mahal. Berawal dari perusahaan garmen kemudian menjadi perusahaan pembalut karena karyawan perempuannya sering mengambil sisa-sisa kain untuk digunakan sebagai pembalut. Pada 1980-an, Softex merajai pasar pembalut di Indonesia.

Beragam merek kini membanjiri pasar pembalut di Indonesia. Mereka datang dengan beragam varian, harga, teknologi, dan sebagainya. “Praktis, tinggal buang. Kalau yang dulu, dicuci, dijemur dan pake lagi. Repot, harus direndam dulu. Harus punya banyak stok kain. Nyucinya juga susah, nggak bisa bersih sekali. Noda darah kan susah,” ujar Sri.

Tapi ada tantangan yang menghadang, terkait masalah higienis dan lingkungan. Oleh banyak kalangan, penggunaan dioksin bisa memicu kanker serviks, selain pencemar lingkungan yang sangat beracun. Dioksin adalah senyawa sampingan yang timbul dari hasil proses alam seperti letusan gunung atau kebakaran hutan, atau dari proses manufaktur semisal peleburan atau pemutihan.

Produsen pun terpicu memperbaiki: membuat pembalut yang lebih alami dan higienis. Yang paling umum adalah menstrual pad, pembalut dari kain tanpa bahan kimia dan bisa dipakai ulang. Mirip pembalut zaman dulu. Tidak praktis, memang, tapi aman dari sisi kesehatan.




historia
  

Saturday, October 28, 2017

RIWAYAT ROK MINI



Kapan sebenarnya rok mini populer digunakan oleh kaum hawa? Sejak 1958, rok semakin pendek. Desainer dan ikon mode Inggris Mary Quant (lahir 1934) menganggap perkembangan tersebut sebagai praktis dan membebaskan, yang memungkinkan perempuan mampu bergerak dengan leluasa, bahkan saat mengendarai kendaraan. 

Rok mini juga dikembangkan oleh desainer Prancis Andr Courr ges (lahir 1923) dan desainer Inggris John Bates (lahir 1938), sehingga ada ketidaksepakatan mengenai siapa yang memiliki ide pertama mengenai rok mini. Namun, Mary Quant-lah yang dianggap berperan besar mempopulerkan rok mini.

Pada 1960-an terjadi perubahan drastis ketika Mary Quant mempopulerkan rok mini yang memamerkan lebih banyak bagian-bagian kaki dibandingkan sebelumnya. Sejak itu para desainer mengekspos hampir setiap bagian tubuh, termasuk bagian perut dan Muncul tren pakaian serba terbuka.

Namun, menurut David Derbyshire asal-usul rok mini kembali ke awal peradaban. Para arkeolog menemukan bukti bahwa perempuan pada Zaman Batu menggunakan rok mini –bersama dengan atasan pendek dan gelang lebih dari 7.500 tahun yang lalu. Serangkaian patung-patung batu mengenakan busana prasejarah digali di salah satu desa tertua di Eropa sebuah komunitas yang terletak antara sungai-sungai, gunung dan hutan di daerah yang sekarang selatan Siberia.

Suku yang belum diketahui namanya itu hidup antara 5400 dan 4700 SM di situs seluas 120 hektar yang sekarang disebut Plocnik. Mereka telah mengenal perdagangan, kerajinan, seni dan metalurgi. “Patung-patung yang ditemukan adalah perempuan muda yang berpakaian indah, seperti anak perempuan mengenakan short tops dan rok mini, dengan gelang di lengan mereka, arkeolog Julka Kuzmanovic-Cvetkovic.

Menurut website www.randomhistory.com tahun 1960-an adalah dekade revolusi dan perubahan. Apollo 11 menjadi kapsul pertama yang mendarat di bulan, Undang-Undang Hak Sipil di Amerika diberlakukan pada 1964, Vietnam berkecamuk, Beatle mania sedang menyapu dunia, pil KB menekan pasar, dan kultus baru dari kaum muda, yang dikenal sebagai “Youthquake,” dengan radikal telah mengambil alih banyak bidang kehidupan. “Di tengah-tengah perubahan politik dan budaya yang dramatis muncul salah satu ikon yang paling abadi dan kontroversial yaitu rok mini.”

