Showing posts with label Gaya hidup. Show all posts
Showing posts with label Gaya hidup. Show all posts

Friday, April 6, 2018

Asal mula celana hotpant & Perkembangannya



PEREMPUAN pakai hotpants alias celana superpendek dan ketat di pusat-pusat perbelanjaan atau tempat umum lainnya sudah jadi pemandangan biasa. Dulu pemakainya terbatas kalangan artis.

Hotpants diperkenalkan perancang busana terkemuka asal Prancis, Yves Henri Donat Mathieu Saint Laurent atau lebih dikenal dengan Yves Saint Laurent, pada 1970. Setahun kemudian ia menjadi busana populer di dunia. Juga di Indonesia.

Perancang busana dan aktris film Baby Karnadi Huwae menyebut bahwa penyanyi, pemain film, dan peragawati Marjolien Tambajong atau lebih dikenal dengan nama Rima Melati sebagai pionir hotpants di Indonesia. Meski begitu, Baby tak melihat hotpants sebagai mode yang baru.

“Mode itu 25 tahun yang lalu sudah ada. Dahulu disebut orang short,” kata Baby, yang memiliki nama asli Baby Constance Irene Theresia Huwae kepada Varia edisi 19 Mei 1971.

Dalam Kamus Mode Indonesia karya Ninuk Irma Hadisurya, mini adalah pakaian perempuan berupa rok atau gaun pendek di atas lutut. Ia populer pada 1960-an sebagai bagian dari revolusi mode. Maxi merupakan pakaian perempuan berupa rok atau gaun sepanjang mata kaki atau lebih dan populer pada 1970-an. Sedangkan midi adalah pakaian perempuan berupa rok atau gaun sepanjang setengah betis.

Bisa dibilang, hotpants merupakan sebuah revolusi pakaian perempuan menuju lebih modern, ketimbang mini, midi, dan mixi.

Pada awal kemunculannya di Indonesia, kuning menjadi warna hotpants paling populer. Bahan yang baik untuk membuat hotpants, kata Baby, harus yang mudah melar dan ketat.

Keberatan Organisasi Perempuan

Pada awal kemunculannya di Indonesia, hotpants dikenal pula dengan istilah celana katok alias celana dalam.

Bukan sesuatu yang mengherankan bila Rima terpapar mode baru itu dengan cepat. Ibunya, Non Kawilarang, seorang perancang busana terkemuka pada masa itu. Menurut Kamus Mode Indonesia, Non Kawilarang yang bernama asli Adriana Paula Adeline Kawilarang termasuk pelopor industri mode di Indonesia. Pengetahuan Rima soal hotpants bisa jadi diperoleh dari ibunya.

Apalagi Rima saat itu seorang peragawati. Tak heran kalau ia pun mengikuti perkembangan mode dunia.

“Di negeri yang berhawa panas, seperti Indonesia, hotpants sesuai sekali untuk semua orang,” ujar Rima, peraih Piala Citra dalam Festival Film Indonesia 1973 untuk kategori Pemeran Utama Wanita berkat aktingnya dalam film Intan Berduri.

Rima memprediksi, setelah ia memakai dan memperkenalkannya, mode baru itu bakal tambah populer. Namun hanya terbatas di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, Manado, dan Makassar.

Menurut aktris yang pernah bermain di 97 judul film layar lebar itu, perkembangan hotpants terhambat lantaran keberatan sejumlah organisasi perempuan, baik dari sisi moral maupun keamanan pemakainya.

Suka Tidak Suka

Tak semua publik figur menyukai hotpants. Salah satu istri Bung Karno, Naoko Nemoto alias Ratna Sari Dewi, tak mau ikut-ikutan pakai hotpants, sewaktu ia ada di Paris, Prancis. Padahal saat itu Paris sedang musim panas, dan orang-orang menggunakan hotpants dan rok mini untuk berjalan-jalan di luar rumah.

“Saya tidak anti-hotpants dan tidak antimini. Tapi saya tidak suka memakainya. Saya lebih suka memakai midi atau maxi ataupun kimono Jepang atau kebaya Indonesia,” kata Ratna kepada Varia, 12 Mei 1971.

Karena bentuk tubuhnya yang kecil dan agak pendek, Ratna tak percaya diri memakai hotpants. Menurutnya, hotpants hanya sesuai untuk perempuan langsing dan berkaki panjang.

