Showing posts with label sejarah. Show all posts
Showing posts with label sejarah. Show all posts

Monday, July 23, 2018

RIWAYAT & JEJAK PENENTUAN HARI ANAK



Mulai tahun1986, Hari Anak Nasional rutin diperingati setiap tanggal 23 Juli. Sebelumnya, peringatan digelar pada tanggal yang berbeda-beda. Betapa rumit menentukan Hari Anak Nasional.

Menentukan Hari Anak Nasional –dulu masih menggunakan kata “Kanak-kanak”– sudah diupayakan Kongres Wanita Indonesia (Kowani), federasi dari organisasi-organisasi perempuan. Pada 1951, dalam salah satu sidangnya, Kowani sepakat untuk menyelenggarakan peringatan Hari Kanak-kanak Indonesia. Namun kesepakatan ini hanya secara prinsip, tanpa keputusan penentuan hari dan tanggalnya.

Menurut majalah Rona terbitan 1988, usulan yang masuk waktu itu: tanggal 3 Juli bertepatan dengan Hari Taman Siswa dan 25 November (Ronamenyebut 24 November) sebagai hari Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Kendati tanpa keputusan, tahun berikutnya digelar Pekan Kanak-kanak pada 18 Mei 1952. Dalam foto-foto koleksi Perpustakaan Nasional terlihat kemeriahan acara tersebut. Anak-anak berpawai di depan Istana Merdeka dan disambut Presiden Sukarno.

Baru pada sidang Kowani di Bandung tahun 1953 disetujui penyelenggaraan Pekan Kanak-kanak Indonesia setiap minggu kedua bulan Juli, saat luang menjelang kenaikan kelas anak-anak sekolah. Keputusan Kowani disetujui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Karena berpatokan pada libur sekolah, penyelenggaraan Pekan Kanak-kanak pun berubah-ubah. Menurut mingguan Djaja terbitan 1965, sejak 1956 Pekan Kanak-kanak diadakan tanggal 1-3 Juli sesuai keputusan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Tanpa nilai historis yang terkandung di dalamnya, penyelenggaraan Pekan Kanak-kanak terasa hambar. Maka, usulan tanggal kembali bermunculan seperti 2 Mei (hari lahir Ki Hajar Dewantara) dan 4 Desember (hari lahir Dewi Sartika). Kowani lagi-lagi tak bisa memutuskan dan menyerahkannya kepada pemerintah.

Menurut Buku Peringatan 30: i.e. tiga puluh tahun Kesatuan Pergerakan Wanita Indonesia, terbit 1958, ini berarti bahwa usul Jajasan Dewi Sartika untuk menjadikan tanggal 4 Desember sebagai Hari Kanak-kanak tidak dapat diterima Kowani.

Pada 1959, pemerintah akhirnya menetapkan tanggal 1-3 Juni. Artinya, Pekan Kanak-kanak diadakan berbarengan dengan Hari Kanak-kanak Internasional, yang sebelumnya digelar Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), organisasi perempuan yang dekat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Gerwani sendiri merupakan anggota Kowani. Bahkan punya pengaruh kuat.

Melihat kemeriahan Hari Kanak-kanak Internasional 1 Juni, yang seringkali dihadiri Presiden Sukarno, Kowani akhirnya menemukan tanggal yang selama ini dicari. Dalam Kongres ke-13 di Jakarta pada 24-28 Juli 1964, Kowani mengusulkan tanggal 6 Juni, hari lahir Sukarno, sebagai Hari Kanak-kanak Nasional.

Maka, pada 1965, peringatan Hari Kanak-kanak Internasional disatukan dengan Hari Kanak-kanak Nasional pada 1-6 Juni.

Ketika Orde Baru mulai berkuasa, semua hal yang berbau Sukarno disingkirkan. Termasuk Hari Kanak-kanak Nasional setiap tanggal 6 Juni. Tapi memilih gantinya ternyata tak mudah.

Gonta-Ganti Lagi
Untuk mencari gantinya, Kowani kembali mencari tanggal Hari Anak Nasional. Menurut majalah Rona, Kowani mendiskusikan masalah itu dengan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Hasilnya, tanggal 18 Agustus ditetapkan sebagai Hari Kanak-kanak Indonesia. Ketetapan ini mengambil nilai historis ketika UUD 1945 dinyatakan berlaku pada 18 Agustus 1945.

“Namun dalam pelaksanaannya hari-hari tersebut kurang praktis. Karena hari itu juga akan disibukkan dengan peringatan Hari Kemerdekaan,” tulis Rona.

Dalam Kongres Kowani ke-15 di Jakarta pada 18-20 Februari 1970, penentuan tanggal Hari Anak Nasional kembali dibahas. Kongres memutuskan penetapan Hari Kanak-kanak Nasional harus didiskusikan dengan tiga komponen pendidikan prasekolah, yakni Ikatan Guru Taman Kanak-kanak Indonesia (IGTKI), Gabungan Taman Kanak-kanak Indonesia (GTKI) –kini, Gabungan Organisasi Penyelenggara Taman Kanak-kanak Indonesia (GOPTKI)– dan Dinas Pendidikan Prasekolah (Dipras).

Kesempatan itu datang ketika digelar lokakarya mengenai pendidikan prasekolah dalam rangka Kongres GTKI pada 26-28 Maret 1970. Setelah dibahas, disepakati untuk mengusulkan kepada pemerintah agar tanggal 17 Juni ditetapkan sebagai Hari Kanak-kanak Nasional.

“Pertimbangannya, tanggal tersebut merupakan hari keramat,” tulis Rona tanpa menyebutkan seberapa keramat.

Bisa jadi dikaitkan dengan Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) IV pada 17 Juni 1966. Sidang MPRS itu menghasilkan beberapa ketetapan yang menjadi landasan Orde Baru: pengukuhan Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar), pembubaran PKI dan ormas-ormasnya, serta larangan ajaran marxisme-komunisme.

“Lagi pula di bulan Juni adalah saat yang tidak terlalu sibuk untuk anak-anak sekolah,” tulis Rona.

Kowani memperkuat usulan tersebut dengan mengirim surat kepada menteri pendidikan dan kebudayaan. Usulan itu mendapat respon. Keluarlah Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tertanggal 15 Juni 1971 No. 0115/1971 yang mengesahkan penetapan tanggal 17 Juni sebagai Hari Kanak-kanak Indonesia, menggantikan Hari Kanak-kanak tanggal 18 Agustus.

Maka resmilah Hari Kanak-kanak Nasional diperingati setiap 17 Juni. Pada 1983, misalnya, peringatan dipusatkan di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta.

Menurut Rona, karena namanya Hari Kanak-kanak Indonesia, penyelenggaraannya terbatas pada tiga komponen pendidikan prasekolah. Pesertanya juga hanya murid TK dan maksimal siswa kelas 2 sekolah dasar.
“Sekali lagi persoalan yang mendasar tetap belum terpecahkan. Tanggal tersebut dianggap kurang memiliki makna historis,” tulis Rona. Terlebih jika dikaitkan dengan anak-anak.

Momen Historis
Momen historis akhirnya didapat setelah Undang-Undang No. 4/1979 tentang Kesejahteraan Anak disahkan pada 23 Juli 1979. Tanggal itulah yang diusulkan GOPTKI untuk mengganti tanggal 17 Juni. Usulan itu merupakan hasil kongres GOPTKI ke-5 pada 1980.

“Alasannya, tanggal itu memiliki nilai historis dan simbolis, serta bersifat nasional, serta untuk menghindar dari subyektivitas kelompok,” tulis Rona.

Usulan itu juga dilengkapi saran mengganti istilah Hari Kanak-kanak Nasional menjadi Hari Anak-anak Nasional. Pertimbangannya, untuk menghilangkan anggapan bahwa peringatan itu hanya diperuntukkan untuk murid TK.

Empat tahun kemudian keluarlah Keputusan Presiden (Keppres) No. 44/1984 yang menetapkan 23 Juli sebagai Hari Anak-anak Nasional. Dan, seperti disebutkan pada pasal 5 Keppres tersebut, “Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini maka semua yang mengatur Hari Anak Nasional yang telah ada dinyatakan tidak berlaku.”

Kapanpun tanggalnya, yang terpenting jangan lupakan makna di balik peringatan Hari Anak Nasional.



Historia.id

Friday, June 29, 2018

ASAL - USUL & SEJARAH GITAR




Tanbur
Al Farabi (872-950 M), penulis buku Khitab Al-Musiqi al Khabir, menulis bahwa tanbur sudah diketemukan di jazirah Persia kuno, di jaman Akkadia, sekira 3000 SM. Instrumen ini kemudian populer di dataran Mesopotamia. ‘Leher’ tanbur, tempat bentangan senar, kebanyakan memiliki panjang sekira 70 cm. Sedangkan ‘badan’ tanbur, menyerupai buah pir. Har-Mose, musisi dari era Mesir kuno, dikuburkan bersama tanbur yang ia miliki, dimakam ratu Hatshepsut.

Kithara
Alat musik petik dari Yunani kuno ini terkait erat dengan upacara menghormati Dewa Apollo. Pemain kithara disebut kitharistu, biasanya untuk mengiringi sebuah lagu. Di Yunani kuno, sekira 800-479 SM, pertunjukan kithara dalam sebuah festival paling ditunggu. Kithara tersusun atas sebuah kotak resonator dari kayu yang disebut echeion, dua lengan tempat senar yang disebut pecheis, dan batang untuk menyetem nada yang dipasang melintang, menggabungkan dua lengan yang disebut kollopes. Kithara biasanya memiliki tujuh senar, yang dimainkan dengan dipetik.

Laud
Bangsa Moor, muslim yang mendiami semenanjung Iberia, membawa alat musik tanbur masuk ke Spanyol, sekira abad 12. Di sini, tanbur mengalami perubahan proporsi bentuk, mendekati gitar yang ada sekarang. Orang spanyol menambahkan fret, membuat ‘tubuh’ menjadi datar, dan memperpendek ‘leher’.

Vihuella
Pertengahan abad 15 hingga 16, alat ini banyak digunakan di Spanyol dan Portugis. Vihuella memiliki enam dawai, terbuat dari jalinan usus domba, yang dipasang ganda. Badan vihuella sudah menyerupai gitar modern, berbentuk angka delapan dan memiliki body belakang yang datar. Luis de Milan, musisi Spanyol, membuat komposisi musik vihuella berjudul Libro de música de vihuela de mano intitulado El maestro yang didedikasikan kepada Raja John III dari Portugal.