Pada 1960, protes-protes pemuda dan tuntutan untuk mengekspresikan diri mengungkapkan bahwa orang dewasa muda memperoleh kesadaran diri sebagai kelompok yang berbeda dan terpadu yang mampu menanggapi peristiwa politik dengan cara berbeda dari orangtua mereka. Anak-anak muda merasa tidak lagi butuh untuk mengikuti aturan moralitas borjuis dan tata krama, yang mereka anggap berstandar ganda. Karena entitas politik muda memperoleh suara, mereka menciptakan ruang untuk busana baru dan khas yang mencerminkan pandangan politik mereka sendiri –bukan orangtua mereka.

Kesadaran feminisme juga membuka jalan bagi cara yang berbeda untuk perempuan. Sebagai contoh, pada 1963, Betty Friedan menerbitkan The Feminine Mystique yang mendekonstruksi mitos ibu rumah tangga bahagia dan menyatakan keinginan perempuan untuk mengeksplorasi peran dan potensi mereka. Selain itu, pada 1960-an menunjukkan peningkatan perempuan masuk universitas dan memasuki dunia kerja. Gambaran seorang perempuan mulai bergeser secara dramatis dari seorang istri dan ibu menjadi seorang gadis, muda lajang, riang dan bangga akan seksualitasnya dan percaya diri dengan kekuatannya. “Rok mini akan mengungkapkan dan berfungsi sebagai alat untuk gerakan perempuan yang sedang bertumbuh,” tulis Random History.

Seperti kebanyakan busana, rok pendek dan terus pendek itu sudah berkembang dalam pikiran perempuan muda: Para desainer yang mengadaptasi hanya membantu menyebarkan gaya dan, dalam kasus Mary Quant, juga memberinya nama rok mini (mini skirt), setelah dia memiliki mobil favoritnya, Mini yang diluncurkan oleh British Motor Corporation (BMC) pada 1959.

Karena posisi Mary Quant yang berpengaruh di “Swinging London”, pusat busana dan budaya di Carnaby Street, London pada 1960-an, rok mini mampu menyebar dan menjadi sebuah tren internasional melalui acara-acara peragaan busana. Terutama ketika model tenar Jean Shrimpton, mengenakan rok mini tanpa stoking, topi, atau sarung tangan di Melbourne Cup Carnival, Australia, 30 Oktober 1965.

Untuk sebagian besar rok mini telah diterima di dunia Barat, namun tidak semua negara dan budaya menerima rok mini. Di banyak negara Afrika, rok mini dilihat tidak hanya sebagai pengaruh yang merusak dari Barat tetapi juga dari dunia modern. Misalnya, di Tanzania pada tahun 1968, seorang pelayan bar yang mengenakan rok mini dilempari batu oleh massa, dan politisi berpendapat bahwa penyebaran HIV/AIDS akan dapat dihentikan jika perempuan berhenti memakai rok mini.

Dalam  Biografi Politik Intelektual Revolusioner karya Ali Rahnema diceritakan ketika Ali Syari’ati mengajar di Husyaimiah Irsyad, lembaga pendidikan pengkajian Islam yang kelak menjadi wadah pembinaan kader militan pemuda-pemuda revolusioner Iran. Irsyad tak mempermasalahkan mengenai pakaian. Mahasiswinya dapat melenggang tanpa cadar atau kerudung kepala merupakan masalah yang serius bagi kaum tradisionalis. Aturan berpakaian tidak ada di Isyad dan karen itu tidak seorang pun ditolak memasuki tempat itu atas dasar pakaian yang tidak layak. Namun, kaum perempuan terpisah dari kaum laki-laki dan duduk di balkon auditorium utama.