Tapi, tanpa terelakkan hotpants digandrungi perempuan Indonesia.

“Kini telah banyak wanita-wanita di Jakarta yang muncul di jalan-jalan raya, di toko-toko, dan tempat-tempat ramai dalam pakaian hotpants,” kata Baby, pemilik Baby Boutique, kepada Varia, 12 Mei 1971.

Baby tak ketinggalan memamerkan foto-foto modelnya seperti Poppy, As, dan Rita dalam busana hotpants. Tentu saja ia tak mau melewati peluang menangguk untung dari mode yang baru dikenal di Indonesia.

Celana seksi ini secara tak langsung dipopulerkan melalui media film. Aktris film Eva Arnaz dan Lydia Kandou dalam beberapa film pada 1980-an mengenakan hotpants.

Seiring waktu, hotpants menjadi mode yang biasa dikenakan remaja, hingga kini. Kendati masih ada yang berpandangan negatif.


© 2016 Majalah Historia

Friday, February 2, 2018

Sejarah & Asal Usul Bedak



BAGI perempuan karier seperti Ira Surjaman, berusia 33 tahun, bedak bukan hanya untuk kecantikan tapi juga kesehatan. “Karena bedak bisa melindungi kulit dari debu dan sinar matahari,” ujar karyawati swasta yang berkantor di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta, kepada Historia.

Bedak menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang-orang di berbagai bangsa selama berabad-abad. Awalnya, orang menggunakan bedak bukan untuk tujuan keindahan tapi lebih karena alasan spiritual. Membalur tubuh dengan bedak dianggap bisa menjauhkan diri dari roh-roh halus. Orang-orang Timur Jauh menggunakannya khusus untuk acara pernikahan atau pertemuan lainnya. Baru setelah Ratu Cleopatra menggunakannya sebagai lapisan dasar kosmetik, fungsi estetis bedak lebih menonjol.


Cleopatra sangat peduli dengan penampilan. Selain ahli parfum, dia punya perhatian besar terhadap bedak. Dia menggunakan beragam bahan, beberapa di antaranya sangat eksotis. Mungkin yang “terhebat” adalah kotoran buaya, yang dia buat menjadi bubuk halus.

Bangsa Mesir umumnya membuat bedak dari campuran kapur dan tanah liat. Namun dalam jumlah yang lebih sedikit, mereka menambahkan timah putih. Penggunaan timah putih juga umum di Dunia Timur maupun Barat kuno. Penggalian arkeologis situs Mesir Kuno, Lembah Sungai Indus, makam Yunani, serta makam Dinasti Chin dan Han di China, membuktikannya.

Sebelum Mesir, orang-orang Sumeria menggunakan bunga ochre kuning untuk bedak wajah. Mereka menamai bedak itu “golden clay” atau “face bloom”. Orang-orang Mesopotamia lalu meneruskan kebiasaan leluhurnya ini dengan sedikit modifikasi. Mereka menggunakan ochre merah atau daun pacar (henna). “Bangsa Mesir kurang liberal dengan bedak mereka,” tulis Robert James Forbes, ahli kimia-cum-sejarawan sains asal Belanda, dalam Studies in Ancient Technology, Vol. 8., “meski gambar-gambar yang ada menunjukkan bahwa perempuan kuno Mesir sangat paham bagaimana menggunakan kain pemoles bedak.”

Berbeda dari bangsa Mesir, orang-orang Timur Jauh (China, Jepang, dan sekitarnya) umumnya menggunakan bahan tepung beras. Setelah itu, artis zaman Dinasti Tang memakai bedak yang terbuat dari mutiara sebelum naik panggung untuk melindungi dan mempercantik kulit. Kaisar Dowager dari Dinasti Ching lalu mengikutinya jauh setelah itu. Bangsa Yunani dan Romawi, kemudian dilanjutkan Eropa, membuat bedak dari gandum. Meski penggunaan bedak mulai meluas, ia masih terbatas di kalangan orang kaya atau bangsawan.

Penggunaan bedak menentukan status sosial. Warna kulit, dalam banyak budaya, menjadi pembeda strata masyarakat. Orang Mesir –dan banyak bangsa lainnya– sangat menghormati mereka yang berkulit putih. Dalam anggapan mereka, perempuan putih berarti tak keluar rumah untuk bekerja di bawah terik matahari yang menyengat. “Di Asia, kulit putih dijadikan tanda kebangsawanan, anggota golongan elit, dan warna putih merupakan simbol murni kecantikan diri dan keningratan,” tulis majalah gaya hidup, LUXemag.