Gitar Klasik
Memasuki abad 19, gitar klasik mulai berkembang. Instrumennya menggunakan enam dawai tunggal dan penyeteman dengan nada E-A-D-G-B-E. Untuk menyesuaikan nada dawai, sudah menggunakan setelan bergerigi yang menggantikan model pasak. Antonio Torres (1817-1892) membuat perubahan pada body gitar menjadi lebih lebar. Gitar yang sedang berkembang di Eropa, merambat ke jazirah Amerika. Christian F. Martin, pendatang dari Eropa, mengembangkan senar baja untuk gitar akustik. Awal abad 20, muncul pemusik blues macam Robert Johnson dan Huddie Ledbetter.

Gitar Modern
Dawai dari baja ternyata memberi kelemahan pada gitar, yaitu tegangan senar yang kuat dapat merusak body hingga leher gitar. Kekuatan senar baja sendiri adalah suara yang lebih nyaring daripada senar yang terbuat dari usus atau serat nilon. Sekira awal 1900-an, C.F. Martin kemudian mengembangkan penahan berbentuk X di dalam tabung resonansi gitar.

Gitar Elektrik
Di tahun 1948, Clarence Leonidas Fender (1909-1991) meluncurkan gitar elektrik, bernama Broadcaster. Nama itu berganti menjadi Telecaster di tahun 1951. Leo Fender membuat gitar elektriknya mudah digunakan; mudah disetel; minim feed back dari senar dengan memberi amplifier khusus.


historia.id

Sunday, March 4, 2018

Sejarah/Riwayat Singkat Piala Oscar Di Academy Award



Piala Oscar adalah piala yang diberikan pada ajang Academy Awards, sebuah acara pemberian penghargaan film paling prestisius serta paling populer di dunia. Piala Academy Award dinamai Oscar ketika seorang pustakawan Academy Margaret Herrick melihatnya di sebuah meja dan mengatakan, "kelihatan persis seperti pamanku Oscar!". Nama tersebut tetap melekat dan kini digunakan seumum nama Academy Award sendiri, bahkan oleh pihak Academy sendiri. Bahkan situs web Academy menggunakan nama oscars.org dan situs web Penghargaan Academy Award adalah www.oscars.com


Academy Award bermula di Hollywood sekitar tahun 1927 dan merupakan suatu acara pemberian penghargaan atas kerja keras anggota Academy Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS), yaitu asosiasi professional pekerja film di Amerika. Kelompok ini memerlukan semacam piala untuk acara pemberian hadiah saat makan malam. Diceritakan, pada saat itulah istilah Oscar muncul. Seorang pembuat patung dari Los Angeles melihat sebuah patung ksatria yang berdiri di atas gulungan film dengan pedang di tangannya. Patung ksatria pertama kali dibuat menggunakan perunggu. Dan sekarang Oscar terbuat dari logam campuran, britanium, dan dilapisi emas dengan tinggi 34,3 cm dan beratnya 3,8 kg.

Alasan mengapa Oscar yang dipakai sebagai nama dari piala penghargaan tersebut masih belum jelas. Salah satu cerita menyebutkan bahwa patung ksatria terlihat mirip dengan seorang pustakawan yang biasa mereka panggil Paman Oscar. Berdasarkan kemiripan itu, para anggota Academy mulai menyebut Oscar kecil sebagai nama patung ksatria itu. Pada tahun keenam presentasi, kolumnis merujuk pada apa yang para staf sebut sebagai Academy Award of Meritas menjadi Oscar. Staf Academy lalu memakai nama kecil ini pada tahun 1939.

Semua yang dimulai pada saat makan malam yang dihadiri 270 anggota tersebut berubah menjadi suatu tradisi yang mendunia yang tak kurang dari 6000 anggota academy menghadirinya.

sumber:http://eksplorasi-dunia.blogspot.com/2010/03/piala-oscar-dan-sejarahnya.html

Monday, February 5, 2018

Sejarah Keberadaan Bendungan Katulampa



Bendungan Katulampa terletak di Kelurahan Katulampa, Kota Bogor. Bendungan ini akan menjadi pusat perhatian masyarakat Jakarta terutama saat musim hujan tiba. Berikut adalah Sejarah Bendungan Katulampa. 

Dalam sejarahnya, bendungan Katulampa mulai beroperasi sejak 1911, namun perencanaan pembangunannya sudah dimulai sejak 1889 setelah banjir besar melanda sebagian wilayah Jakarta di tahun 1872. Bahkan konon banjir tersebut juga melanda kawasan elit Harmoni.

“Het was hoogst noodig dat deze permanente dam tot stand kwam, nu kan Weltevreden geregeld spuiwater krijgen en de kans op groote overstroomingen te Batavia is vrijwel uitgesloten. Adalah sangat perlu bendungan permanen ini direalisasikan, kini Weltevreden (Menteng) bisa secara teratur memperoleh pengairan dan peluang banjir besar di Batavia nyaris tertutup,” (Bataviaasch Nieuwsblad, 12 Oktober 1912).

Bendungan Katulampa dirancang oleh Ir. Hendrik van Breen, seorang arsitek yang juga pejabat Ingenieur der Gouvernements Waterleidingen (semacam PDAM di Batavia). Bendungan ini memiliki panjang total 74 m, dengan 5 inlaatsluis (pintu untuk mengalirkan arus ke kawasan di bawah), 3 spuisluis (pintu untuk menahan air, jika volume air berlebihan dan mengancam kawasan bawah), dengan lebar masing-masing pintu 4 m. Pembangunannya sendiri dikabarkan telah menelan biaya 80.000 Gulden yang dimulai 16 April 1911 dan diresmikan pada 11 Oktober oleh Gubernur Jenderal Hindia-Belanda saat itu, Alexander Willem Frederick Idenburg. 

Saking pentingnya bendungan ini, peresmiannya pun dihadiri oleh seluruh pejabat di pemerintahan Hindia-Belanda termasuk Gubernur Jenderal AWF Idenburg, Kepala Insinyur Negara Roos, Ir Van Dissel, Ir Hendrik van Breen, pengawas Leuwiliang dan Bogor, anggota dewan Ebbink, admnistrator D.Veenstra (Ciloear), Mulder (Kedoeng Halang), Valete (Pondok Gedeh), Sol (Ciomas), Residen Batavia, Asisten Residen (setingkat wedana) Bogor, serta para patih dari Bogor, Batavia, dan Meester Cornelis (Jatinegara). Peresmian itu bahkan dimeriahkan dengan gamelan dan tari-tarian serta upacara selamatan dengan mengubur kepala kerbau. 

Selain untuk memantau debit air Ciliwung, bendungan ini juga difungsikan sebagai sarana irigrasi yang mengairi lahan persawahan seluas 5.000 hektar yang dahulu banyak terdapat di sisi kiri dan kanan bendungan. Memasuki musim penghujan, bendungan ini bisa menampung air hingga debit 630 ribu liter air per detiknya, dan pernah mencapai ketinggian hingga 250 cm atau 2,5 meter pada tahun 1996,  2002, 2007, dan 2010. 

Dari Katulampa, air dari Sungai Ciliwung akan dialirkan melalui pintu air ke Kali Baru Timur (Oosterslokkan), yaitu saluran irigasi yang dibangun pada abad ke-18 atas prakarsa Gubernur Jenderal Baron van Imhoff. Saluran air ini melintasi Weltevreden (Menteng). Pembuatan kanal ini sebelumnya ditujukan untuk lalu lintas pelayaran ke daerah pedalaman ( ke arah Bogor).  Ide tentang lalu lintas sungai ini tidak hanya diprakarsai oleh Gubernur Jenderal van Imhoff saja, tapi juga Gubernur Jenderal Daendels telah memiliki rencana untuk menggali kanal untuk pelayaran ke dalam. 

Dari timur Bogor, sungai buatan ini mengalir sampai ke Jakarta melalui sisi Jalan Raya Bogor yang berlanjut sampai Cimanggis, Depok, Cilangkap, sebelum akhirnya bermuara di daerah Kali Besar, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Aliran kanal ini di masa lalu pernah digunakan untuk mengairi lahan persawahan yang dahulu terbentang antara Bogor - Jakarta.

Sampai dengan awal tahun 1990, lahan persawahan yang terkena aliran irigasi ini di Bogor dan Jakarta masih cukup luas, yaitu sekitar 2.411 hektar. Namun untuk saat ini, lahan persawahan tersebut seolah tidak bersisa, sebagian berubah menjadi kawasan pemukiman. Kalau pun ada, lahannya hanya sekitar 72 hektar dan itu pun tersebar di sebagian wilayah Bogor dan Cibinong. Sejak itu, fungsi irigasi dari Bendungan Katulampa tersebut menjadi tidak maksimal lantaran banyak persawaha yang sudah menghilang di Bogor dan Jakarta. 

Bendungan Katulampa hanya berfungsi untuk memantau ketinggian air saja dan tidak bisa digunakan untuk mencegah atau mengurangi banjir yang biasa datang di musim penghujan. Bendungan ini memang tidak memiliki kemampuan ntuk menahan maupun membuka-tutup pintu air. 

Ketinggian air yang melewati bendungan Katulampa akan dicatat dan dikirim ke bendungan lain yang ada di kawasan Depok dan Pintu Air Manggarai. Dari catatan yang dikirimkan itu, petugas bisa memperkirakan waktu kedatangan banjir kiriman itu ke Jakarta sehingga masyarakat yang terdampak bisa melakukan antisipasi sedini mungkin. 


Aries Munandi

Friday, February 2, 2018

Sejarah & Asal Usul Bedak



BAGI perempuan karier seperti Ira Surjaman, berusia 33 tahun, bedak bukan hanya untuk kecantikan tapi juga kesehatan. “Karena bedak bisa melindungi kulit dari debu dan sinar matahari,” ujar karyawati swasta yang berkantor di bilangan Jalan Sudirman, Jakarta, kepada Historia.