Fakta bahwa sebagian dari kaum perempuan muda di kuliah Syari’ati memakai rok mini membuat marah ulama tradisional. Menurut mereka perempuan tanpa cadar dan kerudung apalagi rok mini melapangkan jalan bagi kerendahan moral dan pelacuran.



historia

Thursday, October 26, 2017

RIWAYAT PESAWAT & PERKEMBANGANNYA



Kemahiran burung menggoda obsesi manusia untuk bisa terbang. Karena keterbatasan pengetahuan, awalnya obsesi ini baru dituangkan dalam figur-figur fantasi tentang makhluk bersayap: setengah manusia, setengah burung.

Dalam mitologi Yunani Kuno (abad 8-1 SM), sayap terbang kali pertama diciptakan Daidalos, seorang seniman. Dia menciptakan sayap yang terbuat dari bulu unggas dan lilin untuk anaknya, Ikaros, di dalam penjara. Ikaros menerima sayap itu dan menggunakannya untuk kabur dari penjara. Kegirangan terbang, Ikaros lupa pesan ayahnya: jangan terbang dekat dengan matahari. Sayap itu terbakar sinar matahari sehingga Ikaros terjatuh.

Meski tak mungkin mempunyai sayap serupa burung, manusia tak pernah berhenti mewujudkan obsesinya. 

Serupa Burung Manyar

Berbekal alat sederhana berupa jubah sutra dan bulu elang yang dipasang ke seperangkat kayu, Ibnu Firnas meluncur dari sebuah bukit di Cordoba. Mu’min Ibnu Said, seorang penyair yang menyaksikan aksi itu pada sore di musim gugur 852, menulis, “Firnas terbang lebih cepat dari Phoenix ketika dia menggunakan bulu-bulu di badannya, seperti burung manyar.” Lantaran terjatuh, Firnas menderita cidera punggung parah.

Glider

Meski penerbangannya tak begitu sukses, alat yang dipakai Firnas mendapat perhatian luas ilmuwan. Dua abad setelah Firnas, seorang pendeta dari Malmesbury memperbaiki rancangan Firnas. Dengan menambahkan ekor, dia menyebut alat itu sebagai glider. Dari menara lonceng, dia berhasil terbang selama 15 menit dengan jarak tempuh 200 meter. Sekarang, glider sering dipakai untuk olahraga paralayang.

Ornithopter

Leonardo Da Vinci, ilmuwan Italia, mengembangkan temuan itu pada 1488. Konsep itu disebut ornithopter. Istilah itu berasal dari bahasa Yunani, ornithos yang berarti burung dan pteron yang berarti sayap. Konsep alat ini mengambil prinsip kerja sayap burung dan serangga. Da Vinci memandang bobot manusia cukup berat jika hanya ditopang dengan sayap tetap. Karenanya orang perlu sayap yang lebih dinamis untuk terbang lebih lama dan jauh.

Naga Bersayap Empat

Percobaan ornithopter pada 1496 tak memuaskan sejumlah ilmuwan. Selain tak bisa terbang, ornithopter dinilai belum aman. Konsep glider bersayap empat pun diperkenalkan pada 1647. Pengembangnya, seorang Italia bernama Tito Livio Burattini, menjanjikan alat yang disebut “naga bersayap empat” ini mampu meminimalkan cidera saat pendaratan atau kecelakaan.

Kapal Udara

Sebuah tulisan mengenai perhitungan massa benda di udara terbit pada 1670. Penulisnya, Francesco Lana de Terzi, menyimpulkan bahwa sebuah benda dapat lebih ringan ketimbang udara jika menggunakan tembaga besar yang menyimpan ruang gas di dalamnya. Ruang itu digunakan sebagai tenaga pengangkat. Sirkulasi udara harus dijaga sebaik mungkin agar benda tetap bisa terbang. Karya ini mengilhami penemuan kapal udara oleh Barthomeleo Gusmao, seorang Portugis, pada 1709. Inilah penerbangan pertama manusia tanpa sayap. Kelak penemuan ini mengilhami terciptanya Zeppelin.

