Sunday, November 12, 2017

KITAB KAMASUTRA ORANG BUGIS [ ASSIKALAIBINENG ]



Panduan para lelaki untuk membahagiakan perempuan, baik di dalam maupun di luar kamar tidur.

Dalam tradisi di Luwu, Sulawesi Selatan, setiap calon pengantin akan diberi wejangan tentang bagaimana menggauli, memperlakukan, dan merawat istrinya.

Dapur adalah kiasan untuk perempuan. Artinya seorang laki-laki harus benar-benar mengenal perempuan (istrinya). Mengetahui lekuk dan seluk beluk, sebagaimana mengetahui dapur sebagai tempat menyimpan makanan, dan salah satu sumber kehidupan. Dalam ritual makkandre guru calon pengantin pria tak hanya dinasihati bagaimana membahagiakan istri di ranjang namun juga bagaimana memperlakukan istri dengan cara layak dan terhormat.

Filolog Universitas Hasanuddin Makassar, Muhlis Hadrawi, yang juga menulis buku Assiklaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis, mengatakan jika sejak masa lalu perempuan menjadi simbol kewibawaan yang harus mendapat perhatian lebih. “Di Bugis, perempuan itu adalah makhluk yang mulia.

Sejak 1997 Muhlis telah mengumpulkan sebanyak 49 manuskrip kerajaan dan catatan dari lontara Bugis dan Makassar perihal seksualitas. Menurut Muhlis Assikalibinengtidak seperti kitab persetebuhan yang lain, yang hanya menampilkan erotisme dan sensualitas. Kitab ini menekankan pula pentingnya laku serta tata cara yang berlandaskan rasa saling menghargai.

“Di Assikalaibineng, tidak dibolehkan seorang laki-laki membangunkan sang istri untuk melakukan hubungan seksual, apalagi bila istri sedang capek, “Itu sama saja menjadikan perempuan sebagai budak.”

Assikalaibeng diciptakan sebagai pegangan laki-laki, untuk membahagiakan perempuan. Dalam Assiklaibineng perempuan digambarkan lebih detail hingga bagian tubuh yang tersembunyi. Misalkan, dalam Serat Centini di Jawa atau pun Kamasutra dari India, menyebut klitoris hanya sekali itu saja. Sementara di Assikalaibineng, klitoris disebutkan hingga bagian paling dalam, sampai empat bagian.

“Bayangkan, Assikalaibineng sudah menjelaskan bagaimana foreplay, untuk mencapai klimaks secara bersama,” kata Muhlis. “Jadi kemudian bila ada laki-laki yang lebih duluan klimaks dibandingkan perempuan, maka hubungan itu dianggap gagal.”

Tak hanya itu, masyarakat Bugis pun tak membenarkan seorang lelaki, memberikan punggung atau pindah kamar tidur saat selesai berhubungan seks dengan istri. Melainkan, harus tidur bersama dan saling berpelukan.

Meski demikian, Assikalaibineng adalah kitab yang menjelaskan seks dan hubungannya dengan Islam, dimana semua diawali dengan basmallah dan wudhu. “Jadi Assikalaibinengmenuliskan, bila ingin berhubungan dengan istri, sebaiknya dilakukan setelah salat isya, agar tidak merusak wudhu dan memiliki waktu yang lebih lama sebelum mencapai waktu subuh,” kata Muhlis.

Menurut Muhlis, Assiklaibineng ditulis atau buah pikiran dari Syech Yusuf. Kemudian, pengetahuan-pengetahuan itu terus bertambah dan mengalami reproduksi. “Dari puluhan manuskrip yang saya kumpulkan, semua tak sama persis. Selalu ada penambahan dan improvisasi dalam memandang (hubungan).

Sebelumnya pengetahuan akan seksualitas disebarkan melalui bahasa tutur. Dilakukan secara hati-hati dan dikhususkan pada pasangan yang akan menikah. Dalam lontaraterdapat larangan pernikahan sesama jenis (homoseksual). Hukuman bagi mereka yang melakukan homoseksual adalah pengusiran keluar kampung atau bahkan ditenggelamkan di lautan. Homoseksual dianggap sama dengan perzinahan.

Dalam catatan sejarah, pengusiran juga dilakukan kepada seorang yang hanya memburu kepuasan. Seperti yang pernah terjadi di Bellawa, sebuah kerajaan kecil dalam wilayah Wajo. Dikisahkah tentang seorang raja bernama La Malloroseng membangun rumah di sisi jalan yang hendak ke pasar untuk memantau perempuan yang disenangi untuk ditidurinya. Rakyat yang gusar mengusir sang raja keluar kampung dan membakar rumahnya. Dia pun diberi gelar anumerta Petta Masuange (Tuan Mesum).

Kejadian serupa juga pernah menimpa Raja Bone La Icca. Lontara meriwayatkan sang raja selalu merebut istri orang hanya untuk kepuasannya. Rakyat marah dan menumbuk tubuhnya di bawah tangga istana sampai mati. Maka diberilah raja naas itu mendapat gelar anumerta La Icca Matinroe ri Adengenna (Raja yang tidur di bawah tangga). “Kenapa dia mati ditumbuk, supaya darahnya tidak mengotori tanah.



historia

Related Posts:

  • RIWAYAT "BLACK FRIDAY" DI AMERIKA Black Friday kini dirayakan sebagai harinya perburuan diskon yang jatuh pada hari Jumat setelah perayaan Thanksgiving di Amerika Serikat. Thanksgiving dirayakan di Amerika Serikat pada Kamis, 23 November 2017 kemarin, s… Read More
  • Kisah Awal Film Dewasa Jepang Film dewasa di Jepang berawal sejak Zaman Edo (1603-1886). Namun, bentuknya di masa itu masih lukisan-lukisan erotis dan seksual yang disebut dengan “Shunga” (Spring Pictures). Seiring berkembangnya teknologi, eroti… Read More
  • RIWAYAT RAMBUT GIMBAL & AWAL KEPOPULERANNYA Rambut gimbal pada awalnya identik dengan spiritualitas lalu jadi simbol pemberontakan dan antikemapanan, sebelum luntur jadi sekadar tren fashion. Selain musik yang paling melekat dari sosok Bob Marley dan Mbah Surip a… Read More
  • Riwayat Alkohol Dalam Peradaban Manusia Alkohol telah digunakan sejak awal sejarah manusia. Sesuai dengan temuan arkeologi, anggur telah muncul lebih dari 10.000 tahun lalu. Sejak jaman kuno, alkohol telah digunakan untuk beragam tujuan seperti meningkatkan… Read More
  • KITAB KAMASUTRA ORANG BUGIS [ ASSIKALAIBINENG ] Panduan para lelaki untuk membahagiakan perempuan, baik di dalam maupun di luar kamar tidur. Dalam tradisi di Luwu, Sulawesi Selatan, setiap calon pengantin akan diberi wejangan tentang bagaimana menggauli, memperlaku… Read More

0 komentar:

Post a Comment