Bedak menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan orang-orang di berbagai bangsa selama berabad-abad. Awalnya, orang menggunakan bedak bukan untuk tujuan keindahan tapi lebih karena alasan spiritual. Membalur tubuh dengan bedak dianggap bisa menjauhkan diri dari roh-roh halus. Orang-orang Timur Jauh menggunakannya khusus untuk acara pernikahan atau pertemuan lainnya. Baru setelah Ratu Cleopatra menggunakannya sebagai lapisan dasar kosmetik, fungsi estetis bedak lebih menonjol.


Cleopatra sangat peduli dengan penampilan. Selain ahli parfum, dia punya perhatian besar terhadap bedak. Dia menggunakan beragam bahan, beberapa di antaranya sangat eksotis. Mungkin yang “terhebat” adalah kotoran buaya, yang dia buat menjadi bubuk halus.

Bangsa Mesir umumnya membuat bedak dari campuran kapur dan tanah liat. Namun dalam jumlah yang lebih sedikit, mereka menambahkan timah putih. Penggunaan timah putih juga umum di Dunia Timur maupun Barat kuno. Penggalian arkeologis situs Mesir Kuno, Lembah Sungai Indus, makam Yunani, serta makam Dinasti Chin dan Han di China, membuktikannya.

Sebelum Mesir, orang-orang Sumeria menggunakan bunga ochre kuning untuk bedak wajah. Mereka menamai bedak itu “golden clay” atau “face bloom”. Orang-orang Mesopotamia lalu meneruskan kebiasaan leluhurnya ini dengan sedikit modifikasi. Mereka menggunakan ochre merah atau daun pacar (henna). “Bangsa Mesir kurang liberal dengan bedak mereka,” tulis Robert James Forbes, ahli kimia-cum-sejarawan sains asal Belanda, dalam Studies in Ancient Technology, Vol. 8., “meski gambar-gambar yang ada menunjukkan bahwa perempuan kuno Mesir sangat paham bagaimana menggunakan kain pemoles bedak.”

Berbeda dari bangsa Mesir, orang-orang Timur Jauh (China, Jepang, dan sekitarnya) umumnya menggunakan bahan tepung beras. Setelah itu, artis zaman Dinasti Tang memakai bedak yang terbuat dari mutiara sebelum naik panggung untuk melindungi dan mempercantik kulit. Kaisar Dowager dari Dinasti Ching lalu mengikutinya jauh setelah itu. Bangsa Yunani dan Romawi, kemudian dilanjutkan Eropa, membuat bedak dari gandum. Meski penggunaan bedak mulai meluas, ia masih terbatas di kalangan orang kaya atau bangsawan.

Penggunaan bedak menentukan status sosial. Warna kulit, dalam banyak budaya, menjadi pembeda strata masyarakat. Orang Mesir –dan banyak bangsa lainnya– sangat menghormati mereka yang berkulit putih. Dalam anggapan mereka, perempuan putih berarti tak keluar rumah untuk bekerja di bawah terik matahari yang menyengat. “Di Asia, kulit putih dijadikan tanda kebangsawanan, anggota golongan elit, dan warna putih merupakan simbol murni kecantikan diri dan keningratan,” tulis majalah gaya hidup, LUXemag.

Penggunaan beras sebagai bahan pembuatan bedak sempat membuat persediaan beras menurun pada abad ke-15. Namun itu tak menghalangi orang-orang kaya untuk berdandan. Bahkan seabad kemudian, beras dan terigu menjadi inti dari mode dan gaya hidup di Prancis, Spanyol, dan Inggris. Para perempuan ningrat menaburkan banyak bedak ke wajah, tangan, dan bahu untuk menyembunyikan cacat di kulit atau membuatnya terlihat lebih muda dan segar.

Campur-tangan penguasa membuat pamor bedak meredup pada akhir abad ke-18. Penguasa Prancis, lalu diikuti negara Eropa lainnya, melarang pembuatan bedak untuk menghemat terigu atau beras –yang didapatkan dari perdagangan dengan dunia Timur. Ratu Victoria juga sempat melarangnya karena menganggapnya vulgar. Kala itu bedak juga merupakan aksesori utama para pelacur. Bedak mulai meraih popularitasnya kembali di awal abad ke-20.

Bedak dengan wujud seperti sekarang diciptakan di Prancis. Bahan dasarnya talk tanpa campuran timah yang bisa mengiritasi kulit. Hampir bersamaan, dan ini menarik, Anthony Overton meluncurkan bedak pertama untuk orang Afro-Amerika dengan merek High Brown Brand –kala itu orang kulit putih masih melarang orang kulit hitam menggunakan bedak. Pada 1923, perusahaan Inggris Laughton & Sons menciptakan wadah bedak kompak yang nyaman, lengkap dengan sponsnya. Jeda beberapa saat, penata gaya legendaris Hollywood Max Factor meluncurkan bedak dasar yang bisa digunakan setiap hari, Pan Cake. Lalu, Helena Rubinstein membuat bedak murah pada awal 1940-an dengan merek yang menggunakan namanya. Bedak dengan fungsi lebih spesifik juga bermunculan. Perusahaan Johnson & Johnson (J&J), yang awalnya tak sengaja terjun di segmen ini, mengembangkan dan meraih keuntungan dari bedak bayi.

Konsumsi bedak terus meningkat. Di Amerika Serikat, menurut sejarawan Gary Dean Best, sebagaimana ditulis Brian Greenberg dan Linda S. Watt dalam Social History of the United States, Vol. 1,pada akhir 1920-an saja perempuan Amerika tiap tahunnya menggunakan 4.000 ton bedak. Itu belum termasuk produk kosmetik lainnya.

Kini, bedak menjadi bagian tak terpisahkan dari hampir setiap orang, terutama perempuan. Di dalam ataupun di luar rumah, dengan santai atau terburu-buru, perempuan membedaki wajah menjadi pemandangan yang familiar.


Sumber : Majalah Historia

Sunday, January 28, 2018

Riwayat Istilah Oplet



Penikmat TV swasta dekade 1990an sering melihat oplet yang disupiri Mandra di sinetron legendaris Si Doel Anak Sekolahan. Padahal di dekade 1990an saja kendaraan itu sudah uzur umurnya. 

Dalam media populer, oplet tak hanya muncul dalam sinetron besutan anak-anak Sukarno M. Noor itu saja. Iwan Fals sudah menggambarkannya di pertengahan dekade 1980an dalam sebuah lagu. “Berjalan tersendat/ di antara sedan-sedan licin mengkilat/ Dengan warna pucat/ dan badan penuh cacat sedikit berkarat,” tulis Iwan (baca: Cerita tentang Aktor Serba Bisa Sukarno M. Noor).  

Dalam lagu yang muncul dalam album Barang Antik (1984) itu, Iwan Fals menggambarkan oplet butut sedang mencoba bertahan dari gerusan zaman di sekitar ibukota Jakarta. "Sainganmu mikrolet, bajaj dan bis kota/ Kini kau tersingkirkan oleh mereka," ujar Iwan Fals. 

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ia diartikan sebagai “mobil sedan yang susunan tempat duduknya diubah dan disesuaikan sebagai kendaraan umum yang ditambangkan”. KBBI menuliskan "opelet" sebagai bentuk baku, bukan "oplet" (baca juga: Ejaan Resmi Bukanlah Batas Suci). 

Ada yang menjadikan oplet sebagai sebutan kendaraan angkutan umum ukuran kecil, macam mikrolet. Namun, ada pula yang menjadikan oplet sebutan hanya untuk kendaraan lawas seperti yang tampil dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan saja. 

Hal ini senada dengan uraian John U. Wolf, dalam Formal Indonesian (1980). Ia mencatat: “Umumnya oplet terdiri dari mobil-mobil tua yang umurnya dari sudut teknologi telah uzur, bahkan menurut hukum perusahaan seharusnya telah puluhan tahun masuk kubur.” 

Seperti potongan lagu Iwan Fals tadi, oplet makin jadi barang antik yang bisa jadi mahal harganya di kalangan pecinta barang antik. Jenama (merek) oplet di masa lalu antara lain Austin, Morris juga Opel kecil. Apa pun jenamanya, semuanya disebut oplet. 

Seperti di beberapa daerah orang menganggap sepeda motor Yamaha, Suzuki atau lainnya sebagai honda — padahal Honda hanyalah salah satu jenama saja. Ini juga berlaku untuk Odol dan Sanyo, sebuah jenama yang lantas menjadi generik.

Ketika baru keluar dari pabrik, sebelum dijadikan angkutan umum, oplet sebenarnya diperuntukkan bagi 4-5 penumpang saja. Berkat karoseri alakadarnya — dengan seng dan kayu — maka 10 orang pun bisa dimuat. 

Tak hanya merek Austin, Morris atau Opel saja yang dijadikan oplet. Setelah Perang Dunia II, bahkan mobil Jeep sisa perang pun dimodifikasi dan kemudian dikenal dengan sebutan oplet juga. 

Di kota Padang, menurut Mardanus Safwan dalam Sejarah Kota Padang (1987), kendaran itu disebut sebagai oplet yang mematikan angkutan umum macam bis ukuran sedang. Di kota Balikpapan, kata orang-orang tua, Jeep yang dimodifikasi dengan seng dan papan itu disebut: taksi jamban (baca: Walikota Padang Gugur di Medan Juang). 

Ada beberapa pendapat soal asal kata "oplet". Menurut Rizal Khadafi dalam Jakarta Transportation Guide (2009), oplet berasal dari kata "autolet". Namun, menurut Transport and Communications Bulletin for Asia and the Pacific 53 (1979), istilah "oplet" berasal dari Opel yang sangat populer di Indonesia sebelum Perang Dunia II. 

Menurut Soe Potter, dalam An Indonesian Alphabet(2009), Opel cukup populer lalu jadi muasal kata oplet. Namun, pada dekade 1930an, sudah ada nama produk Opel bernama Opelette. "Lette" sendiri bisa diartikan "kecil". Jadi "Opelette" bisa diartikan "Opel kecil". 

Hal itu sesuai dengan data pembanding lainnya. Misalnya, buku General Motors in the 20th Century(2000) menyebut di tahun 1932 General Motor Java memproduksi mobil Opel bermesin 2.0 liter yang mampu memuat 7 penumpang dengan nama Opelette. 