Balon Udara

Dua bersaudara, Joseph dan Jacques Montgolfier, berhasil menerbangkan benda dengan menggunakan prinsip kapal udara pada 1783. Mereka mengganti material tembaga dengan bola raksasa yang terbuat dari sutera. Pada bagian bawah bola terdapat celah yang digunakan untuk pembakaran jerami. Udara panas itu menjadi sumber tenaga. Sebuah kotak tanpa penutup diikat pada bola tersebut. Mereka masuk ke kotak tersebut. Penerbangan mereka disebut “penerbangan lebih-ringan-daripada-udara”.

Monoplane

Setelah usaha “penerbangan-lebih-ringan-daripada-udara” tanpa sayap, orang mulai kembali berpikir tentang sayap. George Cayley, penjelajah asal Inggris, menggambar sketsa pesawat terbang sederhana beserta prinsip kerjanya pada akhir abad ke-18. Dia dianggap sebagai peletak dasar bentuk pesawat terbang modern. William Samuel Henson dan John Stringfellow, ilmuwan, bekerja sama menyempurnakan penggunaan sayap. Mereka menciptakan mesin terbang tenaga uap sayap tunggal pada 1840. Lebar sayapnya mencapai 45,7 meter. Penerbangan mereka dikenal sebagai “penerbangan-lebih-berat-daripada-udara”.

Zeppelin

Ahli aeronautika (ilmu penerbangan) Jerman, Ferdinanz Adolf Heinrich August von Zeppelin, menciptakan balon udara berbentuk cerutu raksasa yang mudah dikendalikan. Menggunakan prinsip kapal udara, Zeppelin, nama pesawat ini, dapat terbang lebih terarah. Pesawat ini sudah dilengkapi sirip, mesin, dan kemudi. Pada 1900, Zeppelin berhasil melakukan uji terbang pertamanya. Pesawat tanpa sayap ini melayani penerbangan komersial pertama di dunia pada 1909. Ketika perang meletus, fungsi komersialnya ditiadakan lantaran pesawat ini lebih banyak dipakai untuk perang.




historia

Friday, October 13, 2017

AWAL MULA / RIWAYAT ALAT PEMUTAR MUSIK



Musik dikenal sejak kehadiran manusia modern. Maka, memainkan atau mendengarkan musik, yang memiliki suara berirama atau lagu, menjadi salah satu aktivitas manusia untuk memenuhi kebutuhan akan keindahan. Tanpa musik, menurut filsuf Friedrich Nietzsche (1844-1900), hidup akan menjadi kesalahan.

Tak semua orang bisa memainkan musik nan indah. Sebagian besar malah hanya ingin menikmatinya untuk mendukung aktivitas atau sekadar mengisi waktu luang. Maka, manusia pun berpikir bagaimana musik bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja. Terciptalah alat perekam, penyimpan, penyalur, atau pemutar musik.

Kotak Musik

Seorang pembuat jam dari Swiss, Antoine Favre Salomon (1734-1820), menciptakan kotak musik pada 1796. Dia membuatnya dari barisan lempengan logam, pengganti lonceng, yang dapat disetel dalam skala nada yang lebih banyak dan ketepatan bunyi yang bagus.

sejak 1815, model kotak musik rancangan Salomon mulai diproduksi massal. Di kota Sainte Croix, Switzerland, pengusaha bernama Jeremie Recordon merintis pembuatan massal kotak musik ini. Dia gagal. Pengusaha lain, Samuel Junod, mencoba membuka pabrik serupa.

Phonograph

Setelah telepon dan telegraf, pada 1877 Thomas Alva Edisson (1847-1931) merancang mesin yang bisa merekam suara pada telepon dan memutarnya kembali. Suara pertama yang terekam dan diputar kembali adalah ucapan Edisson sendiri: “Mary had a little lamb.” Alat ini bernama phonograph.

