Showing posts with label Olah raga. Show all posts
Showing posts with label Olah raga. Show all posts

Monday, December 25, 2017

Mencari Tahu Fakta & Sejarah Kejuaraan Tenis Wimbledon




Kejuaraan Wimbledon (The Championships, Wimbledon) merupakan ajang tenis bergengsi yang menjadi salah satu dari empat turnamen tenis Grand Slam.

Karena kata “the Championships, Wimbledon” dianggap terlalu panjang, kebanyakan orang merujuk ke kompetisi tenis bergengsi ini hanya sebagai “Wimbledon.”

Kejuaraan ini menarik perhatian pemain tenis terkemuka dari seluruh dunia dan diliput media dengan skala global.

Penggemar tenis juga berdatangan dari berbagai lokasi di seluruh dunia untuk melihat Wimbledon secara langsung.

Wimbledon diselenggarakan oleh All England Lawn Tennis and Croquet Club sejak tahun 1877, sehingga menjadi turnamen tenis tertua yang masih berlangsung.

Kejuaraan ini diselenggarakan di lapangan milik All England Club di Wimbledon, sebuah distrik London Selatan, dan merupakan satu-satunya even Grand Slam yang dilakukan di lapangan rumput alami.

Secara tradisional, turnamen ini berlangsung 13 hari, dimulai pada hari Senin bulan Juni yang jatuh antara tanggal 20 hingga 26, dengan pemain tidak bertanding pada hari minggu di tengah jadwal turnamen.

128 orang pemain bersaing dalam pertandingan tunggal putra dan putri, dengan 64 pasangan berpartisipasi dalam ganda putra dan putri, dan tambahan 48 pasangan bersaing di ganda campuran.

Pemenang tunggal putra akan menerima piala cangkir emas berukir, sementara pemenang tunggal putri menerima Rosewater Dish, sebuah piringan perak besar.

Pemenang dalam kategori lainnya mendapatkan piala cangkir perak, dengan runner up berhak atas piring perak.

Partai tunggal biasanya paling menarik bagi penonton dan media karena menampilkan bintang-bintang besar tenis pada saat itu.

Seperti yang bisa Anda bayangkan, dengan waktu penyelenggaraan pendek dan banyaknya peserta, turnamen Wimbledon bisa cukup melelahkan bagi para atlet.

Penonton turnamen Wimbledon biasanya dianjurkan memakai pakaian yang cukup resmi untuk menghormati acara tersebut, sementara atlet diharapkan memakai pakaian tenis berwarna putih, dengan tidak lebih dari lima persen dari pakaian mereka memiliki warna lain.

Staf pendukung seperti pemungut bola dan wasit juga memiliki kode pakaian tersendiri.

Selain Wimbledon, Amerika Serikat Terbuka, Australia Terbuka, dan Prancis Terbuka juga dianggap sebagai turnamen Grand Slam.

Atlet yang berhasil menjuarai keempat turnamen Grand Slam dianggap sebagai pemain tenis terbaik di dunia.



Amazine.co

Tuesday, November 28, 2017

RIWAYAT SINGKAT PERSEBAYA & AWAL MULA BONEK



Jawa Timur khususnya Surabaya adalah kota yang memiliki banyak cerita dan lebih maju daripada kota-kota lain pada era kolonial. Hal ini karena dinamika yang terjadi di Surabaya sebagai kota pelabuhan, kota dagang, dan kota industri pada abad ke-19 sehingga membuat kota itu begitu maju, bahkan sebelum pemerintah kolonial Belanda datang ke sana.

Kemajuan ekonominya menjadi sangat penting. Kosmopolitannya sudah berkembang sebagai kehidupan masyarakat Hindia Belanda saat itu. Tidak seperti di Batavia di mana sebagai pusat pemerintahan yang banyak aturan, kalau Surabaya adalah wilayah bisnis dan industri yang agak berjarak dari kekuasaan, lebih terbuka, tidak kelihatan sopan santun seperti di wilayah-wilayah lain seperti Yogyakarta atau Surakarta yang ada kerajaan.

Surabaya memang selalu menempatkan diri sebagai suatu wilayah yang merdeka dari kekuasaan pusat. Surabaya bahkan disebut sebagai kota paling Eropa di Hindia Belanda.

Bicara tentang Surabaya, tentu tidak bisa lepas dari Persebaya Surabaya. Bahwa secara historis, Persebaya punya perjalanan panjang dalam perkembangan kota Surabaya. 

Apalagi jika merujuk kepada SIVB (Soerabaiasche Indische Veotbal Bond) 1927 sebagai cikal bakal Persebaya, menjadi klub yang didirikan oleh orang-orang bumiputera di Surabaya untuk lebih bisa mengembangkan permainan sepakbola.

Persebaya diakui sebagai dua entitas yang saling berkaitan antara SVB (Soerabaiasche Voetbal Bond) yang didirikan di tahun 1910-an dan SIVB. Maka usia Persebaya sudah lebih dari satu abad. 

Dari usia tersebut, tentu saja Persebaya tidak bisa dihilangkan begitu saja di dalam sejarah Surabaya dan di memori serta benak masyarakat. Persebaya bukan hanya warisan kota yang harus dicintai dan dilestarikan, tapi bagian dari sejarah Surabaya itu sendiri.

Oleh sebab itu, tidaklah mengherankan apabila masyarakat Surabaya begitu mencintai Persebaya, terlebih lagi bagi suporter Persebaya yaitu Bonek.

Istilah 'Tret tet tet' yang Mengakar ke Segalanya

Membicarakan Persebaya, juga berarti tentang masyarakat Surabaya yang tegas dalam bersikap dan tidak ragu melawan kesewenang-wenangan. Sikap itulah yang ditunjukan oleh Bonek dalam beberapa waktu terakhir ini selama melakukan aksi 'Bela Persebaya' akibat pembekuan dari PSSI sejak 2013. 