Nama Opelette sendiri, menurut Nieuwshier van Dondergad (12/11/1953), adalah nama yang diberikan oleh Mr. J. Th. GC van Buuren, Sales Manager General Motors sejak 1928. “Kini kata oplet adalah nama yang umum digunakan untuk bus kecil,” tulis koran Belanda di tahun 1953 itu.

Penyalur Opelette adalah Lindeteves Stokvis. Mobil ini, dalam iklannya, diklaim buatan General Motor Amerika. Iklan mengklaim mobil tersebut dirakit di General Motor Tanjung Priok. Dalam iklan berbahasa Jawa, mobil ini disebut: "mesinnya 4 silinder, sasisnya kuat, bensinnya irit." 

Mobil ini bisa dibeli di Lindeteves yang punya bagian mobil di Batavia, Semarang, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, Palembang juga Padang. Memasuki zaman kemerdekaan, Mobil-mobil ini banyak yang jadi mobil angkutan umum berpenumpang, baik dalam kota maupun pinggiran. 

Setelah oplet-oplet makin tersisih, Opel sendiri masih berproduksi. Beberapa produknya masih bisa ditemui di jalan-jalan di Indonesia.

Opel merupakan produk Jerman. Adam Opel (1837-1895) mendirikannya pada 21 Januari 1862 di Rüsselsheim, Jerman. Menurut situs resmi Opel, Opel awalnya memproduksi mesin jahit. Sempat juga membuat sepeda, belakangan lalu memproduksi mobil. 

Pada 1928, General Motors membeli 80 persen saham Opel. Kala Opelette dirilis, Opel ternyata sudah menjadi bagian General Motors. 

Mobil Opelette, yang dilafalkan jadi "oplet" oleh orang Indonesia belakangan, tentu masuk dalam berita juga iklan surat kabar. Salah satunya berita kecelakaan di De Indische Courant (18/06/1938). 

Surat kabar itu melaporkan sebuah oplet yang berjalah dari arah Mentikan, Mojokerto, ditabrak truk militer di Lapangan Darmo. Kecelakaan ini terjadi akibat, menurut koran itu, “kesalahannya si Tionghoa pengemudi opelet, yang tidak mau mengalah dengan kendaraan lain. Akibatnya enam penghuni opelet tersebut cedera. Seorang penumpang bahkan mengalami luka yang membuatnya dibawa ke rumah sakit.” 

Berita lain soal oplet datang juga dari kantor berita nasional, Antara (17/08/1961). Mereka memberitakan kenakalan sopir-sopir angkot. 

“Pada saat-saat kita memperingati dwi-windu (16 tahun) kemerdekaan (Indonesia), disinyalir ada supir-supir oplet yang nakal, tidak mau memuat penumpang secara biasa, tetapi hanya mau menarik setjara borongan,” tulis Antara di paragraf pembukanya. Itu semua dilakukan karena tarif borongan bisa jauh lebih tinggi dari tarif normal. 


Sumber : tirto.id

Wednesday, January 24, 2018

Sejarah & Asal Usul Kapas Hingga Revolusi Industri




Tanaman kapas termasuk dalam genus Gossypium.

Kapas adalah tumbuhan asli daerah tropis dan sub tropis serta memiliki banyak spesies yang dibudidayakan di seluruh dunia.

Kapas memiliki serat lembut dan terdapat biji di dalamnya. Serat ini bisa dipintal menjadi benang yang kemudian digunakan untuk membuat kain katun yang nyaman digunakan di iklim tropis yang hangat.

Dari awal sederhana pada peradaban kuno, kapas berubah menjadi sebuah industri modern yang vital bagi perekonomian dunia saat ini.

Awal Penggunaan Kapas dalam Peradaban Manusia

Bukti tertua penggunaan kapas ditemukan oleh para arkeolog dari gua-gua Meksiko di mana sisa kain katun ditemukan dan diperkirakan berasal dari 8000 tahun yang lalu.

Kapas diketahui ditanam oleh orang-orang dari Peradaban Lembah Indus sejak tahun 3000 SM.

Selama periode yang sama, Mesir Kuno dan Peru Kuno telah membudidayakan kapas dan menenun seratnya menjadi kain.

Dari Peradaban Lembah Indus, seni membuat pakaian dari serat kapas kemudian menyebar ke Mediterania dan seterusnya.

Sejarah kapas di Eropa bisa dilacak pada sekitar abad ke-1 masehi ketika dibawa ke sana oleh para pedagang Arab.

Meskipun legislasi yang disahkan pada tahun 1700-an di Inggris menghambat penyebaran tekstil katun untuk koloni Inggris, biji kapas ditabur dan ditanam di wilayah Amerika yang dijajah oleh Spanyol.

Orang Spanyol tercatat menanam benih kapas di Florida dan Virginia pada tahun 1556 dan 1607.

Pada awal tahun 1600-an, kapas dibudidayakan oleh kolonis sepanjang Sungai James di Virginia.

Pasca Revolusi Industri

Dengan berawalnya Revolusi Industri di Inggris, industri kapas muncul sebagai penyokong utama perekonomian Inggris.

Penemuan mesin pintal “spinning jenny” dan “spinning frame” mempercepat proses produksi benang dan kain katun.

Pada tahun 1793, Eli Whitney dari Amerika Serikat menemukan mesin pemisah biji kapas yang lebih lanjut meningkatkan kapasitas produksi kain katun.

Didukung kemajuan teknologi, Inggris mulai memproduksi kain katun berkualitas tinggi pada tingkat yang jauh lebih cepat dari koloninya.

Pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, selama ekspansi Inggris di India, unit produksi kapas di India tidak dapat bersaing dengan kain katun yang diproduksi oleh wilayah lain.

Oleh karena itu, dari menjadi penyedia utama bahan katun, India kemudian sekedar menjadi pemasok kapas mentah ke Inggris.

Sekitar waktu yang sama, kapas Amerika menjadi sangat populer karena kualitas unggul yang dimilikinya.

Pada pertengahan abad ke-19, perkebunan kapas dari negara-negara Amerika Selatan yang terutama dikerjakan oleh budak Afrika, menjadi tulang punggung perekonomian seluruh negeri.

Selama Perang Saudara Amerika, negara-negara selatan menghentikan ekspor kapas terkenal ‘King Cotton’ ke Inggris dalam upaya untuk memaksa Inggris agar mengakui Negara Konfederasi atau untuk bergabung perang di pihak mereka.

Hal ini membuat pembeli kapas di Inggris dan Perancis berinvestasi dalam kapas Mesir.

Namun, dengan berakhirnya Perang Saudara di AS, Eropa meninggalkan pasar Mesir dan kembali ke kapas Amerika.

Hal ini menyebabkan kerugian besar bagi industri kapas Mesir dan menyebabkan kebangkrutan negara itu pada tahun 1876.

Sampai saat ini, kapas tetap menjadi sumber pendapatan utama bagi Amerika Serikat sekaligus berperan sebagai pemasok sebagian besar kapas dunia.


Sumber ; www.Amazine.co 

Tuesday, January 23, 2018

Apa Makanan Orang Jawa Kuno ? Ini Jawabannya.....


Makanan seperti apa dan bagaimana rasanya yang dikonsumsi oleh masyarakat Jawa Kuno?


Relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur, Magelang, yang menggambarkan aktivitas masyarakat Jawa Kuno sedang memasak kura-kura.

Data tentang makanan kebanyakan muncul dalam prasasti yang menuliskan aneka hidangan yang disuguhkan pada upacara sima (tanah perdikan atau tanah bebas pajak). Khususnya pada bagian penutup, yaitu acara makan bersama sebagai rangkaian upacara sima.

Bukan hanya dalam prasasti, naskah kuno dan panil relief juga sering menyajikan keterangan mengenai makanan. Berikut ini makanan-makanan yang dimakan orang Jawa Kuno.

Masakan dari nasi

Nasi tumpeng atau disebut skul paripurna biasanya disajikan dalam perayaan penetapan suatu desa sebagai sima. Dalam prasasti juga biasa disebutkan skul liwet, yaitu nasi yang ditanak dengan pangliwetan. Adapun skul dinyun adalah nasi yang ditanak dalam periuk. Sementara skul matimanadalah nasi yang ditim.

Masakan Ikan

Berdasarkan kesaksian para pelaut yang datang ke Asia Tenggara, hasil ikan pada masa Jawa Kuno sangat melimpah. Ikan-ikan itu biasanya disantap dengan lebih dulu diasinkan atau dikeringkan, yang disebut grih. Hingga kini orang Jawa menyebutnya gereh. Ada juga ikan yang dikeringkan yang disebut dendeng (deng atau daing). Ada dua macam rasa dendeng yang disebutkan dalam prasasti: asin atau tawar.

Satuan ukuran ikan asin disebut kujur yang diketahui dari Prasasti Waharu I atau Prasasti Jenggolo dari 851 saka atau 929 M. Tidak hanya disajikan saat penetapan sima, ikan asin juga untuk makan sehari-hari.

Umumnya jenis ikan yang biasanya diasinkan atau didendeng adalah ikan laut seperti ikan kembung (rumahan), tenggiri (tangiri), bawal (kadiwas), selar (slar), sontong/cumi-cumi (hnus), layar/pari (layar-layar), gabus, kerang-kerangan (iwak knas), kepiting laut (getam), kepiting sungai (hayuyu), dan udang (hurang). Ada pula beberapa jenis ikan lain yang dalam prasasti disebut dengan wagalan, kawan-kawan, dlag. Ikan lainnya tak diketahui habitatnya, seperti bijanjan, bilunglung, harang, halahala, dan kandari.

Masakan dari hewan ternak

Makanan sumber hewani selain ikan antara lain ayam (ayam), bebek (andah), angsa (angsa), babi ternak (celeng), kambing, dan kerbau (kbo/ hadangan). Hewan-hewan itu dalam prasasti hanya disebut sebagai penganan yang disayur. Kemungkinan ada juga makanan yang dipanggang.

Selain hewan yang diternak, masyarakat Jawa Kuno juga terbiasa mengkonsumsi babi hutan (wok), kijang (kidang), kambing (wdus), kera (wrai), kalong (kaluang), sejenis burung (alap-alap), hingga kura-kura (kura).