Graphophone

Alexander Graham Bell (1847-1922) dan Charles Sumner Tainter (1854-1940) mulanya bekerjasama untuk mengembangkan telepon-radio. Kerjasama berlanjut dengan pembuatan perangkat perekam sekaligus pemutar suara yang disebut graphophone. Setelah dipatenkan dan diproduksi, alat ini digunakan para etnolog di Amerika pada 1890-an untuk merekam suara dan musik bangsa Indian.

Piringan Hitam

Kualitas suara yang dihasilkan phonograph dan graphophone belum sempurna. Pada 1888, Emile Berliner (1851-1929) merancang alat baru dengan menggunakan media cakram atau piringan, selanjutnya disebut piringan hitam, untuk menyimpan rekaman suara. Untuk mendapatkan suara dari piringan, gramophone ini dilengkapi stylus.

Eldridge Reeves Johnson (1867-1945) lalu menyempurnakannya sehingga kecepatan putar piringan menjadi lebih stabil.

Pemancar Radio

Setelah penemuan gelombang elektromagnetik, Guglielmo Marconi (1874-1937) dari Italia bereksperimen bahwa arus listrik sederhana dapat melintasi udara dari kawat ke kawat. Marconi pun mengembangkan teknologi pemancar dan antena untuk membuat pemancar radio lintas Atlantik, Inggris dan Newfoundland-Kanada.

Reginald Aubrey Fessenden (1866-1932) lalu menambahkannya dengan Heterodin, alat untuk mengubah frekuensi radio sehingga frekuensi itu mudah diatur dan dapat diperkuat. Fassenden mengirim suara manusia dan musik dari stasiun radionya di Brant Rock-Masachusets, AS, ke kapal-kapal di lepas pantai Atlantik.

Zaman emas radio pun dimulai pada 1920, dengan berdirinya stasiun radio komersial pertama, KDKA, di Pittsburg, AS.

Kotak Radio

David Sarnoff (1891-1971), yang populer memberitakan tenggelamnya kapal Titanic melalui radio, menyarankan agar radio dibuat secara massal. Menurutnya, radio akan menjadi perlengkapan rumah tangga. Baru tahun 1919, idenya terlaksana dengan berdirinya Radio Corporation of America (RCA), sebuah perusahaan elektronik Amerika.

Magnetophone

Teknologi perekam suara menjadi praktis dengan adanya Magnetophone model K1 bikinan Allgemeine Elektricitäts-Gesellschaft (AEG) dari Jerman yang dipamerkan pada acara Berlin Radio Show tahun 1935. Magnetophone didasari pada penemuan pita magnetik oleh Fritz Pfleumer (1881-1945). Namun suara yang dihasilkan masih bising. Dalam perkembangannya, magnetophone menghasilkan suara lebih baik dan dipakai secara luas untuk merekam konser, pertunjukan opera, hingga pidato. Selama Perang Dunia II dipakai dalam siaran radio. Dari alat inilah berkembang tape recorder.

Walkman

Koninklijke Philips N.V atau Phillips, berbasis di Eindhoven-Belanda, meluncurkan compact audio cassette atau kaset sebagai media penyimpan audio baru. Setahun berikutnya diperkenalkan di seantero Eropa dan Amerika.

Pada akhir 1970-an, Sony dari Jepang mengembangkan alat pemutar kaset audio portabel dengan nama walkman. Kehadiran walkman mengubah kebiasaan orang mendengarkan musik, yang bisa didengarkan kapan saja dan di mana saja.