Pembekuan itu dianggap kesewenang-wenangan yang dilakukan PSSI. Pasalanya PSSI yang lebih mengakui status Persebaya ciptaan PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB) daripada PT Persebaya Indonesia (PI). Padahal, Bonek menganggap Persebaya yang asli adalah kesebelasan yang digawangi PT PI dan kini diakuisisi PT Jawa Pos Sportaiment.

Namun, Persebaya yang asli bagi Bonek itu akhirnya dipulihkan kembali statusnya pada Kongres PSSI 8 Januari lalu. Perjuangan Bonek sekitar empat tahun lebih itu pun disambut bahagia dan "Persebaya yang asli" bagi mereka sudah bisa berkompetisi resmi lagi pada tahun ini. Alhasil, Bonek pun menjadi pahlawan sepakbola di masyarakat Surabaya. 

Padahal, sekitar 1990-an sampai awal 2000-an, Bonek dianggap sebagai ancaman sekaligus bahan lawakan di mata masyarakat dan kelompok suporter sepakbola lain di Indonesia. 

Semua stigma itu berawal dari istilah tret tet tet yang menjadi demam di sepakbola Surabaya pada akhir 1980-an. Istilah tret tet tet lahir ketika Persebaya melaju ke babak enam besar kompetisi Perserikatan 1986/1987, mengambil dari suara terompet yang berbunyi 'tet, tet, tet!' Bunyi itu dijadikan seruan di halaman depan pojok kiri bawa yang menghabiskan dua kolom koran Jawa Pos edisi 4 Maret 1987 itu.

Kemudian "tret tet tet" yang diciptakan Dahlan Iskan yang menjabat Pimpinan Redaksi Jawa Pos pada waktu itu pun menjadi istilah laga tandang tersendiri bagi pendukung Persebaya. Mungkin zaman sekarang "tret tet tet" bagi suporter sepakbola pada umumnya lebih dikenal dengan istilah laga tandang, bertandang atau away days.

Tapi bagi kalangan pendukung Persebaya, istilah ikonik melancong ke kandang lawan adalah tret tet tet. Bahkan sampai sekarang pun beberapa kelompok pendukung Persebaya atau media-media Surabaya masih memakai istilah tret tet tet ketika kesebelasannya bertandang ke kandang lawan. 

Dukungan semakin deras ketika Persebaya bangkit pada kompetisi Perserikatan 1986/1987 hingga menjadi juara kedua. Pada laga puncak itulah nama tret tet tet semakin sah menjadi ikon dari pendukung Persebaya yang menyaksikan pertandingan di luar Surabaya. 

Apalagi saat partai puncak melawan PSIS Semarang, tentu saja banyak pendukung Persebaya yang ingin menjadi saksi sejarah secara langsung di Stadion Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta. Saat itulah Jawa Pos membuka pendaftaran bertema tret tet tet yang menjadi fenomena di kalangan pendukung Persebaya.

Asal UsuI istilah bonek

Kemudian barulah istilah Bonek muncul di antara bibir ke bibir pada kompetisi perserikatan musim berikutnya. Lagi-lagi istilah dari Persebaya itu muncul karena cerita-cerita laga tandang atau Tret tet tet.

Istilah Bonek muncul dari mulut ke mulut karena para pendukung Persebaya dari masyarakat bawah sering nekat melakukan tret tet tet dengan dana yang sangat minim bahkan untuk membeli tiket transportasi umum pun tidak mampu. 

Akan tetapi, kondisi itu tidak dipedulikan masyarakat kalangan bawah yang berpartisipasi dalam Tret tet tet Persebaya. Toh masih ada berbagai macam truk atau mobil bak terbuka yang bisa ditumpangi, bahkan menjadi penumpang gelap di gerbong dapur, gudang, atap kereta pun sanggup dilakoni mereka.

Di sisi lain, tidak semua Bonek tidak memiliki uang untuk membayar alat transportasi. Terkadang mereka ingin merasakan sensasi bagaimana tret tet tet dengan risiko tinggi seperti itu. 

Dulu itu belum ada istilah Bonek, istilah Bonek itu baru muncul pada 1988/1989. Istilah ini pun sebenarnya istilah masyarakat, bukan istilah yang ditelurkan oleh Jawa Pos (Slamet Oerip Prihadi, mantan jurnalis dan redaktur Jawa Pos 1980-an). 

Istilah umum, suporter Persebaya kan banyak yang berasal dari kalangan bawah, mereka itu sering nekat, naik truk dengan uang seadanya berangkat ke Senayan, berangkat ke kota lain, itulah awal munculnya istilah Bondho Nekat (modal nekat).

Kemudian istilah Bondho Nekat yang disingkat Bonek itu terus bermunculan di koran-koran Jawa Pos ketika merepresentasikan suporter Persebaya di dalam berita-berita yang dipublikasikan. 

Selanjutnya, Bonek terus berkembang dan bukan rahasia lagi bahwa mereka menjadi salah satu elemen penting bagi Persebaya sampai saat ini. Sekarang mental-mental pemain Persebaya akan diuji kembali oleh Bonek seiring kembalinya berkompetisi resmi di Indonesia. Toh Bonek jugalah yang berperan penting atas kembalinya Persebaya ke kompetisi sepakbola nasional. 

Pandit Football melakukan liputan khusus mengenai Persebaya, Bonek, dan Kota Surabaya di awal Mei ini. Tulisan-tulisan tentang liputan khusus Persebaya, Bonek, dan Surabaya bisa dibaca selengkapnya di Pandit Football.



detik.com