Penggunaan beras sebagai bahan pembuatan bedak sempat membuat persediaan beras menurun pada abad ke-15. Namun itu tak menghalangi orang-orang kaya untuk berdandan. Bahkan seabad kemudian, beras dan terigu menjadi inti dari mode dan gaya hidup di Prancis, Spanyol, dan Inggris. Para perempuan ningrat menaburkan banyak bedak ke wajah, tangan, dan bahu untuk menyembunyikan cacat di kulit atau membuatnya terlihat lebih muda dan segar.

Campur-tangan penguasa membuat pamor bedak meredup pada akhir abad ke-18. Penguasa Prancis, lalu diikuti negara Eropa lainnya, melarang pembuatan bedak untuk menghemat terigu atau beras –yang didapatkan dari perdagangan dengan dunia Timur. Ratu Victoria juga sempat melarangnya karena menganggapnya vulgar. Kala itu bedak juga merupakan aksesori utama para pelacur. Bedak mulai meraih popularitasnya kembali di awal abad ke-20.

Bedak dengan wujud seperti sekarang diciptakan di Prancis. Bahan dasarnya talk tanpa campuran timah yang bisa mengiritasi kulit. Hampir bersamaan, dan ini menarik, Anthony Overton meluncurkan bedak pertama untuk orang Afro-Amerika dengan merek High Brown Brand –kala itu orang kulit putih masih melarang orang kulit hitam menggunakan bedak. Pada 1923, perusahaan Inggris Laughton & Sons menciptakan wadah bedak kompak yang nyaman, lengkap dengan sponsnya. Jeda beberapa saat, penata gaya legendaris Hollywood Max Factor meluncurkan bedak dasar yang bisa digunakan setiap hari, Pan Cake. Lalu, Helena Rubinstein membuat bedak murah pada awal 1940-an dengan merek yang menggunakan namanya. Bedak dengan fungsi lebih spesifik juga bermunculan. Perusahaan Johnson & Johnson (J&J), yang awalnya tak sengaja terjun di segmen ini, mengembangkan dan meraih keuntungan dari bedak bayi.

Konsumsi bedak terus meningkat. Di Amerika Serikat, menurut sejarawan Gary Dean Best, sebagaimana ditulis Brian Greenberg dan Linda S. Watt dalam Social History of the United States, Vol. 1,pada akhir 1920-an saja perempuan Amerika tiap tahunnya menggunakan 4.000 ton bedak. Itu belum termasuk produk kosmetik lainnya.

Kini, bedak menjadi bagian tak terpisahkan dari hampir setiap orang, terutama perempuan. Di dalam ataupun di luar rumah, dengan santai atau terburu-buru, perempuan membedaki wajah menjadi pemandangan yang familiar.


Sumber : Majalah Historia

Friday, January 5, 2018

Kisah Awal Majalah Playboy



Playboy adalah sebuah majalah dari Amerika, majalah ini khas untuk lelaki yang memaparkan gaya hidup yang mempunyai gambar-gambar wanita bigil dan juga kewartawanan dan fiksyen. Ia diasaskan di Chicago pada tahun 1953 oleh Hugh Hefner dan rakan-rakannya.

Majalah Playboy mempunyai wawancara bulanan tokoh terkenal, seperti artis, arkitek, ahli ekonomi, komposer, konduktor, pengarah filem, wartawan, penulis novel, playwrights, tokoh agama, ahli politik, ahli sukan dan pemandu kereta lumba. Majalah ini umumnya mencerminkan pendirian editorial liberal.

Selain gambar-gambar sensasi, Playboy juga menulis artikel mengenai sukan, barang-barang komersial dan wawancara dengan tokoh-tokoh ternama seperti Bob Dylan, Michael Jordan, Bill Gates dan Mohammad Ali. 

Playboy juga pernah melakukan wawancara pemimpin-pemimpin seperti Fidel Castro, Yasser Arafat, Moammar Ghadafi dan Malcolm X.Majalah ini mempunyai sejarah yang panjang menerbitkan cerpen oleh penulis novel terkenal seperti Arthur C. Clarke,  Ian Fleming, Vladimir Nabokov,  Saul Bellow, Chuck Palahniuk, PG Wodehouse, Haruki Murakami, dan Margaret Atwood. Dengan paparan biasa warna kartun halaman penuh, ia menjadi contoh bagi kartunis terkenal, termasuk Harvey Kurtzman, Jack Cole, Eldon Dedini,  Jules Feiffer, Shel Silverstein , Erich Sokol,  Gahan Wilson, dan Rowland B. Wilson. 