Pemutar CD

April 1982, Lou Ottens, direktur teknik bidang audio dari Phillips, memperkenalkan compact disc atau CD. Phillips dan Sony beradu argumen mengenai ukuran CD. Akhirnya disepakati CD berdiameter 115 milimeter dan memiliki kapasitas penyimpanan audio berdurasi 74 menit, diambil untuk dapat memuat Beethoven 9th Symphony. Sebagai pelengkap, mereka meluncurkan pemutar CD; Sony dengan Goronta dan Phillips dengan Magnavox. Prinsip kerja pemutar CD ini adalah adanya bagian optik sebagai sarana utama membaca kepingan CD. Sony, sekira 1984, juga meluncurkan tipe portabel dari pemutar CD, yang dinamakan D-50 alias discman.

iPhone

Oktober 2001, perusahaan Apple meluncurkan pemutar musik portabel mini yang disebut iPod. Menurut Steve Jobs, pemutar musik konvensional dengan ukuran besar sudah bukan zamannya. iPod diciptakan untuk mengatasi kebutuhan penyimpanan audio yang besar. Kapasitas iPod pun dibuat dalam ukuran mulai 2 sampai 160 gigabyte.

Jenis audio yang diputar dalam iPod adalah mp3, yang dikembangkan Karlheinz Brandenburg, ahli audio dari Fraunhofer Institute-Jerman. Dia berksperimen membuat mp3 pada lagu “Tom’s Diner” yang dinyanyikan Suzanne Vega. Kemunculan mp3 memungkinkan kita mentransfer maupun memutar musik di beragam perangkat, dari telepon selular hingga komputer.



sumber : historia magazine

Tuesday, October 10, 2017

AWAL MULA ZONA WAKTU DI INDONESIA



Seorang perencana perjalanan trek kereta api dan seorang teknisi asal Kanada, Sandford Fleming
baru saja ketinggalan kereta ketika dia mengunjungi Irlandia dalam tahun 1876. Dia bingung. Jadwal keberangkatan kereta ternyata tak sesuai dengan waktu sebenarnya. Dia mengira kereta berangkat malam, tetapi kereta telah berangkat pada pagi hari. Ada perbedaan meridian antara Fleming dengan jadwal yang disusun oleh orang Irlandia. Ini karena kala itu belum ada pembagian waktu secara baku. Tiap negeri, tiap kota memiliki aturan waktunya sendiri. Akibatnya, orang asing sering salah mengerti waktu jika berkunjung ke suatu negeri jauh.

Sejak peristiwa itu, Fleming berpikir tentang kebutuhan ukuran pembagian waktu yang baku. Sebagai perencana perjalanan kereta jarak jauh, dia tak mau ada kekacauan jadwal hanya karena orang salah membaca waktu.

Berdasarkan waktu rotasi bumi yang dibulatkan, 24 jam, dan derajat bumi, 360o, Fleming membagi bumi ke dalam 24 zona waktu. Titik nol atau toloknya berasal dari Greenwich yang berada di bujur 0o. Ini berarti, waktu di tiap garis bujur selebar 15o dapat berbeda satu jam lebih lambat atau lebih cepat dari Greenwich. Semakin ke timur, waktu berbeda satu jam lebih cepat daripada Greenwich (+). Sebaliknya, semakin ke barat, waktu berbeda satu jam lebih lambat (-). Selisih waktu paling cepat dari Greenwich adalah 12 jam, pun jua dengan selisih paling lambatnya. Usul ini disepakati secara internasional melalui sebuah Konferensi Meridian Internasional di Washington DC pada Oktober 1884.

Di Hindia Belanda, koloni Belanda, pembagian waktu belum sepenuhnya mengikuti standar Greenwich Meridian Time (GMT). Belanda, meskipun tercatat sebagai negara yang menyetujui konferensi itu, belum merumuskan pembagian waktu untuk koloninya. Belanda baru menetapkan pembagian waktu pada 1908.

Staats Sporwegen (jawatan kereta api) meminta kepada pemerintah untuk menyusun sebuah zona waktu (mintakad) demi kelancaran perjalanan kereta di Jawa. Ketika itu, Hindia Belanda telah memiliki “greenwich” sendiri sebagai titik nol derajatnya, Jawa Tengah. Melalui Gouvernements besluit 6 Januari 1908,Jawa Tengah dan Batavia memiliki perbedaan waktu dua belas menit. Itu artinya, Batavia lebih lambat 12 menit dari Jawa Tengah. Peraturan ini diterapkan secara resmi pada 1 Mei 1908 dan hanya berlaku untuk wilayah Jawa dan Madura. Di luar wilayah itu, pemerintah tidak mengaturnya.