Rakyat dan kerajaan secara umum memiliki perbedaan tingkat konsumsi daging. Terkadang kebiasaan makan bersama dalam pesta yang diselenggarakan raja, seperti penetapan sima, maksudnya adalah membagi persediaan daging pada rakyat yang jumlahnya terbatas.

Sayuran

Lalap dari sayuran mentah juga sejak dulu sudah dikenal. Dalam prasasti, lalapan diistilahkan dengan Rumwahrumwah. Adapula kuluban, yang oleh orang Sunda saat ini diartikan sebagai sayuran yang direbus. Sementara dudutan juga sering disebut mungkin sejenis kangkung, salada, atau genjer yang cara memanennya seperti didudut atau dicabut.

Camilan

Selain lauk pauk dan masakan dari nasi, ternyata orang Jawa Kuno juga mengenal berbagai camilan. Prasasti Sanguran di Malang dari 850 saka (928 M), menyebutkan panganan bernama tambul dan dwadwal atau dodol.

Makanan Raja (Rajamangsa)

Prasasti sering menyebut makanan yang menjadi hak istimewa, atau istilahnya rajamangsa. Makanan ini termasuk kambing yang belum keluar ekornya, penyu badawang, babi liar pulih, babi liar matinggantungan, dan anjing yang dikebiri.

Hak mengkonsumsi makanan itu umumnya dijumpai pada prasasti yang memuat pemberian hak istimewa yang dikeluarkan sejak masa Mpu Sindok hingga masa Majapahit.

Ada juga asu buntung atau anjing yang tak berekor. Sementara cacing, tikus, keledai dan katak juga dijadikan masakan. Padahal hewan-hewan itu, menurut Nagarakrtagama termasuk makanan pantangan yang jika dilanggar mengakibatkan dihina musuh dan mati dalam kondisi bernoda.

Bumbu Dapur

Bagaimana rasa makanan-makanan itu? Yang jelas tak akan sama dengan rasa makanan saat ini. Bumbu Jawa yang kini populer baru pada masa kemudian diimpor. Jintan misalnya, tumbuh di Timur Tengah. Kuma-kuma (saffron) dibawa dari Mediterania. Adapun ketumbar aslinya dari Timur Tengah dan wilayah Mediterania.

Tanaman untuk bumbu yang diketahui ditanam di Jawa sejak lama adalah merica, lada hitam, lada putih, dan cabe Jawa. Sementara kemukus telah menjadi produk ekspor ke Tiongkok sejak 1200-an. Laos adalah tanaman Jawa. Marco Polo pernah mencatat tanaman ini diproduksi di Jawa pada abad 13. Adapun jahe dan bawang disebut sebagai produk yang diperjualbelikan di desa.

“Kita dapat memperkirakan makanan pada abad 10 M mungkin saja dibumbui dengan jahe, kunyit, kapulaga, dan laos, juga merica,” tulis Antoinette M. Barret Jones, peneliti epigrafi Indonesia asal Australia dalam Early Tenth Century Jawa From the Inscriptions.


Sumber : Majalah Historia

Monday, January 8, 2018

Diponegoro 8 Januari , 163 Tahun Yang Lalu

Image.wikipedia


Perjalanan hidup Pangeran Diponegoro adalah sebuah hijrah. Pada 8 Januari 1855, Pangeran Diponegoro wafat di tahanan pembuangan di Makassar. Keikhlasan dan kejujuran menjadi warna penting dalam episode akhir pemimpin utama Perang Jawa ini.

Sikap keikhlasan tergambar dalam pengakuan Justus Heinrich Knoerle (1796-1833), opsir pengawal asal Jerman yang mendampingi Diponegoro selama pelayaran ke Manado. Knoerle dipilih karena bisa berbahasa Jawa. Selama perjalanan, menumpang korvet Pollux (4 Mei-12 Juni 1830), Diponegoro sering bercakap-cakap dengan Knoerle di atas tikar.

“Selama itu saya memanggilnya Kanjeng Tuwan Pangeran, dan ia memanggil saya dengan kowe. Saya tanya dia, dan ia mengatakan artinya keluar dari hati yang tulus (manah waras) dan saya harus menganggapnya sebagai rasa ungkapan persahabatan,” tulis Knoerle dalam jurnalnya, seperti dikutip Peter Carey dalam Kuasa Ramalan.

Kepada Knoerle, Diponegoro berbicara mengenai misteri hidup, ketika dihadapkan pada pergantian roda nasib. Dia bercerita, sebelum Perang Jawa, dia memiliki 60 tukang hanya untuk memotong rumput demi kuda-kudanya di Tegalrejo. Namun, ketika menjadi buronan, untuk menghindari pasukan gerak cepat Belanda, dia hanya ditemani dua pengiring setianya, Banteng Wareng dan Joyosuroto. (Baca: Roto, Jenaka Pengiring Diponegoro)

“Di sinilah orang yang dapat kehilangan seluruh dunia, tetapi tetap teguh mempertahankan kemanusiaannya,” tulis Peter Carey dalam catatan kuratorialnya untuk pameran “Aku Diponegoro: Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa dari Raden Saleh hingga Kini” yang akan diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, Gambir, Jakarta Pusat, pada 6 Februari-8 Maret 2015. (Baca: Menghidupkan Pangeran Diponegoro)

Carey menilai perjalanan hidup Diponegoro sebagai pergerakan menciptakan dunia baru, yang dalam konteks Islam disebut hijrah. Diponegoro memulai hijrahnya pada sore hari dari Tegalrejo ke Selarong pada 20-21 Juli 1825. Hijrah kedua saat dia ditangkap Jenderal de Kock di Magelang, 28 Maret 1830, yang menandai awal masa seperempat abad menjadi tahanan dan buangan.

“Posisinya sebagai Ratu Adil ditukar dengan dua kamar yang menyedihkan dan membuat gerah di Fort Nieuw Amsterdam di Manado (1830-1833) dan kemudian di Fort Rotterdam Makassar (1833-1855),” tulis Carey. (Baca: Di Balik Fort Rotterdam)

Perjalanan hijrah Diponegoro berikutnya, lanjut Carey, yaitu “dari ranah badaniah perang ke ranah intelektual kepenulisan dan meditasi serta seni.” Kreativitasnya tumbuh dengan menghasilkan 1.150 halaman otobiografi (Babad Diponegoro) dan mengembangkan ketrampilan kaligrafi dalam gambar-gambar diagram mistis (da rah) serta menyalin Alquran. “Mereka yang mengamati dengan jeli transisi ini berbicara tentang ‘ketenangan, keikhlasan, atau kepatuhan Sang Pangeran yang tak tergoyahkan’, emosi-emosi yang Pangeran sendiri gambarkan secara lebih puitis seperti ‘emas yang dihanyutkan air’ (lir mas kintaring toyo).”

Membaca Babad Diponegoro, menurut Carey, terasa seolah-olah Sang Pangeran sedang duduk dan berbicara langsung kepada kita. Gaya ekspresinya bersemangat, lugas, dan jujur. Lihatlah pengakuannya saat menerima “penglihatan” dalam penampakan mistik Ratu Adil-nya bahwa dia tidak mampu berkelahi karena “tidak tahan melihat kematian”, atau kerelaannya memasukkan catatan mengenai kelemahannya yang “permanen” bila melihat perempuan.

Dalam menggenapi takdirnya, menurut Carey, Diponegoro menjalaninya seperti dalam tradisi samurai Jepang yang disebut “kemuliaan kegagalan” (the nobility of failure), yaitu kemampuan untuk tetap setia kepada sesuatu yang ideal. Dalam kasus Diponegoro, yaitu “menjunjung tinggi agama Islam di seluruh pulau Jawa” (mangun luhuripun agami Islam wonten ing Tanah Jawa sedaya), meskipun dia tahu tidak akan berhasil. Sebagaimana telah diramalkan kakek buyutnya, Mangkubumi (bertakhta 1749-1792), ketika Diponegoro masih bayi: “Ia akan menyebabkan kerusakan lebih dahsyat kepada Belanda daripada yang telah dia lakukan selama perang Giyanti (1749-1755) tetapi hanya Tuhan Yang Maha Kuasa yang tahu apa yang akan terjadi kelaknya.”



sumber : Majalah Historia

Saturday, January 6, 2018

Sejarah Singkat Pasukan Tjakrabirawa



Berbicara soal pemberontakan G30S/PKI, salah satu hal yang paling diingat adalah soal Resimen Tjakrabirawa yang disebut-sebut sebagai pasukan yang melakukan penculikan dan pembunuhan enam Jenderal TNI AD.

Dari berbagai sumber,  kita mengumpulkan dan menceritakan sedikit soal sejarah Resimen Tjakrabirawa. Dimana Resimen Tjakrabirawa adalah resimen yang merupakan pasukan gabungan dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Kepolisian Republik Indonesia yang bertugas khusus menjaga keamanan Presiden RI pada zaman pemerintahan Soekarno.

Komandan Resimen Cakrabirawa pada saat itu adalah Brigadir Jendral Moh. Sabur. Pada zaman pemerintahan Suharto, resimen ini dibubarkan dan anggotanya dipulangkan. Tetapi pasukan ini dibentuk kembali dan diubah namanya menjadi Paspampres (Pasukan Pengaman Presiden).

Cakrabirawa dalam dunia pewayangan merupakan senjata pamungkas milik Prabu Kresna yang jika dilepaskan bisa menyebabkan malapetaka yang dahsyat bagi musuhnya.

Pembentukan Resimen Tjakrabirawa ini dilatarbelakangi oleh beberapa percobaan pembunuhan yang dilakukan beberapa oknum terhadap Presiden Soekarno. Panglima TNI saat itu, Jenderal A.H Nasution lantas mengusulkan untuk dibentuknya pasukan khusus pengawal Presiden untuk melindungi sang kepala negara RI.

Setelah disetujui Presiden Soekarno, dibentuklan pasukan pengawal dengan nama Resimen Tjakrabirawa (Cakrabirawa) pada 1962. Nama Resimen Tjakrabirawa diambil dari nama senjata pamungkas milik salah satu tokoh pewayangan, Batara Kresna.

Mereka direkrut dari bekas pasukan Raider Angkatan Darat, Korps Komando (KKO) Angkatan Laut, Pasukan Gerak Tjepat (PGT) Angkatan Udara, dan Brigade Mobil diberi nama Batalyon KK (Kawal Kehomatan), dengan nomer urut I sampai IV.