Pada tahun 1953 ditubuhkan di Chicago oleh Hugh Hefner dan rakan-rakannya dan dibiayai sebahagian dengan pinjaman $ 1,000 dari ibu Hefner. 

Hefner kemudiannya mendaftarkan majalah ini menjadi Playboy Enterprise Inc, dimana Playboy tidak tertumpu pada majalah saja, tetapi juga pelbagai bentuk media seperti penerbitan, kebenaran untuk menggunakan nama Playboy untuk tujuan komersil, Playboy TV, dan hiburan.  
Edisi pertamanya yang terbit pada bulan Disember 1953 di Amerika, tidak mempunyai tarikh kerana Hefner sendiri tidak yakin akan menerbitkan edisi kedua. 

Hefner tidak mempunyai cukup wang untuk membayar model di Playboy, jadi ia membayar hak cipta photo-photo wanita cantik dari kalendar untuk diterbitkan di majalahnya. 

Gambar kalendar Marilyn Monroe dalam edisi pertama dengan cepat menjadi sensasi. Majalah ini habis terjual hanya dalam masa seminggu. 
Keluaran pertamanyaterjual 53,991 salinan dengan harga 50 sen (dollar).


Wednesday, November 29, 2017

SITUS BELANJA ONLINE PALING POPULER SAAT "HARBOLNAS"



Bermula dari raksasa e-commerce asal Tiongkok, Alibaba yang mempupulerkan belanja online pada Singles Day setiap 11 November, sejumlah perusahaan e-commerce Asia turut meramaikan momen yang dikenal dengan 11.11 itu. Perusahaan e-commerce Indonesia pun tak ketinggalan. Sebut saja Blanja, Blibli, Bukalapak, Elevenia, Lazada, Shopee, dan Zalora.

Menanggapi tingginya antusiasme warganet di Indonesia pada Singles Day, perusahaan agregator belanja online iPrice Group pun melakukan riset untuk mengetahui popularitas perusahaan e-commerce pada 11 November lalu.

Berdasarkan wilayah, hasil riset iPrice Groupmenunjukkan bahwa popularitas e-commerce di Indonesia didominasi oleh 3 perusahaan, yakni Bukalapak, Lazada, dan Shopee.

Lazada mendapat popularitas tertinggi di Indonesia dengan mendominasi 21 provinsi, di antaranya Banten, Jawa Barat, dan Sumatera Barat sebagai 3 provinsi dengan nilai ketertarikan tertinggi. Strategi yang dilakukan Lazada adalah mempromosikan pesta diskon 11.11 sejak beberapa minggu sebelum 11 November. Lazada gencar menarik perhatian publik melalui iklan offline maupun online. Lazada juga menggaet sejumlah social media infuencer untuk meningkatkan kesadaran publik.

Shopee mengikuti Lazada di posisi kedua tertinggi dengan mendominasi 11 provinsi di Indonesia, di antaranya Bangka Belitung, Bengkulu, dan Kepulauan Riau dengan nilai ketertarikan tertinggi terhadap Shopee. Shopee meningkatkan kesadaran publik akan pesta diskon 11.11 dengan memanfaatkan halaman utama situs mereka. Pada halaman utama situs Shopee terpampang berbagai macam produk beserta persentase diskon yang ditawarkan.

Bukalapak menggenapi 3 posisi teratas hasil riset iPrice Group dengan mendominasi 2 provinsi, yakni Nusa Tenggara Barat dan Maluku Utara. Dalam mempromosikan momen 11.11, Bukalapak menggunakan program “Nego Terus Sampai Jodoh” yang memungkinkan pembeli untuk melakukan negosiasi harga sebanyak tiga kali untuk satu jenis barang.

Selain ketiga perusahaan di atas, sejumlah perusahaan e-commerce lain seperti Zalora dan Tokopedia juga mengalami peningkatan popularitas. Meski kenaikannya tidak setajam Lazada, Shopee, dan Bukalapak, namun  momentum 11.11 akhirnya mengembaikan popularitas perusahaan-perusahaan ecommerce di Indonesia.