Wilayah Sumatera Barat dan Timur dan Balikpapan menjadi wilayah luar Jawa pertama yang mendapatkan pembagian waktu. Pemerintah mulai membagi waktu ketiga wilayah itu pada 22 Februari 1918. Padang tercatat memiliki perbedaan waktu 39 menit lebih lambat daripada Jawa Tengah, sedangkan Balikpapan berselisih 8 jam 20 menit lebih cepat dari Greenwich. Peraturan pembagian waktu selanjutnya, 1 Januari 1924, tidak mengubah pembagian waktu tersebut secara berarti. Peraturan itu hanya menetapkan selisih waktu antara Jawa Tengah dengan Greenwich adalah 7 jam 20 menit lebih cepat dari Greenwich. Di luar peraturan itu, pembagian waktu tiap daerah ditentukan oleh Hoofden van Gewestelijk Bestuur in Buitengewesen.

Memasuki 1930-an, penerbangan internasional dari Hindia Belanda ke Singapura dan Australia dibuka. Peraturan mengenai pembagian waktu harus dirumuskan ulang. Hindia Belanda, untuk pertama kalinya, terbagi atas enam zona waktu sejak 11 November 1932 melalui peraturan Bij Gouvernment Besluit van 27 Juli 1932 no. 26,Staatsblad No .412. Selain pertimbangan penerbangan, kebiasaan masyarakat pemakai jam matahari juga menjadi alasan keluarnya peraturan ini. Pemerintah kolonial berharap masyarakat itu tak dirugikan dengan pembagian waktu ini. Dalam pembagian waktu ini, selisih waktu tiap zona adalah 30 menit.

Peraturan ini menjadi tak berlaku kala Belanda menyerahkan Hindia kepada Jepang pada 1942. Jepang menyesuaikan pembagian waktu di Hindia dengan kebutuhan militer dan propagandanya. Peraturan itu berlaku sejak 20 Maret 1942 sampai dengan 16 September 1945. Akibatnya, waktu di tiap wilayah Hindia disamakan dengan waktu Tokyo (GMT + 9). Penyesuaian waktu dengan Tokyo itu untuk memudahkan mengatur daerah pendudukan Jepang di Asia. “Namun Jawa paling terpengaruh karena waktunya harus maju satu setengah jam lebih dulu dari biasanya. Yang paling susah orang yang biasa sholat subuh jam 04:00 jadi jam 02:30 malam,” kata doktor sejarah alumnus National University of Singapore itu.

Bukan hanya itu, anak sekolah pun mesti berangkat sekolah lebih pagi dari biasanya, pada pukul 05:30 subuh. Pemberlakuan itu menimbulkan banyak kekacauan di masyarakat. Merujuk kepada buku Tjamboek Berdoeri, sebuah memoar karya Kwee Thiam Tjing, yang mengisahkan betapa orang-orang Jawa di bawah Jepang yang harus menyesuaikan waktu Tokyo. “Kwee Thiam Tjing menulis kalau dia sering ngantuk karena harus bangun tidur lebih cepat dari biasanya,” katanya.

Bukan hanya jam, sistem penanggalan pun disesuaikan dengan penanggalan sumera, yang membuat orang Indonesia jauh lebih tua 660 tahun dari orang Jepang. Ditahun 1942 disetarakan dengan 2602 tahun sumera yang berarti umur orang Jawa jauh lebih tua 660 tahun dari orang Jepang.” Bahkan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pun menggunakan tahun sumer, yakni 2605, bukan 1945.