Menurut Soekarno dalam otobiografinya, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, pasukan Cakrabirawa berkekuatan 3000 personel yang berasal dari keempat Angkatan Bersenjata. Dimana, setiap anggota Cakrabirawa berasal dari pasukan yang andal. Umumnya mereka berlatar belakang pejuang gerilya yang menonjol.

Batalyon I dan II bertugas di Jakarta dan Batalyon III dan IV menjaga Istana Bogor., Cipanas (Cianjur), Yogyakarta, dan Tampaksiring (Bali).

Karena penugasan tersebut, Markas Batalyon I KK berada di Jalan Tanah Abang (kini Markas Paspampres) dan Batalyon II menempati asrama Kwini (sekarang ditempati Marinir angkatan Laut).

Batalyon I KK berasal dari satu batalyon Angkatan Darat dipimpin oleh Mayor Eli Ebram.

Pada peristiwa Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia (G30S/PKI), pasukan elit ini disebut-sebut sebagai pelaku penculikan dan pembunuhan ketujuh jenderal yang ternyata hanya enam jenderal TNI AD setelah Jenderal A.H Nasution berhasil meloloskan diri.

Namun faktanya, tidak semua anggota resimen terlibat dalam tindakan keji tersebut, hanya beberapa orang saja, yang akhirnya mencoreng nama Resimen Tjackrabirawa. Beberapa anggota Tjakrabirawa yang terbukti terlibat dalam peristiwa itu dijatuhi hukuman mati, termasuk Letnan Kolonel Untung yang memimpin penangkapan dan pembunuhan itu.

Berikut nama-nama anggota Resimen Tjakrabirawa:

- Brigadir Jendral TNI. Sabur - Komandan Resimen Tjakrabirawa

- Kolonel Maulwi Saelan - Wakil Komandan Resimen Tjakrabirawa

- Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri - Komandan BatalyonI Tjakrabirawa - Komandan Gerakan 30 September/G30S

- Letnan Kolonel Ali Ebram - Staf Asisten I Intelijen Resimen Tjakrabirawa

- Letnan Satu Doel Arif - Komandan Resimen Tjakrabirawa - Komandan Regu pada Gerakan 30 September/G30S yang membunuh Jendral-Jendral TNI-AD (Pasukan Pasopati Gerakan 30 September/G30S)

- Pembantu Letnan Dua Djahurub - Prajurit Resimen Tjakrabirwa - Bergabung dengan pasukan LETTU Doel Arif dan menyerang dan membunuh Jendral A.H. Nasution (lolos)

- Sersan Satu Marinir Hadiwinarto P. Soeradi (NRP. 37265) - Prajurit Resimen Tjakrabirwa


Okezone.com

Thursday, January 4, 2018

Sejarah Pertama Kali Perayaan Tahun Baru



Berdasarkan Kalender Buatan Caesar, Tahun Baru Pertama Kali Dirayakan pada Masa Romawi.
Tahun Baru pertama kalinya dirayakan pada 1 Januari 45 Sebelum Masehi (SM) seiring dengan berlakunya kalender Julian.

Setelah dirinya menjadi diktator Romawi, Julius Caesar memutuskan bahwa kalender Romawi perlu untuk direformasi. Kalender Romawi yang dibuat pada abad 7 SM mencoba mengikuti siklus bulan tetapi berkali-kali tidak sesuai dan harus diperbaiki. Terlebih lagi, pontifices, badan yang dibentuk untuk mengawasi kalender itu seringkali menyalahgunakan kewenangannya dan menambahkan hari untuk memperbesar masa bakti politik atau ikut campur dalam pemilihan.

Dalam mendesain kalender baru, Caesar dibantu oleh Sosigenes, seorang ahli astronomi dari Alexandria yang mengusulkannya untuk meninggalkan siklus bulan sebagai patokan dan beralih menggunakan patokan tahun matahari seperti kalender Mesir. Satu tahun dihitung selama 365 ¼ hari dan Caesar menambahkan 67 hari di tahun 45 SM menjadikannya 46 SM berawal pada 1 Januari, bukan pada bulan Maret.

Dia juga menitahkan setiap empat tahun sekali satu hari ditambahkan pada bulan Februari untuk mencegah kalendernya tidak tertinggal. Beberapa saat sebelum dia dibunuh pada 44 SM, Caesar juga mengubah nama bulan keenam dari Quintilus menjadi Julius (Juli) sesuai dengan namanya. Belakangan nama bulan Sextilis juga diubah menjadi Augustus (Agustus) mengikuti nama penerus Caesar.

Perayaan Hari Tahun Baru pada Januari tidak banyak dipraktekkan selama Abad Pertengahan, dan bahkan mereka yang berpegang teguh pada kalender Julian tidak mengikuti Tahun Baru jatuh tepat pada 1 Januari. Hal itu dikarenakan Caesar dan Sosigenes gagal untuk menghitung nilai yang benar untuk tahun matahari 365.242199 hari, bukan 365,25 hari. Dengan demikian, kesalahan 11 menit per tahun yang menambahkan tujuh hari pada tahun 1000, dan 10 hari pada pertengahan abad ke-15.

Gereja Katolik Roma menyadari kesalahan tersebut dan pada 1570, Paus Gregorius XIII memerintahkan ahli astronomi Jesuit, Christopher Clavius untuk membuat kalender baru. Pada 1582 kalender Gregorian diimplementasikan dengan menghilangkan 10 hari pada tahun itu serta membuat aturan baru bahwa hanya satu dari setiap empat tahun yang dapat dijadikan leap year(satu tahun terdiri dari 366 hari). Sejak saat itu orang-orang di seluruh dunia berkumpul pada 1 Januari untuk merayakan hadirnya Tahun Baru.


 Okezone.com

Tuesday, January 2, 2018

Riwayat Singkat Trem Di Surabaya




Trem di Surabaya berawal dari kepentingan kolonialisme. Lantas mati pada masa kemerdekaan karena kalah bersaing dengan moda transportasi lainnya.

Kota Surabaya berencana membangun jalur trem sepanjang 17 km menghubungkan Wonokromo dan Kalimas. Trem itu akan menggunakan teknologi modern, namun jalurnya menggunakan jalur trem lama karena lebih dari 80 persen masih bisa digunakan. Jalur trem di Surabaya tak pernah secara resmi dibongkar. Ia terpendam di bawah aspal, tanah, atau material lainnya.

Trem di Surabaya mulai ada pada paruh kedua abad ke-19. Seperti di kota-kota lain, trem ini bagian dari upaya modernisasi transportasi semasa pemerintah kolonial Hindia Belanda demi alasan kepentingan perekonomian. Berbekal izin pada 1886, Ooster Java Stoomtram Maatschappij (OJS) menjadi perusahaan pengelolanya. Trayek awalnya meliputi tiga jalur (Belanda: lijn): Ujung-Sepanjang, Mojokerto-Ngoro, dan Gemekan-Dinoyo. Trem ini mulai beroperasi pada 1889. Trem-trem tersebut hilir-mudik saban setengah jam.

Seiring perkembangan kota, OJS terus menambah jalur, terutama di dalam kota. Antara 1913-1916, jalur sisi barat ke pusat kota dibuka. Beberapa persimpangan jalur lalu dibuat untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang terpisah, seperti dari Wonokromo dan Boulevard Darmo ke Willemspein (kini Jembatan Merah). “Orang sekarang dapat melakukan perjalanan setiap sepuluh menit atau kurang menggunakan trem yang semodern di Belanda,” tulis Howard W. Dick dalam Surabaya, City of Work: A Socioeconomic History, 1900-2000.

OJS mengandalkan trem listrik –dibangun pada 1911 dan selesai pada 1924– karena efisien, bebas polusi dan lebih bersih. Untuk mengoperasionalkan trem listrik, OJS harus membebaskan lahan sangat luas. “Kebutuhan untuk membeli hak jalan bagi jaringan (trem, red) listrik, Oost Java Stoomtram Maatschappij memutuskan untuk menangani bisnisnya secara bersamaan dengan real estate, sehingga menghindari klaim terlalu tinggi dan mendapat keuntungan sampingan dari naiknya harga tanah sekitar akibat adanya perbaikan transportasi umum,” lanjut Dick.

Bersama sarana transportasi lain yang terus dibangun, trem menggerakkan perekonomian kota. Para buruh yang umumnya tinggal di luar kota, sangat tergantung pada trem untuk mencapai tempat kerjanya. Pada 1927, sekira 11,4 juga orang menggunakan trem listrik dan 5,2 juta yang menggunakan trem uap. Trem secara tak langsung juga ikut memindahkan pusat kegiatan ekonomi Surabaya. “Kawasan bisnis, yang terletak di Jembatan Merah selama masa kolonial, pindah ke utara Tunjungan,” tulis Peter JM Nas dalam Directors of Urban Change in Asia.

Namun, kemunculan mobil yang hampir bersamaan dengan dimulainya operasional trem listrik membuat trem bersaing ketat dengan bus, taksi, opelet, atau mobil pribadi untuk mendapatkan penumpang. Setelah zaman malaise (krisis ekonomi dunia pada 1930), trem juga harus membagi penumpangnya kepada sepeda yang mulai masuk dari Jepang.

Bagi kaum pergerakan, trem dengan kelas-kelasnya dianggap simbol penjajahan. “Kereta api, trem, dan stasiun kereta api adalah tempat di mana yang memungkinkan orang untuk menandai perbedaan kelas, atau dipaksa untuk menerima posisi inferior seseorang,” tulis Dick. Serikat buruh keretapi dan trem di Surabaya melakukan pemogokan pada 1923 sebagai perlawanan terhadap ketidakadilan.

Masa sulit trem berlanjut ketika pendudukan Jepang. Trem sempat berhenti beroperasi selama tiga pekan akibat pemboman Sekutu terhadap instalasi listrik di dekat Malang yang merupakan pemasok listrik untuk Surabaya. “Hanya kereta api OJS, yang berbahan bakar kayu, yang bisa beroperasi menghubungkan Kedurus dan Sepanjang atau lebih jauh ke Ujung, dekat Pelabuhan Tanjung Perak,” kenang Des Alwi dalam Friends and Exiles: A Memoir of the Nutmeg Isles and the Indonesian Nationalist Movement.