Ketika Belanda kembali menduduki sebagian daerah di Indonesia pada 1947, zona waktu di Indonesia terbagi tiga. Ini karena Belanda mengubah zona waktu Indonesia secara sepihak. Tiap zona berselisih GMT + 6, + 7, dan + 8, kecuali Papua yang berselisih GMT + 9. Tidak diketahui secara pasti pertimbangan apa yang melatarbelakangi pembagian waktu ini. Namun, pembagian ini tak berlangsung lama. Pada 1950, Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Dengan demikian, Indonesia kembali ke pembagian enam zona waktu dengan selisih 30 menit tiap zona. Aturan ini tertuang dalam Keppres RI No. 152 Tahun 1950 yang mulai berlaku pada 1 Mei 1950. Hanya Irian yang masih menggunakan peraturan Belanda tahun 1947 karena masih diduduki Belanda.

Keppres itu bertahan selama 13 tahun. Pada 1963, Indonesia hanya terbagi atas tiga zona waktu: barat, tengah, dan timur. Irian Jaya yang telah kembali ke dalam wilayah Indonesia masuk zona timur bersama daerah tingkat I Maluku karena terletak pada 135 derajat bujur timur. Selisih waktunya dengan GMT adalah + 9. Daerah Tingkat I dan istimewa di Sumatera, Jawa, Madura, dan Bali masuk zona barat karena terletak pada 105 derajat bujur timur. Wilayah-wilayah ini berselisih + 7 dari GMT. Zona Indonesia Tengah meliputi Daerah Tingkat I di Kalimantan, Sulawesi, dan Nusa Tenggara. Letak bujurnya adalah 120 derajat bujur Timur dan berselisih + 8 dari GMT. Itu artinya, ada selisih satu jam di tiap zona. Pembagian ini dikukuhkan melalui Keppres No. 243 Tahun 1963. Beberapa pertimbangannya antara lain, segi sosial, agama, efisiensi ekonomi, dan penyederhanaan. Pembagian itu dimulai secara resmi sejak 1 Januari 1964.

Keberatan-keberatan segera muncul dari beberapa kalangan sejak diterapkannya pembagian tiga zona itu. Mereka menilai pembagian waktu itu janggal. Orang-orang di Sabang dan Pontianak harus bangun lebih pagi karena jam terbit matahari menjadi lebih awal. Tak sesuai dengan waktu terbit sebenarnya. Apalagi kota Pontianak ternyata justru tidak masuk zona barat walaupun terletak dalam bujur yang sama dengan Tegal. Sementara itu, Bali justru masuk zona barat meski terletak dalam bujur zona tengah.

Atas beberapa pertimbangan lain seperti pariwisata dan keberatan sebagian kalangan, pemerintah mengeluarkan peraturan baru mengenai pembagian waktu melalui Keppres RI No. 41 Tahun 1987. Tidak ada perubahan pembagian zona waktu dalam peraturan baru tersebut. Indonesia tetap terbagi atas tiga zona waktu. Hanya beberapa daerah yang ditukar zona waktunya. Bali, misalnya, masuk ke zona tengah karena pertimbangan pariwisata, sedangkan Kalimantan Barat dan Tengah ditarik masuk ke zona barat dari zona tengah. Pembagian waktu ini berlangsung hingga sekarang meski usul perubahan pembagian waktu menjadi satu zona terus berkembang akhir-akhir ini.

Pada 11 Maret 2013, Menko Bidang Perekonomian Hatta Rajasa menggulirkan wacana untuk menyatukan zona waktu di seluruh wilayah Republik Indonesia. Menurutnya penyatuan zona waktu dilakukan dengan alasan efisiensi kinerja sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi.

Singapura pun menentukan waktu sejam lebih cepat karena tak mau ketinggalan dengan negara Asia Tenggara lainnya. Sebenarnya Singapura memiliki kesesuaian waktu dengan Indonesia bagian barat, khususnya Sumatera. “Lee Kuan Yew tak ingin warga Singapura ketinggalan. Kalau dilihat, anak sekolah di sana berangkat pagi-pagi sekali,” kata Didi.

Namun, apakah penggabungan zona waktu di seluruh wilayah Indonesia mampu pula mengubah etos kerja dan budaya orang Indonesia? Kita tunggu saja nanti.



sumber : historia magazine