Setelah Indonesia merdeka, pemerintah mengambilalih trem dan kereta api. Djawatan Kereta Api, yang menjalankannya, membagi penumpang berdasarkan harga tiket: kelas I (seharga 15 sen) dan kelas II (10 sen). “Ironisnya, kondisi itu justru menjadikan trem selalu merugi karena banyak penumpang yang tidak membayar,” ujar Ella Ubaidi, Executive Vice President Unit Pusat Pelestarian, Pemugaran, dan Arsitektur Design PT KAI, kepada Historia.

Buruknya manajamen Djawatan Kereta Api membuat keberadaan trem akhirnya “hidup segan mati tak mau”. Persaingan ketat dengan moda transportasi lain yang lebih modern, akhirnya membuat trem di Surabaya mati pada 1970-an.


 Majalah Historia

Saturday, December 23, 2017

Sejarah Singkat perseteruan Arab Saudi Dan Iran



Hubungan dua negara berkekuatan besar di Timur Tengah, Arab Saudi dan Iran, selalu memanas menyusul eksekusi mati seorang ulama Syiah, Nimr al-Nimr.

Keadaan mulai panas ketika pengunjuk rasa Iran menyerbu Kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran. Massa mencoba merangsek masuk gedung, menghancurkan furnitur dan memantik api, sebelum akhirnya berhasil dibubarkan polisi. Saudi lantas memutuskan hubungan diplomatiknya dengan Iran.

Nimr merupakan salah satu kritikus dari kelompok Syiah yang paling vokal memperjuangkan kesetaraan Syiah dengan Sunni di Saudi. Nimr dianggap sebagai teroris oleh Riyadh, tapi dipuji Iran sebagai pemerhati hak-hak kelompok Syiah yang minoritas dan terpinggirkan di Saudi.

Beberapa analis pun menganggap bahwa eksekusi Nimr dapat memperdalam jurang krisis sektarian antara Sunni dan Syiah di kawasan Timur Tengah.

Awal Perselisihan

Jurang pemisah ini sebenarnya sudah mulai ada sejak pecahnya Islam menjadi Sunni dan Syiah pada 14 abad silam. Kala itu, ada perdebatan mengenai siapa yang seharusnya meneruskan kepemimpinan umat Muslim sepeninggal Nabi Muhammad.

Paham Sunni akhirnya mendominasi hingga merengkuh 90 persen populasi Muslim dunia, terutama karena pergerakan Wahhabi di Arab Saudi. Namun pada 1979, Muslim Syiah mulai unjuk kekuatan.

Revolusi di Iran berhasil menggulingkan pemerintahan sekuler, menggantinya menjadi teokrasi. Mereka mulai menyatakan dukungan terhadap isu-isu Syiah di Libanon, Irak, dan daerah lain di seluruh penjuru Timur Tengah.

Transformasi Iran menjadi negara yang benar-benar Syiah setelah revolusi Islam memaksa Arab Saudi untuk meningkatkan pengaruh Wahhabi, seiring dengan meningkatnya kembali persaingan berabad-abad kedua negara untuk memperjuangkan interpretasi yang sesungguhnya mengenai Islam," tulis Dewan Hubungan Internasional, badan yang melakukan kajian tajam mengenai konflik sektarian.

Persaingan antara Arab Saudi dan Iran pun kian hebat dan semakin terang-terangan. Persaingan terbesar pertama terjadi pada 1987, ketika Saudi mendukung pemerintah Irak dalam perang berdarah dengan Iran.

Ketika perang mulai meluas, polisi antihuru-hara Saudi bentrok dengan jemaah haji Iran di Mekkah. Sekitar 400 orang tewas. Merujuk data Institute of Peace, sebagian besar korban merupakan umat Syiah Iran.

Balas dendam, pengunjuk rasa Iran menyerang kedutaan besar Saudi dan Kuwait. Seorang diplomat Saudi tewas.

Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ruhollah Khomeini, kemudian mendeklarasikan bahwa monarki Saudi bidah. Hubungan diplomatik kedua negara pun terputus selama empat tahun.

Hubungan membaik setelah Iran melakukan pemilihan umum presiden pada 1997. Puncaknya pada 2001, kedua negara menandatangani kesepakatan keamanan.

Namun dua tahun kemudian, hubungan kembali terpuruk, tepatnya ketika invasi Amerika Serikat di Irak berhasil menggulingkan Saddam Hussein. 

Kekuatan politik Syiah di Irak yang sebelumnya tertekan mulai unjuk gigi sehingga hubungan dengan Iran semakin kuat. Iran pun memiliki pengaruh lebih besar di negara-negara tetangganya.

Gesekan pengaruh Iran dan Saudi akhirnya ikut memuncak pada gerakan protes Arab Spring yang dimulai di Tunisia pada 2010. Kerusuhan sempat mencapai Arab Saudi dan sekutunya, Bahrain, di mana pemerintahan Sunni berkuasa di atas warga mayoritas Syiah.

Saudi dan sekutunya menuding Iran sebagai dalang di balik kerusuhan di Bahrain dan kemudian membantu negara tersebut untuk mengatasinya.

Tahun lalu, hubungan kian buruk dengan perdebatan mengenai penyebab tewasnya jemaah haji Iran pada April dan September lalu dalam dua insiden berbeda di Mekkah.

Proxy war

Bagaimana pengaruh konflik ini terhadap Timur Tengah dan dunia?

Singkatnya, akan ada matriks proxy war, di mana dua negara tak baku hantam secara langsung, melainkan adu kekuatan di daerah konflik lain.

Di Suriah, Iran mendukung pemerintahan Bashar al-Assad yang melawan mayoritas masyarakat Sunni. Saudi pun hadir untuk membela para pemberontak.

Di Yaman, kelompok pemberontak Syiah, Houthi, diduga memiliki hubungan dengan Iran. Dengan alasan untuk mendukung pemerintahan resmi di bawah Presiden Abd Mansour Hadi, Saudi mengirimkan pasukan serangan udara untuk menggempur Houthi.

Proxy war juga dirasakan di beberapa negara mayoritas Syiah, seperti Libanon, di mana Saudi berupaya meredam pengaruh Hizbullah yang didukung Iran. Ketegangan kedua negara juga terlihat di Irak, negara di mana Sunni yang mendominasi panggung politik kini taringnya mulai tumpul.

"Perang dingin" di antara dua negara besar Timur Tengah ini tak ayal berpengaruh terhadap kestabilan kawasan. Banyak negara akhirnya angkat bicara.

China meminta kedua negara untuk melakukan dialog dan negosiasi. Rusia juga melontarkan hal serupa.

Dalam keterangan resminya, Perancis meminta kedua negara untuk "melakukan segala sesuatu dengan kekuatan mereka untuk mencegah ketegangan sektarian dan agama yang lebih buruk."

Negara mayoritas Sunni, Pakistan, mengecam serangan di kedubes Saudi di Teheran pada akhir pekan lalu. Mereka menyerukan resolusi perbedaan melalui jalur damai merujuk pada kepentingan persatuan Islam.

Sekretaris Jenderal PBB, Ban Ki-moon, pun turun tangan dengan menelepon menteri luar negeri kedua negara. Ia meminta agar perang segera dituntaskan karena hubungan kedua negara mulai sangat mengkhawatirkan.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, John Kirby, merangkum seruan beberapa negara dengan berkata, "Apa yang ingin kami lihat adalah peredaan ketegangan. Kami ingin ada dialog dan kami ingin melihat hubungan diplomatik diperbaiki secara damai dan tanpa kekerasan." 


dikutip :CNN

Wednesday, December 20, 2017

Riwayat Singkat BRI


Dok.bangunan awal


BRI merupakan salah satu bank tertua di Indonesia. BRI didirikan di Purwokerto oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja dengan nama De Poerwokertosche Hulp en Spaarbank der Inlandsche Hoofden atau Bank Bantuan dan Simpanan Milik Kaum Priyayi Purwokerto.

Inilah lembaga keuangan yang melayani orang-orang berkebangsaan Indonesia (pribumi), dan menjadi cikal bakal BRI. Hari pendirian. Tanggal pendirian bank tersebut pada 16 Desember 1895, kemudian dijadikan sebagai hari kelahiran BRI. 

Kegiatan BRI sempat terhenti pada masa perang mempertahankan kemerdekaan pada tahun 1948. Operasional BRI baru mulai aktif kembali setelah perjanjian Renville pada tahun 1949 dengan berubah nama menjadi Bank Rakyat Indonesia Serikat. 

Sejak 1 Agustus 1992 berdasarkan Undang-Undang Perbankan No. 7 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah RI No. 21 tahun 1992 status BRI berubah menjadi perseroan terbatas. Kepemilikan BRI saat itu masih 100 persen di tangan Pemerintah Republik Indonesia. 

Pada tahun 2003, Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menjual 30% saham bank ini, sehingga menjadi perusahaan publik dengan nama resmi PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., yang masih digunakan sampai dengan saat ini.


tirto

Sunday, December 17, 2017

Riwayat Kaum Yahudi & Janjinya Tuk Kembali Ke Negeri Asal



Kaum Yahudi merupakan keturunan Nabi Ibrahim as, yang berasal dari Ur, Irak Selatan kemudian hijrah ke Kan’an Palestina sekitar tahun 2000 SM. Lahirlah Ishaq as yang memiliki putera Ya’qub as, kemudian Yusuf as. Setelah Yusuf as menjadi pembesar Mesir, Ya’qub as beserta keluarganya hijrah ke Mesir.

Namun, kondisi berubah ketika Yusuf as telah meninggal dunia, dan Kaum Yahudi meninggalkan syari’at-syari’at Yusuf as. Kondisi Kaum Yahudi yang semula terhormat bergeser menjadi kaum yang diperbudak berabad-abad oleh bangsa Hykhos dan bangsa Mesir sendiri yang menganut Pharaoisme.

Setelah berabad-abad, Musa as yang merupakan keturunan Bani Israil lahir membawa misi membawa kaumnya kembali untuk menyembah Allah. Namun, fatalnya Kaum Yahudi menolak perintah Musa untuk datang ke Palestina. Dan membangkang tetap melakukan penyembahan terhadap patung anak sapi emas.

Karena itu, Allah menghukum mereka selama 40 tahun terlunta-lunta di Padang Tih. Sampai turunnya Daud as dan Sulaiman as yang berhasil mendirikan kerajaan di Palestina tahun 1040-970 SM.

Pada tahun 586 SM, Nebukadnezar menaklukan kerajaan Yahuda dan seluruh bangsa Yahudi digiring ke Babilonia dan ditempatkan di Lembah Mesopotamia untuk menjalani kerja paksa (budak). Di sanalah para pemuka Yahudi menanamkan doktrin “Janji kembali ke kampung halaman” kepada pengikutnya.

Ketika Alexander the Great menguasai Palestina pada tahun 334 SM, ia membawa bangsa Yahudi ke Yunani. Inilah awal mula mereka menyebar ke berbagai kawasan Eropa. Kemudian sejak tahun 160 SM kaum Yahudi diintegrasikan ke dalam kekaisaran Romawi.

Setelah Islam datang di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab ra tahun 637M dan dilanjutkan kemenangan Khalid Ibn Walid atas Romawi Bizantium di Damaskus, Khalifah Umar kemudian mewakafkan Yarusalem dan tanah Palestina kepada umat di seluruh dunia.

Namun, pada tahun 1099 M tentara Salib (crusadres) berhasil menguasai Palestina dan Kota Yarussalem. Setelah 88 tahun dikuasai serdadu Perang Salib, kota Yerusalem, Palestina akhirnya kembali jatuh kepangkuan umat Islam. Tepat pada 2 Oktober 1187 atau setelah tiga bulan berjibaku dalam pertempuran Hattin, pasukan tentara Islam yang dipimpin Sultan Salahuddin al Ayyubi berhasil menaklukan dan membebaskan kota suci itu.


Pada 1516, Turki menaklukan Mesir. Turki menjadikan daerah Palestina sebagai salah satu provinsi dan gubernur dikirim dari Instanbul. Turki menguasai Palestina selama 4 abad. Mulai 1840, Turki membuka Palestina demi kepentingan ekonominya. Akhirnya muncul pelabuhan-pelabuhan dan konsulat-konsulat Eropa. Hal ini memunculkan semakin kecilnya pengaruh Turki dan membesarnya pengaruh para konsulat di sana. Sempat terjadi Perang Krim (1854-1856) karena persaingan antara Ortodoks Yunani dan Pendeta Latin.

Dalam naungan Islam, negeri Palestina, bangsa Yahudi, Filistin, dan Arab mengalami perdamaian sampai negeri tersebut terlepas pada thun 1917 M setelah Inggris mengalahkan Bani Ustmaniyah dalam Perang Dunia I. Tanggal 2 November 1917, keluar deklarasi menteri luar negeri Inggris, Arthur Balfour, yang dikenal sebagai Deklarasi Balfour.

Deklarasi ini berisi tentang dukungan Inggris terhadap pendirian negara Yahudi di Palestina. Hal ini disebabkan oleh bangsa Yahudi telah membantu Inggris dalam memenangi Perang Dunia I dan Inggris ingin menguasai Palestina karena berada di daerah strategis di antara Asia, Eropa, dan Afrika. Mandat Inggris dikokohkan dalam Konferensi San Remo tahun 1920 dan pembela Palestina yang utama hilang bersamaan dengan runtuhnya Bani Ustmaniyah pada tahun 1924.

Berdirinya negeri Israel diinspirasi oleh Theodor Herzl, penggagas gerakan zionisme, yang pada Tahun 1896 mengeluarkan usulannya untuk mendirikan negara Israel di Palestina. Hal ini disebabkan bangsa Yahudi yang terpencar dan tidak memiliki tanah air sejak Romawi menguasai Palestina. Akhirnya, beberapa orang Yahudi mendirikan koloni di daerah Palestina.

Sejak awal, kaum Yahudi melegitimasi kaumnya sebagai “bangsa pilihan Tuhan” (the choosen people) di antara bangsa-bangsa lain. Menurut mereka, Tuhan menciptakan alam semesta ini untuk mereka. Tuhan menciptakan bangsa-bangsa lain semata-mata hanya untuk mengabdikan diri kepada mereka. Sikap ini tentu bertentangan dengan hati nurani manusia. Kaum yang dulu pergi dan tidak menghendaki tanahnya, kini kembali meruak untuk mengambil alih tanah suci Palestina (Yarussalem). Padahal mereka telah mengubah sejarahnya sendiri dan tidak mensyukuri apa yang telah ditetapkan Tuhan dan Nabi-nabi yang mereka ungguli.


@tebuireng.online

Fakta & Sejarah Gadis Penghibur " Geisha " Jepang




Geisha seakan menjadi “mahluk” misterius dan menjadi salah satu profesi tradisional yang sering disalah artikan.

Tak kurang Arthur Golden menerbitkan buku yang berjudul Memoirs of a Geisha yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama.

Dalam bahasa Jepang, geisha berarti “orang seni” atau orang yang terampil dalam seni tradisional Jepang seperti musik, tari, menyanyi, dan upacara minum teh.

Pada awalnya, pria yang mengambil peran ini. Seiring jumlah pria yang tertarik menekuni bidang ini menurun, maka para wanita segera mengambil alih.

Sebagian wanita yang menjadi geisha merupakan mantan pelacur, tapi sebagian besar tidak.

Tradisi geisha yang dilakoni perempuan kemudian semakin tertanam kuat. Mereka memiliki hierarki dan kode etik yang ketat.

Sebagian besar geisha tinggal di sebuah rumah yang disebut okiya, yang dimiliki oleh seorang wanita yang biasanya mantan geisha.

Kebanyakan okiya memiliki geisha utama, para magang, dan pelayan.

Tak jarang para gadis dijual kepada okiya. Mereka tidak bisa pergi sebelum melunasi biaya pembelian mereka kepada pemilik okiya.

Gadis-gadis ini lantas dilatih di sekolah-sekolah lokal dan memiliki guru yang mengkhususkan diri dalam berbagai bidang seperti shamisen, tari, flute, drum, dan upacara minum teh.

Saat mereka mendekati usia magang, okiya akan bernegosiasi dengan geisha senior untuk menjadi mentor magang atau “kakak”.

Sang kakak akan membantu mempromosikan si magang dan mengajarinya seni menghibur di pesta-pesta, mulai dari cara memulai percakapan cerdas sampai cara menuang sake.

Sang kakak akan mendapatkan sebagian upah si adik sebagai biaya pelatihan yang dulu telah diberikannya.

Kebanyakan orang mengira geisha adalah pelacur. Faktanya, geisha sejati jarang terlibat hubungan seksual dengan pelanggannya. Peran utama geisha adalah sebagai penghibur.

Para geisha biasanya dipanggil ke pesta dimana mereka bertugas menghidupkan suasana dengan menari, menyanyi, atau cara lain.

Seorang geisha mungkin memiliki pelindung pribadi atau danna. Hubungan ini biasanya bersifat seksual, meskipun terjadi di luar lingkungan kerja normal.

Danna pada umumnya seorang pria kaya yang mampu membayar biaya sekolah, pelajaran, resital pribadi, dan bahkan pakaian seorang geisha.

Dengan memiliki danna, seorang geisha mampu memutuskan hubungan dengan okiya dan hidup secara mandiri jika dia menginginkannya.

Geisha mempelajari berbagai seni tradisional Jepang dengan serius, bahkan hingga sekarang. Jumlah mereka terus menurun, namun masih ada wanita Jepang yang tetap melakoninya.

Wilayah Jepang yang paling terkenal dengan geisha nya adalah Kyoto.

Wisatawan masih bisa melihat gadis-gadis muda ini memakai kimono penuh ornamen dan menjalankan peran tradisional berusia berabad-abad sebagai penghibur.


Amazine.co 

Friday, December 15, 2017

Riwayat Hari Ibu Di Indonesia




Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional setiap tanggal 22 Desember. Tanggal itu dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Google doodle bahkan memajang gambar untuk memperingati Hari Ibu 2016.

Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, karena hari itu diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.

Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, 22-25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jalan Brigjen Katamso, Yogyakarta. 

Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra yang kemudian melahirkan terbentuknya Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia pada abad ke-19 seperti Kartini, Christina Martha Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan lainnya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.

Agenda utama Konggres Perempuan Indonesia I adalah persatuan perempuan nusantara, peranan perempuan dalam perjuangan kemerdekaan, peranan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu dan balita, hingga pernikahan usia dini bagi perempuan, dan lain sebagainya.

Kongres Perempuan Indonesia II kemudian digelar Juli 1935. Dalam konggres ini dibentuk BPBH (Badan Pemberantasan Buta Huruf) dan menentang perlakuan tidak wajar atas buruh wanita perusahaan batik di Lasem, Rembang. 

Peringatan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember baru ditetapkan pada Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938. Secara resmi tanggal 22 Desember ditetapkan sebagai Hari Ibu oleh Presiden Soekarno melalui melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 menetapkan bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional hingga saat ini.

Khusus di Bandung, peringatan Hari Ibu 2016 dipusatkan di Alun-alun Kota Bandung, Kamis 22 Desember 2016.

Thursday, December 14, 2017

Kota Yerusalem Tempo Dulu Kala Agama Disana Hidup Berdampingan


Dok.Library of congress

Ketegangan di kawasan Jalur Gaza kian meningkat menyusul pernyataan kontroversial Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Pekan lalu, Trump mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel. Pernyataan ini diikuti pula oleh pemindahan Kedutaan Besar AS ke Yerusalem.

Pernyataan kontroversial itu pun menuai kecaman dunia. Bahkan PBB menilai bahwa langkah itu akan mengganggu resolusi perdamaian antara Palestina dan Israel. Sebaliknya, hal ini justru akan meningkatkan ketegangan antara keduanya.

Jauh sebelum konflik ini mencuat, Yerusalem pernah menjadi tempat yang menyenangkan dimana tiga agama, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi hidup saling berdampingan dalam masyarakat yang rukun.

Berikut merupakan  foto langka yang merekam aktivitas di Yerusalem pada tahun 1930-an. Foto-foto ini merupakan koleksi dari Library of Congress.

Yerusalem di tahun 1930-an (Library of Congress)


















      : Tribun Jogja